Sergai | Sumut24.co
Baca Juga:
Ir H Soekirman kembali mendapat apresiasi melalui sebuah karya sastra Jawa berbentuk tembang macapat yang ditulis oleh Purwadi. Karya berjudul "Dhandhanggula Soekirman Bebrayan" hingga "Maskumambang Pasuwitan Soekirman" tersebut menggambarkan perjalanan hidup, pengabdian, spiritualitas, hingga kiprah sosial Soekirman di bidang pertanian dan pemerintahan.
Dalam karya itu diceritakan bahwa Soekirman lahir pada 6 April 1955 di Perbaungan dan menempuh pendidikan mulai dari SD Pagarjati, SMP Lubukpakam, STM, hingga menyelesaikan pendidikan di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara di Medan. Selain menyoroti perjalanan akademik, tembang tersebut juga mengangkat kehidupan keluarga Soekirman bersama istrinya, Marliah, serta kelima putranya.
Puisi macapat tersebut menggambarkan Soekirman sebagai sosok religius yang tekun menjalankan ibadah dan aktif mengikuti pengajian. Dalam bagian "Pangkur Soekirman Manembah", penulis menampilkan figur Soekirman yang istiqamah menjalankan salat berjamaah dan memperdalam ilmu agama sebagai landasan kehidupan.
Tidak hanya itu, karya sastra ini juga menonjolkan kiprah Soekirman di bidang pertanian organik dan pemberdayaan masyarakat desa. Melalui Yayasan BITRA dan aktivitas sosialnya, Soekirman digambarkan aktif membimbing masyarakat tani, mengembangkan perkebunan, serta mendorong semangat gotong royong dan kemandirian ekonomi warga.
Pada bagian lain, Purwadi juga mengangkat kemampuan Soekirman dalam melestarikan seni dan budaya, termasuk kegemarannya menyanyikan lagu campursari dan tembang macapat. Sosok Soekirman disebut mampu menghadirkan suasana akrab dan mempererat hubungan persaudaraan di tengah masyarakat.
Selain dikenal sebagai tokoh pertanian dan budaya, Soekirman juga dikenang atas kiprahnya sebagai Bupati Serdang Bedagai. Dalam tembang "Mijil Bupati Soekirman", ia digambarkan sebagai pemimpin yang memiliki kemampuan diplomasi, tata pemerintahan yang baik, serta perhatian terhadap literasi dan budaya lokal.
Karya sastra ini ditutup dengan gambaran tentang pengabdian Soekirman kepada masyarakat dan negara hingga masa purna tugasnya. Purwadi menegaskan bahwa dedikasi Soekirman menjadi teladan dalam membangun kebersamaan, kesejahteraan, dan nilai kemanusiaan.
Karya tersebut ditulis di Batang Terap, Perbaungan, Serdang Bedagai, Sumatera Utara, pada Rabu Kliwon, 13 Mei 2026. Rel
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di
Google News