Jumat, 16 Oktober 2026

Eks Kombatan GAM Ramai Hijrah ke Partai Nasional

Administrator - Kamis, 09 Juli 2026 08:52 WIB
Eks Kombatan GAM Ramai Hijrah ke Partai Nasional
Pengamat politik Aceh, Usman Lamreung. Foto.ist
sumut24.co - Banda Aceh

Baca Juga:

Perpindahan sejumlah mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dari Partai Aceh (PA) ke sejumlah partai politik nasional kembali menjadi perhatian publik. Fenomena yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir itu dinilai sebagai bagian dari dinamika demokrasi, sekaligus mencerminkan perubahan orientasi politik para mantan pejuang pascaperdamaian Aceh.


Sejumlah elite Komite Peralihan Aceh (KPA) diketahui memilih bergabung dengan partai nasional, seperti Gerindra, PDI Perjuangan, hingga Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Kondisi tersebut memunculkan beragam penilaian, termasuk spekulasi mengenai kekuatan Partai Aceh sebagai partai lokal yang lahir dari amanat perdamaian.


Pengamat politik Aceh, Usman Lamreung, menilai perpindahan tersebut tidak bisa langsung dimaknai sebagai melemahnya Partai Aceh. Menurutnya, setiap aktor politik memiliki hak menentukan pilihan berdasarkan pertimbangan strategis dalam memperjuangkan kepentingan daerah.


"Fenomena berpindahnya sejumlah mantan kombatan Aceh dari Partai Aceh ke partai-partai nasional merupakan dinamika politik yang wajar dalam demokrasi. Loyalitas politik saat ini tidak lagi semata dibangun atas ikatan historis perjuangan, tetapi juga dipengaruhi oleh akses terhadap kekuasaan, peluang politik, dan kepentingan pembangunan daerah," kata Usman, Kamis (9/7/2026).


Usman menjelaskan, Partai Aceh hingga kini tetap memiliki basis massa, jaringan kader, dan identitas politik yang kuat. Namun, sebagian mantan kombatan mulai memandang penting membangun akses politik di tingkat nasional karena banyak kebijakan strategis Aceh ditentukan pemerintah pusat.


"Membangun komunikasi politik di tingkat nasional menjadi pilihan yang dinilai strategis agar aspirasi Aceh dapat diperjuangkan secara lebih efektif," ujarnya.


Di sisi lain, ia mengingatkan fenomena tersebut juga menjadi momentum evaluasi bagi Partai Aceh untuk memperkuat konsolidasi internal, mempercepat regenerasi kepemimpinan, dan menjaga soliditas organisasi.


Menurut Usman, dampak perpindahan tersebut terhadap kekuatan elektoral Partai Aceh baru akan terlihat pada pemilu mendatang. Jika konsolidasi mampu dijaga, pengaruhnya diperkirakan tidak signifikan. Namun, bila migrasi politik terus meluas tanpa pembenahan internal, peta politik Aceh berpotensi mengalami perubahan.


"Fenomena ini lebih tepat dipahami sebagai transformasi orientasi politik, bukan sekadar perpindahan loyalitas. Pada akhirnya, masyarakatlah yang akan menentukan arah politik Aceh melalui pemilu mendatang," pungkas Usman. (Bus)

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Sumber
:
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Kapolres Asahan Pimpin Apel Kesiapan Pengamanan, 457 Personel Siaga Kawal Pilkades Serentak 2026
Bukan Cuma Padangsidimpuan, Peserta dari Sumut hingga Aceh Ikut RAP Marlojong Fun Run Bhayangkara 2026
Samsung Galaxy A08 Resmi Meluncur di Indonesia, Baterai 6.000 mAh, Fitur AI, dan Update 6 Tahun Mulai Rp2 Jutaan
Perkuat Sinergi Dengan BPN Aceh, PLN Dorong Percepatan Sertifikasi Dan Pengamanan Aset Negara
Muktarrudin Usman Nahkodai KSMI Aceh, Tekad Kembangkan Sepakbola Mini
Ketua PSI Soroti Anggaran Rehab Masjid Jeunieb
komentar
beritaTerbaru