Didampingi Bupati Darma Wijaya, Kapolres Jhon Sitepu Cek Kesiapan Pos Pengamanan Lebaran di Sergai
Sergai sumut24.co Kapolres Serdang Bedagai (Sergai) AKBP Jhon Sitepu bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) melakukan
News
Baca Juga:
Bahkan, Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu, secara terbuka menyatakan bahwa potongan kayu tersebut diduga kuat merupakan hasil dari aktivitas perambahan hutan atau ilegal logging yang menjadi salah satu pemicu terjadinya bencana banjir bandang.
Pernyataan orang nomor satu di Tapanuli Tengah tersebut semakin menguatkan dugaan publik bahwa kerusakan hutan di bagian hulu telah terjadi secara masif dan sistematis, sehingga berdampak langsung pada wilayah hilir.
Menanggapi hal itu, Korps Rakyat Bersatu (KORSA) secara tegas mendesak aparat penegak hukum (APH) untuk segera melakukan penyelidikan menyeluruh, termasuk memeriksa Kepala UPT KPH X dan KPH XI, serta sejumlah pejabat strategis di lingkungan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi Sumatera Utara.
Ketua KORSA, A. Ardiansyah Harahap, menegaskan bahwa temuan kayu dengan potongan rapi merupakan indikasi kuat hasil penebangan menggunakan alat berat atau mesin modern, bukan akibat patahan alami karena banjir.
"Ini bukan kayu tumbang biasa. Potongannya rapi, lurus, dan seragam. Ini ciri khas hasil penebangan terorganisir. Artinya, sebelum banjir terjadi, sudah ada aktivitas pembalakan di kawasan hulu," tegas Ardiansyah.
KORSA menilai mustahil aktivitas perambahan hutan berlangsung dalam skala besar tanpa diketahui oleh pihak Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) sebagai garda terdepan pengawasan kawasan hutan.
"KPH punya aparat Polisi Kehutanan (Polhut), punya sistem patroli, punya wilayah kerja yang jelas. Kalau mereka mengaku tidak tahu, justru itu yang menjadi tanda tanya besar. Di mana fungsi pengawasan selama ini?" ujar Ardiansyah.
Karena itu, KORSA secara tegas meminta Kepala KPH X dan Kepala KPH XI untuk segera dipanggil dan diperiksa oleh kepolisian dan kejaksaan guna mengungkap sejauh mana pengawasan telah dijalankan.
Lebih jauh, KORSA juga menyoroti bahwa dugaan pembalakan liar ini disebut-sebut berlangsung pada masa kepemimpinan Juliani Siregar saat menjabat sebagai Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara.
"Kami mendesak agar Juliani Siregar juga diperiksa. Jangan ada pembiaran terhadap pejabat lama. Kalau dugaan kegiatan ini berlangsung pada masa beliau menjabat, maka tanggung jawab hukumnya harus diuji," tegas Ardiansyah.
Tak hanya itu, KORSA juga mendesak agar tiga pejabat penting di lingkungan LHK Sumut turut diperiksa, yakni:
1. Albert Sibuea – Kabid Pemanfaatan Hutan dan Perhutanan Sosial
→ KORSA mempertanyakan keabsahan izin pemanfaatan hutan yang diduga dimanfaatkan sebagai kedok pembalakan liar.
2. Zainuddin – Kabid Perlindungan, Penegakan Hukum, dan Peningkatan Kapasitas LHK Sumut
→ KORSA mempertanyakan kinerja penegakan hukum kehutanan.
"Sebagai Kabid Penegakan Hukum, apakah Zainuddin benar-benar tidak tahu ada pembalakan besar-besaran di wilayah KPH? Jika tidak tahu, itu kelalaian fatal. Jika tahu tapi diam, itu jauh lebih berbahaya," tegas Ardiansyah.
3. Kepala KPH X dan XI sebagai pelaksana teknis pengamanan hutan.
KORSA menilai kuat adanya dugaan pembiaran sistemik dalam pengelolaan hutan di wilayah tersebut. Bahkan, tidak menutup kemungkinan adanya praktik "main mata" antara oknum aparat dengan pelaku pembalakan liar.
"Kami tidak menghakimi siapa pun. Tapi dugaan ini harus dibuka terang-benderang lewat proses hukum yang profesional dan transparan. Jangan ada yang dilindungi," ujar Ardiansyah.
Selain jalur hukum, KORSA juga mendesak Gubernur Sumatera Utara untuk segera melakukan evaluasi total terhadap seluruh KPH di wilayah rawan bencana, khususnya KPH X dan XI. Jika ditemukan kelalaian atau keterlibatan, KORSA meminta agar pejabat terkait dicopot tanpa kompromi.
"Banjir bandang ini bukan sekadar bencana alam. Ini adalah peringatan keras akibat rusaknya tata kelola hutan. Kalau tidak dibersihkan sekarang, bencana seperti ini akan terus berulang dan rakyat kembali jadi korban," tegasnya.
Di akhir pernyataannya, KORSA menegaskan akan mengawal penuh proses hukum kasus ini hingga tuntas. Mereka meminta agar penegakan hukum dilakukan tanpa tebang pilih, baik terhadap pejabat aktif maupun mantan pejabat.
"Jangan hanya rakyat kecil yang dihukum. Jika pejabat lalai, bahkan diduga terlibat, maka mereka harus bertanggung jawab secara hukum. Hutan adalah nyawa rakyat. Ketika hutan dirusak, yang mati lebih dulu adalah masyarakat di hilir," pungkas Ardiansyah.
DikonfirmasiKabid Pemanfaatan Hutan dan Perhutanan Sosial Albert Sibuea mengatakan, saya dikantor.red
Sergai sumut24.co Kapolres Serdang Bedagai (Sergai) AKBP Jhon Sitepu bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) melakukan
News
Sergai sumut24.co Dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Pematang Cermai,
News
RAMADHAN KE26, BAKOPAM SUMUT SALURKAN SANTUNAN DAN SEMBAKO UNTUK TUNA NETRA, PENARIK BECAK DAN LANSIA
kota
Anto Genk Kepercayaan Kru dan Pembaca Jadi Kekuatan Sumut24 Group
News
Polda Sumut Ungkap Jaringan Narkoba Thailand, 29 Kg Sabu dan Satu Tersangka Diamankanq
kota
sumut24.co TOBA, Puncak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke27 Kabupaten Toba berlangsung meriah dengan rangkaian defile yang digelar di Ve
News
sumut24.co ,TANJUNGBALAI, Wali Kota Tanjungbalai Mahyaruddin Salim menghadiri kegiatan penyerahan dan penyaluran 1.000 paket sembako bertaj
News
sumut24.co MedanWali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menekankan pentingnya solidaritas dan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, d
kota
sumut24.co MedanSuasana Terminal Amplas tampak meriah dan penuh haru saat Pemko Medan secara resmi melepas ribuan warga dalam program Mud
kota
sumut24.co BANDA ACEH, Dalam rangka menyemarakkan Bulan Suci Ramadhan 1447 Hijriah, PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Sumatera Bagian
News