Jumat, 30 Januari 2026

Syamsul Arifin dan Politik Kepercayaan: Mengapa Ia Dikenang sebagai “Sahabat Semua Suku” di Sumatera Utara

Administrator - Jumat, 30 Januari 2026 15:11 WIB
Syamsul Arifin dan Politik Kepercayaan: Mengapa Ia Dikenang sebagai “Sahabat Semua Suku” di Sumatera Utara
Dr. H. Muhammad Daud, S.Ag., MA., Gr.ist
Medan – Di tengah kompleksitas sosial dan kemajemukan etnis Sumatera Utara, nama almarhum H. Syamsul Arifin tetap dikenang sebagai sosok pemimpin yang mampu merawat keberagaman dengan ketulusan dan kedekatan kemanusiaan.

Baca Juga:
Ia bukan hanya hadir sebagai pejabat publik, tetapi sebagai sahabat lintas suku, agama, dan latar belakang sosial. Dari sanalah lahir julukan yang melekat kuat hingga kini: "Sahabat Semua Suku."
Penulis, Dr. H. Muhammad Daud, S.Ag., MA., Gr., yang mengenal almarhum sejak tahun 1992 saat Samsul Arifin menjabat sebagai Ketua DPD KNPI Sumatera Utara, menyampaikan bahwa hubungan yang dibangun almarhum dengan masyarakat bukanlah relasi kekuasaan, melainkan relasi kepercayaan.


"Sejak awal saya mengenal beliau, Pak Samsul Arifin tidak pernah memimpin dengan sekat suku, agama, atau latar belakang apa pun. Ia hadir apa adanya di tengah masyarakat," ungkapnya.


Kepemimpinan Tanpa Sekat Sosial


Dalam pergaulan sehari-hari, Syamsul Arifin dikenal dekat dengan berbagai komunitas: Batak, Melayu, Jawa, Minang, Tionghoa, Nias, Aceh, hingga kelompok masyarakat lainnya di Sumatera Utara. Ia mendengarkan lebih dahulu sebelum mengambil keputusan, sebuah sikap yang membuat setiap kelompok merasa dihargai dan diakui keberadaannya.



Bagi Stamsul Arifin, keberagaman bukanlah sumber konflik, melainkan kekuatan utama dalam membangun kepemimpinan daerah. Ia memahami bahwa Sumatera Utara adalah wilayah dengan dinamika sosial dan politik yang kompleks. Tanpa kepekaan sosial, gesekan horizontal sangat mudah terjadi.


Lahirnya Julukan "Sahabat Semua Suku"


Julukan "Sahabat Semua Suku" pertama kali diucapkan oleh almarhum Latupariska, Ketua FKPPI Sumatera Utara, dalam sebuah pertemuan di rumah Samsul Arifin. Saat itu, rumah almarhum dipenuhi tamu dari berbagai kalangan, profesi, dan etnis.
Sejak diucapkan, julukan tersebut langsung diterima luas oleh masyarakat karena bukan slogan politik, melainkan pengakuan sosial yang lahir dari pengalaman langsung masyarakat terhadap kepemimpinan Samsul Arifin.


Pendekatan Dialog, Bukan Kekuasaan


Dalam memimpin, Syamsul Arifin tidak mengandalkan pendekatan kekuasaan semata. Ia lebih mengutamakan dialog dan pendekatan kultural melalui tokoh adat, tokoh agama, serta tokoh masyarakat. Dalam situasi sensitif, ia memilih hadir langsung di tengah masyarakat, bukan bersembunyi di balik meja birokrasi.


Ia memberikan ruang bagi semua pihak untuk merasa memiliki Sumatera Utara. Pendekatan ini menciptakan rasa kebersamaan dan tanggung jawab kolektif dalam menjaga stabilitas daerah.
"Kondusivitas Sumatera Utara pada masa itu tidak terjadi dengan sendirinya. Ia dikelola melalui kepemimpinan yang inklusif, kolaboratif, dan berani," jelas Daud.


Kedekatan Emosional dengan Rakyat


Salah satu ciri utama kepemimpinan Samsul Arifin adalah kedekatan emosional dengan rakyat. Ia dikenal sangat rajin menghadiri undangan masyarakat, baik dalam suasana suka cita maupun duka cita. Mengunjungi keluarga yang sedang berduka adalah hal yang kerap ia lakukan, tanpa protokoler berlebihan.


Sikap ini membuatnya dikenal, diingat, dan dipercaya. Ia bukan pemimpin yang berjarak, tetapi pemimpin yang hadir di tengah-tengah masyarakatnya.


Politik Kepercayaan, Bukan Identitas


Keberhasilan Syamsul Arifin membangun koalisi lintas kelompok—baik elit politik, birokrasi, maupun akar rumput—merupakan kemampuan langka. Dukungan kepadanya datang secara alami, bahkan lintas partai, lintas suku, dan lintas agama.


Ia terpilih bukan karena politik identitas, melainkan karena politik kepercayaan. Ia memandang dirinya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat yang dipimpinnya.


"Dalam politik, rakyat sebenarnya sederhana. Mereka memilih pemimpin yang mereka percaya, yang tidak berjarak, dan mau hadir di tengah mereka," kata Daud.


Memimpin dengan Hati


Bagi penulis, Syamsul Arifin adalah contoh nyata bahwa memimpin daerah—bahkan negara—tidak cukup hanya dengan kekuasaan dan kewenangan formal. Kepemimpinan sejati lahir dari hati, empati, dan ketulusan.


"Ketika seorang pemimpin memimpin dengan hati, maka rakyat dari semua latar belakang akan datang dengan sendirinya," tutup Daud.

oleh :
Penulis: Dr. H. Muhammad Daud, S.Ag., MA., Gr.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Sumber
:
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Begini Cerita Unik Petinju Legendaris Syamsul Anwar, Jadi Legenda Walau Tangan Kanan Mengidap Polio
komentar
beritaTerbaru