Melampaui Sekat Negara-Bangsa: Dekonstruksi Hukum Kewarganegaraan Menuju Kosmopolitanisme Universal
Melampaui Sekat NegaraBangsa Dekonstruksi Hukum Kewarganegaraan Menuju Kosmopolitanisme Universal
kota
Jakarta | SUMUT24
Baca Juga:
Dalam waktu yang berdekatan tiga lembaga survei yaitu Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Media Survei Nasional (Median) dan Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI) merilis hasil survei mereka terkait dengan elektabilitas calon presiden menjelang Pemilu 2019. Hal yang menarik dari hasil survei ketiga lembaga survei ini adalah soal elektabilitas Joko Widodo dan Prabowo Subianto.
Hasil survei SMRC menyatakan elektabilitas Jokowi 38,9%. Median menyebutkan elektabilitas Jokowi 36,2 % sedangkan berdasarkan hasil survey KedaiKopi hanya 44,9% responden yang memilih Jokowi. Sebagai petahana elektabilitas dibawah 50% tidak aman bagi Jokowi.
Sementara itu elektabilitas Prabowo yang merupakan saingan Jokowi di Pilpres 2014 yang juga disebut-sebut sebagai penantang terkuat di Pilpres 2019 juga tidak menggembirakan. Bahkan elektabilitas Prabowo jauh di bawah Jokowi. Hasil survei SMRC elektabilitas Prabowo 12,0% sedangkan hasil survei Median angka Prabowo lebih baik 23,2 % namun tetap tertinggal jauh dari Jokowi. Mencermati hasil survei ketiga lembaga survei ini, pemerhati politik yang juga Direktur Mahara Leadership Iwel Sastra mengatakan, ini merupakan peringatan dini bagi Jokowi.
“Karena untuk petahana elektabilitas di bawah 50% itu berada pada batas yang tidak aman jika nanti ingin kembali maju dalam kontestasi politik. Bagi Prabowo sendiri menunjukkan bahwa Prabowo belum berhasil menjaga elektabilitasnya sehingga keinginan Prabowo untuk bisa kembali head to head dengan Jokowi seperti pilpres 2014 tidak terwujud,” kata Iwel dalam keterangan tertulisnya, Selasa (10/10).
Elektabilitas Jokowi dan Prabowo yang masih kurang menggembirakan ini merupakan indikasi ada keinginan dari masyarakat munculnya calon alternatif. “Salah satu kandidat yang memiliki potensi untuk itu adalah Panglima TNI Gatot Nurmantyo. Memang hasil survei Gatot masih kecil itu karena Gatot masih menjabat sebagai Panglima TNI yang tidak dibolehkan berpolitik praktis sehingga Gatot belum melalukan kerja politik untuk mendongkrak elektabilitasnya,” urai dia.
Menurut Iwel ini momentum memunculkan tokoh-tokoh yang sudah memiliki modal popularitas dan pengalaman masuk dalam bursa bakal calon Presiden. Meskipun Pilpres diadakan tahun 2019 namun prosesnya sudah mulai berlangsung tahun depan.
“Nama-nama yang layak untuk mulai dimunculkan selain Panglima TNI Gatot Nurmantyo, Ketua MPR Zulkifli Hasan, Gubernur NTB Tuan Guru Bajang dan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan,” tutup dia. (red)
Melampaui Sekat NegaraBangsa Dekonstruksi Hukum Kewarganegaraan Menuju Kosmopolitanisme Universal
kota
PPMDH TPI Medan Gelar Pesta Kuliner Kemerdekaan, Santri Diajak Jadi Generasi Penerus Bangsa
kota
Di India Jumhur Sayangkan Negara Besar Mundur dari Tanggungjawab Kolektif Pulihkan Lingkungan
News
Momen Kebangsaan Jokowi, Prabowo dan Gibran dalam Satu Bingkai
News
Medan sumut24.co Kemeriahan dan gelak tawa mewarnai perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang diselenggara
kota
HUT RI ke81, Pemkab Solok Gelar Beragam Lomba AntarOPD
kota
Resmi Peroleh SKT di Kesbangpol Sumut, Ketua DPW FP NTT Kami Siap Berkolaborasi
News
Polda Sumut Berangkatkan 25 Ton Bantuan Kemanusiaan Tahap Pertama untuk Korban Gempa NTT
kota
Wayang &ldquoAbiyasa Madeg Brahmana&rdquo Tandai Purna Tugas Prof. Dr. Lasiyo di Fakultas Filsafat UGM
kota
Spanduk &ldquoIrsyadi dan KroniKroninya Kuasai Pemerintah Aceh&rdquo Muncul di Simpang Surabaya
News