Senin, 23 Februari 2026

Perkembangan Teater di Era Milenia Terbilang Miris

Administrator - Selasa, 05 Desember 2017 03:47 WIB
Perkembangan Teater di Era Milenia Terbilang Miris

MEDAN | SUMUT24

Baca Juga:

Perkembangan Teater di Sumatera Utara yang begitu mencengangkan dengan kegemilangan dan kejayaannya dalam rentangan 6 dasawarsa tiba-tiba seperti amblas dalam kegelapan tak bernama. Setelah 1990-an, teater di Sumut seperti kegilangan marwah, tak bisa membaca peta dan tersesat dalam jalan yang berbentuk.

Perkembangan teater di Sumut yang gemilang ternyata tidak sebanding dengan jejak literasi yang mampu mengembangkan wacana, budaya proses, kritik dan diskusi teater.

Generasi di era 2000-an tak dapat membaca jejak yang telah ditorehkan generasi sebelumnya. Akibatnya, proses regenerasi melambat. Bahkan nyaris habis. Teater tiba-tiba menjadi makhluk asing di era milenia yang serba instan dan cepat ini.

“Spirit teater yang menghendaki adanya pertemuan face to face dihabisi sebuah teknologi yang memutus batas-batas teritorial dan ruang-ruang di tubuh kita,” ungkap Ketua Malam Renungan Teater 2017 yang juga pimpinan di Teater Rumah Mata, Agus Susilo kepada wartawan, Senin (4/12).

Dia menambahkan, ketika arus informasi membombardir segala ruang di sekeliling manusia era 2000-an dengan kemajuan teknologi yang melesat, insan teater tidak siap menghadapi gelombang dinamika perubahan zaman. Teater di Sumut gagap dengan berbagai perubahan sehingga mengalami stagnasi kreatifitas.

Kuantitas kegiatan teater di era 2000-an tidak sanggup memberikan dorongan perubahan terhadap dramaturgi, metode penciptaan, dan pengembangan teater-teater di Sumut itu sendiri.

Teater di Sumut, menurutnya, seperti bertarung di tempurung besar yang menggelapkan tiga kesadaran dasar instan dalam membaca tubuhnya sendiri. Aktivitas dan kreatifitas membaca insan teater perlu dibuka dari kegelapan tempurung itu agar tubuh-tubug teater mampu bersinergi dengan arus perubahan zaman.

“Paradoksal arus gerak teater Sumut semestinya dibaca cermat dengan spirit gotong royong, perubahan zaman yang melesat cepat bagai jet tempur berbanding terbalik dengan gerak teater Sumut yang tiba-tiba macet,” ujarnya.

Malam Renungan Teater 2017, kata dia, menjadi momen penting untuk ritual pembacaan tubuh teater Sumut ini. Salah satu jalan untuk menghidupkan kembali etos-etos kerja insan teater di Sumatera Utara.

Bila etis kerja ini lahir otomatis budaya proses, pengembangan wacana, komunikasi kreatif akan berkembang dengan sendirinya. Masyarakat luas pun akan berbondong-bondong menghadiri perayaan kreatifitas yang selalu disajikan di panggung-panggung teater, baik yang indoor dan outdoor. Malam Renungan Teater yang akan diselenggarakan pada Jumat – Minggu (29-31 Desember 2017) sebagai titik tolak membaca masa lalu, kini dan esok tubuh teater di Sumut.

Pembacaan ini diharapkan mampu memberi spirit perubahan pada teater di Sumut. Aktifitas membaca membutuhkan kreatifitas yang total pula untuk membongkar, menyusun, dan menggerakkan seluruh elemen yang memengaruhi ekosistem teater. Pembacaan itu menuntut untuk bergerak dinamus di ruang internal dan eksternal tubuh teater.

“Perjalanan teater Sumut yang panjang jangan sampai membuat terlena dalam lorong romantisme yang menggelapkan kesadaran. Sejarah bukanlah sesuatu yang dipahami sebagai kebanggaan masa lalu namun sebagai mesin pendorong agar selalu awas dan waspada untuk melakukan gebrakan-gebrakan kreatifitas bersinergi dengan arus perubahan zaman,” katanya.

Pembacaan kondisi teater Sumut di masa lalu dan kini, lanjutnya, berkaitan dengan identitas, genre, metode, pola kerja akan memengaruhi kerja dramaturgi, metode penciptaan dan pengembangan teater Sumut di masa depan.

Permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan etos kerja, infrastruktur, kebijakan-kebijakan pemerintah yang seakan-akan menjadi hantu dalam melahirkan budaya proses seharusnya dapat diselesaikan bersama jika mampu memahami alur rantai produksi teater.

Dia menambahkan, harus diakui bahwa setiap hentakan nafas saat ini berada di ruang digital dan industrial. Ruang yang membentuk tubuh revolusioner dan sistemik. Tentunya juga akan membentuk citra teater di kalangan generasi mudan dan penonton.

Rantai produksi teater yang berangkat dari gagasan dan riset membentuk ruang-ruang sendiri antara insan teater dan metode penciptaannya dalam masyarakat dengan penonton/publik memengaruhi pengelolaan pengetahuan teater yang akan memberikan nilai tawar kepada negara. (rel)

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
SHARE:
beritaTerkait
Menteri Zulkifli Hasan Apresiasi Jawa Timur sebagai Provinsi dengan SPPG Bersertifikasi SLHS Terbanyak
Mengenal Yendra Fahmi: Pemilik Dealer Mercedez Benz Terbesar di Indonesia
Erick Thohir Hadiri Buka Puasa FKPLP, Pererat Solidaritas Warga Lampung di Perantauan
Impor BBM
Gagal Kabur Lewat Atap, Pengedar Sabu 1,18 Gram Ditangkap di Kisaran Timur
Sindikat Narkoba Jaringan Internasional Ditangkap di Tanjung Balai-Asahan
komentar
beritaTerbaru
Impor BBM

Impor BBM

Impor BBMOleh Dahlan Iskan Senin 23022026 (Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyaksikan penandatanganan 11 nota kesepahaman (

News