KEBANGKITAN atau KEBANGKRUTAN NASIONAL?

245

KEBANGKITAN atau KEBANGKRUTAN NASIONAL?

Oleh : Syahrir Nasution, SE.MM. Managing Director PECI – Indonesia

Spektrum Kebangkitan Nasional , Perjalanan Bangsa dalam Perspektif Ekonomi dan Politik hari ini yg sama2 kita rasakan dan hadapi bersama telah meluluh lantakkan tatanan kehidupan sosial masyarakat.
Kenapa demikian, timbul suatu pertanyaan di benak sanubari kita yg mendalam mengiris ngiris paru paru kita sbg anak bangsa bak Covid Corona 19 yg sedang mewabah.

Kita sadar bahwa perjalanan Kebangkitan Bangsa Indonesia sudah mencapai lebih dari satu abad ( 112 . Thn – 20 Mei 2020. ), jika dihitung sejak 20 Mei 1908. Kebangkitan Nasional adalah: masa dimana bangkit nya rasa dan spirit (semangat) persatuan, kesatuan dan Nasionalisme serta kesadaran utk memperjuangkan Kemerdekaan Republik Indonesia ini.
[21/5 15:11] syahrir nst binjai: Masa ini ditandai dng dua peristiwa yaitu berdiri nya BOEDI OETOMO ( 20 Mei 1908), dan ikrar Soempah Pemoeda ( 28 Oktober 1928 ).

Namun barangkali ,jangan kita pusingkan “ Apa itu definisi harfiah” HARKITNAS tsb, tetapi yg terpenting adalah: bagaimana memaknai “ SUBSTANSI” & HAKIKAT Kebangkitan Nasional tsb dlm meneruskan perjuangan para pendahulu kita konteks nya saat ini. Dalam konteks inilah ,kita semua komponen sbg anak bangsa yg memiliki “SENSE of BELONGING” ( rasa memiliki) di tanah air tercinta saat ini , lunturnya kecintaan thd rasa kebangsaan & Ke Indonesiaan di tataran masyarakat umum , merupakan peringatan awal ( Starting Warning) yg menafikan perjuangan para pendahulu kita dan mentata Republik yg diberi nama INDONESIA. Kecendrungan mengikuti “ Role Model” dari ikon ikon negara Asia Timur dan negara Barat adalah orientasi kebudayaan kebanyakan masyarakat Indonesia hri ini yg salah kaprah. Namunbegitu luas nya, Spektrum Kebangkitan Nasional itu dari segi Nasionalisme itu sendiri lalu disusul dng Ekonomi, Politik , Sosial , Hukum & Budaya. Rasanya perlu membuka mata hati kita secara parsial namun “ sangat fundamental” ttg Kondisi Politik & Ekonomi bangsa Indonesia saat kini.
Kondisi Perpolitikan Indonesia yg mana perlu sedikit” mengungkit” Sejarah bahwa kebangkitan Politik di Indonesiasudah pernah di lakukan oleh : para Founding Fathers dalam rangka memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia, antara lain: Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir, Dr. Tjipto Mangunkusumo, Dr.Douwes Dekker , Ki Hajar Dewantara serta pejuang2 lainnya.
Jika ditelisik dari berbagai Survey maupun Analisis para Imuwan Politik , di masyarakat kini telah terjadi pandangan yg sinis thd Politik Nasional kita mengalami “ KETERPURUKAN” menuju kearah “ Dis TRUST” nya rakyat kpd para Politisi yg kasat mata hampir tersandera nya oleh : Oligharki Kekuasaan hri ini.
Bobrok nya sistem politik di negeri ini tidak lepas dari tantangan yg dihadapi dlm proses “ Demokratisasi” yg memakan waktu dan Cost ( biaya) yg mahal sehingga menuntut Pemerintahan untul lebih “ Memperhatikan Proses Politik” ketimbang Proses Konkrit utk mengurus Rakyat”.
Disinilah lahir nya Capitalisme2 Dlm Dunia Politik tsb yg sdh barang tentu tidak semudah gitu para Oligharkhi Bisniss rela memberikan berupa hadiah kpd para pengambil kebijakan dan pembuat peraturan2 ini secara “ Free of Charge”, seperti layak nya istilah No Free for Lunch” ( Tidak ada dlm hidup ini yg gratis). Inilah fakta yg telah terjadi dlm perpolitikan di Negeri yg kita sangat cintai. Pada giliran nya justeru para Elite Politik menikmati hasil dari tumpah darah Reformasi , sementara rakyat semakin “ melarat & menderita” sbg penonton di kejauhan dan bahkan jauh dari “ Pelayanan” negara . Maka tidak mengherankan ,kepercayaan masyarakat baik thd PARPOL, HUKUM & Lembaga Negara semakin tdk di percayai lagi ( Dis- Trust), ini lah yg kita katan sdh terpuruk nya roh Perpolitikan tsb.
Kondisi Perekonomian Indonesia, saat ini erat hubungannya dng Kondisi Perpolitikan . Ada keterkaitan kedua Kondisi tsb, seperti dua sisi mata uang logam ( Demokrasi Politik & Demokrasi Ekonomi).
Pada era akhir 1980 an,terdapat dua model sistem ekonomi yg dapat di applikasikan pd negara2 di dunia, termasuk Indonesia .
[23/5 10:02] syahrir nst binjai: Dua sistem tsb adalah: liberalistic Economy System ( Sistem Ekonomi Liberal ) atau biasa disebut dng Ekonomi Pasar Terbuka, dan ini merupakan ciri dari perekonomian negara2 Industri maju & Centralistic Economy System ( Sistem Ekonomi Terpusat ), sistem ini biasanya dianut oleh negara2 blok KOMUNIS.Tetapi pd thn 1990 an ,sbg kelanjutan runtuhnya Komunisme banyak negara2 ketiga berpaling ke Blok Barat dan menganggap sistem ekonomi pasar yg mampu menciptakan kesejahteraan bangsa. Pola pikir yg demikian ini merupakan pandangan yg keliru.

