Rabu, 18 Maret 2026

Manuver Politik, Nama Djarot Digembor-gemborkan!!!

Administrator - Rabu, 03 Januari 2018 13:24 WIB
Manuver Politik, Nama Djarot Digembor-gemborkan!!!

MEDAN I SUMUT24

Baca Juga:

Sampai saat ini belum ada pasangan Cagubsu dan Cagubsu untuk Pilgubsu 2018, karena semuanya masih kabur. Seperti halnya Japorman Saragih, Effendi Simbolon dan Djarot. Tiga nama dari PDIP mengemuka akhir pekan lalu, yakni Djarot Syaiful Hidayat (Djarot) yang baru saja letak jabatan di DKI karena kalah berhadapan dengan pasangan Anies-Uno, Japorman Saragih (Saragih) dan Effendi Muara Simbolon (Simbolon).

Ketika mengumumkan nama-nama ini Jumat (22/12), Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto berkata bahwa dalam menentukan calon yang akan diusung, PDI-P tidak hanya melihat dari segi ketokohan. Ada hal lain yang tidak kalah penting yaitu kekuatan mesin partai pengusung.

Nama Djarot, katanya, muncul karena ada masukan dari masyarakat, atau lebih tepatnya aspirasi dari kelompok-kelompok relawan. Dengan begitu, Hasto mengatakan, PDIP memadukan faktor ketokohan calon dengan pergerakan mesin politik partai untuk obsesi kemenangan dengan gotong royong.

“Banyak yang merasa kemungkinan Djarot dicalonkan oleh PDIP untuk pilgubsu 2018 tidak serius alias hanya sebatas manuver politik untuk membaca kekuatan lawan,” Ucap Pengamat Politik Shohibul Anshor Siregar kepada SUMUT24, Rabu (3/1).

Menurutnya. itu hanya bagian dari manuver politik, masa orang yang kalah kembali dicalonkan, kan tak masuk akal.

“Memang, saya yakin, jangankan di Sumut, bahkan di seluruh tanah air yang di sana pemberitaan media dapat dimonitor, semua orang tahu Djarot, karena sangat banyak dipublikasi terutama pada momentum pilkada DKI yang melukiskan keterwakilan perhatian penuh oleh mayoritas rakyat Indonesia.Tetapi itu cuma aspek popularitas belaka. Elektibilitas belum tentu,” tambahnya.

Bahkan jika Ahok pun di bawa ke sini, sebuah pengandaian belaka, popularitasnya tak akan mengantarkannya kepada sebuah kemenangan. Ia hanya amat dicintai berlebih oleh orang-orang yang perspektif pandangan SARA-nya sama dengan dia (die hard). Akan jauh berbeda jika yang diajukan Simbolon. Ingatlah pilgubsu tahun 2013. Tak lama mempersiapkan diri, merangsek bersama Djumiran Abdi, hasilnya tak buruk, meski perolehan suara belum untuk menang.

Saat itu ada dua orang bermarga dalam satu pasangan, yakni Amri Tambunan (almarhum, muslim) dan Rustam Efendi Nainggolan (mantan Sekdaprosu, Protestan). Jika disebut-sebut akan maju lagi 2018, menurut saya semua pasangan wajib waspada daya gempurnya. Bagaimana dengan Saragih? Orang jarang menyadari bahwa Saragih adalah orang yang mengurusi partai jauh berbeda dibanding para pendahulunya.

Boleh dikatakan bahwa baru kali inilah PDIP memiliki seorang figur Ketua di Sumatera Utara pasca pemecatan Rudolf M Pardede karena mencalonkan diri atas nama partainya pada tahun 2008. Jika merujuk pakem yang dikemukakan Hasto, aspek jaringan partai adalah andalan dalam membaca peluang Saragih yang sangat santun bertutur ini, Ucapnya.(W03)

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
SHARE:
beritaTerkait
Mudik Aman Berbagi Harapan”, PTPN 1 Regional 1 Lepas Tiga Bus  Gratis
PTPN IV Regional 2 Lepas 226 Peserta Program Mudik Gratis BUMN 2026
Yuslin Siregar 68 Tahun, Bukti Usia Adalah Tentang Manfaat
Polresta Deli Serdang Tes Urine Terhadap Awak Angkutan Udara dan Angkutan Darat di Bandara Kualanamu
Jasa Marga Catat 1,3 Juta Kendaraan Melintas di Ruas Tol Regional Nusantara Hingga H-4 Idulfitri 1447H/2026
Akhiri Safari Ramadhan, Majelis Dakwah PW Al Washliyah SUMUT I'tikaf dan Sahur Bersama di Pedalaman Kabupaten Karo
komentar
beritaTerbaru