Ketika Globalisasi Ekonomi terjadi, maka batas2 suatu negara akan menjadi kabur dan keterkaitan ekonomi nasional dan perekonomian Internasional akan semakin erat.
Sesungguh nya tdk jelas kapan globalisasi dan Liberalisasi mulai ada di Indonesia?, namun yg perlu di catat adalah: “ bergabung nya dng Ekonomi Global dapat diibaratkan dng menjadikan Negara sbg PERUSAHAAN PUBLIK” yg pemegang saham2 nya adalah setiap orang dimanapun orang tsb berada ( Warga Negara Asing) . Disinilah sebenarnya kondisi Perekonomian kita mulai “ tergadai kan”dengan di bungkus oleh kedok “ Globalisasi”.

Hal ini lah yg menyebabkan Nasionalisme & Kedaulatan Ekonomi tdk lgi memiliki “ Roh Kebangsaan” ( terdegradasi ) antara Demokrasi Politik dan Demokrasi Ekonomi yg telah menubruk secara terang2an pasal 33. UUD 45. Justru itu bicara globalisasi di bidang Investasi di Indonesia terdapat masalah besar , di sebabkan benturan kepentingan dunia usaha dng kepentingan rakyat ( masyarakat), disinilah kehadiran Negara dipertaruhkan dlm hal membela rasa Nasionalisme atau menjual rasa Nasionalisme tsb?.

Bila dimasa ORBA ( orde baru), negara masih memiliki pengaruh kuat dlm menentukan perobahan2 di masayarakat , akan tetapi saat sekarang perobahan2 masyarakat tsb ditentukan oleh: Pasar dlm hal ini kaum Capitalist2 yg sdh mencengkram para Elite politik dan Pemimpin bangsa ini. Maka pertanyaan nya apakah ini yg dikatakan Kebangkitan atau Kebangkrutan bangsa dri sudut pandang dimensi berbangsa dan bernegara? Wallahuaa’lam.(***)

Loading...