Minggu, 15 Maret 2026

Media Cetak Tak Pernah Mati

Administrator - Kamis, 28 September 2017 00:29 WIB
Media Cetak Tak Pernah Mati

MEDAN|SUMUT24

Baca Juga:

Dalam menghadapi Era Digital, dinamika industri cetak di Indonesia belakangan ini banyak pihak yang mengkwatirkannya. Meski demikian kondisnya, media cetak harus cerdas serta punya beragam siasat jitu untuk bertahan. Tapi yakinlah bila dikerjakan serius, bereaksi dan terus berinovasi, media cetak tak akan pernah mati.

Hal itu ditegaskan Wakil Ketua Dewan Pers Ahmad Djauhar pada acara Lokakarya Manajemen Pers, “Siasat Pers di Indonesia Meniti Gelombang Digitalisasi” diselenggarakan Dewan Pers dan Serikat Perusahan Pers (SPS) Pusat, Rabu (27/9) di Garuda Plaza Hotel, Medan.

Lebih lanjut dikatannya, manajemen media cetak harus terus melakukan beragam inovasi baru, sehingga semua kesulitan yang sedang dihadapi perusahaan media cetak bisa terselesaikan alias tak gulung tikar dan tutup.

Industri media cetak nasional, meskipun saat ini secara global terus mengalami masa sulit karena berkembangnya digital. Hal ini tak hanya terjadi di Indonesia, tapi media cetak di luar negeri pun juga mengalami hal yang sama.

“Mari, sama-sama kita cari solusi baru untuk mengatasi semua kesulitan ini,” ujar Ahmad Djauhar.

Dia memberikan masukan yakni melakukan efisiensi biaya produksi, memperkuat program aktivitas yang disosialisasikan dengan brand Media, guna memperkuat karakter dan identitas brand media tersebut. Memperkuat konten, dan juga memperkuat pengembangan pasar serta mencari pasar baru.

“Untuk solusi atas kesulitan perusahan pers maka seharusnya setiap manajemen harus memperkuat program aktivitas yang disosiasikan dengab brand Media untuk memperkuat karakter dan identitas brand media, melakukan efisiensi biaya produksi, memperkuat konten, dan juga memperkuat pengembangan, dan juga strategi para pengelola media cetak untuk memperkuat pasar pembaca di platform cetak,” ujarnya.

Hal senada juga dikatakan, Asmono Wikan, Direktur Eksekutif Serikat Perusahan Pers (SPS) Pusat. Dia mengajak para pengambil kebijakan di media serta manajemen media cetak untuk terus melakukan perubahan besar dan menjalin kemitraan dengan semua pihak. “Kita harus melakukan hal-hal yang tak biasa dilakukan selama ini, untuk mewujudkan yang tak biasa,” ujar Asmono.

Dia mencontohkan, selama ini perusahaan media cetak sudah menjalin kemitraan dengan dengan semua instansi pemerintahan swasta dan negeri, BUMD, BUMN, dengan Muspida, Bupati, Walikota dan lainnya.

Yang tak biasa dilakukan media cetak selama ini, yakni harus berubah. Media cetak harus menjalin kemitraan dengan kepada desa. Dan jangan anggap kepala desa itu tak menjadi sumber berita dan income bagi media cetak. Sebab, saat ini, kepala desa memiliki anggaran yang sangat besar, yakni dana desa.

“Kepala desa kita beritakan, kita beri porsi lebih besar dalam semua kegiatan-kegiatannya sehingga popoler dan semakin terkenal desanya degan beragam prestasi yang dicapainya. Karena sudah bermitra dengan baik, maka yakinlah, bagi media cetak ini akan menjadi pundi-pundi uang dengan memasang iklan di media cetak,” ujar Asmono Wikan memberi solusi jitu.

Masih sebut Asmono, yang paling penting membangun strategi pemasaran dan pengembangan konten semacam apa mesti dikembangkan agar ‘kue Iklan media’ semakin tumbuh dengan pesat kedepan dan perusahaan media cetak, bisa tetap bertahan hidup dan menghidupi karyawannya.

Sementara itu, pembicara lainnya, Ndang Sutisna sebagai Direktur Eksekutif First Position mengajak semua peserta lokakarya sebagai mewakili pimpinan perusahaan media cetak, untuk cerdas dan lebih kreatif membidik pengiklan.

“Pimpinan media cetak harus jeli dan terus melakukan reaksi dan inovasi untuk bisa membuka konten baru demi membidik sekaligus mengajak pengiklan,” ujarnya.

Tentunya, ujar Ndang Sutisna, membangun dan bermitra dengan semua komunitas yang ada, sehingga komunitas inilah nantinya yang akan membangun jaringan baru. “Dan dari semua komintas dan jaringan yang ada itu, tanpa disuruh sudah mendongkrak income bagi perusahaan media cetak tersebut. Membangun jaringan multi level marketing ini sangat dibutuhkan,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris SPS Sumatera Utara, Rianto Ahgly SH yang membuka Lokakarya Manajemen Pers tersebut, karena Ketua SPS Sumut Farianda Putra Sinik SE berhangan hadir sedang membawa keluarga berobat ke Penang, Malaysia, dalam sambutannya mengatakan, sangat berterima kasih kepada semua peserta yang hadir untuk mengikuti lokakarya ini.

Rianto Ahgly atau yang akrab disapa Anto Geng ini tak menampik arus penurunan Media Cetak yang berujung pada penutupan perusahan cetak makin sulit dibendung. Dan media cetak bahkan mulai mengurangi karyawan, memotong gaji, mengurangi Oplah Koran bahkan sampai mengurangi wilayah edar maupun frekuensi terbit.

Oleh karena itu, Sekretaris SPS ini mengajak perusahan Media agar memverifikasi perusahan pers yang akan dilakukan SPS dan Dewan Pers yang mana nantinya akan berguna untuk semua perusahan dan juga mewujudkan pers yang lebih profesional sesuai dengan aturan yang berlaku.

“Dalam menghadapi Era Digital, dinamika industri cetak di Indonesia belakangan ini cukup mengkwatirkan oleh karena itu Serikat Perusahan Pers (SPS) dan Dewan Pers agar segera memverifikasi perusahan pers yang mana nantinya berguna bagi perusahan dan juga mewujudkan pers yang lebih profesional dan hal ini merupakan suatu yang menarik bagi media cetak khususnya di Sumut ini,” ujar Rianto Agly.

 

Dalam seri workshop ini, salah satu peserta Media Cetak Mingguan memberikan pertanyaan kepada Sekretaris SPS Rianto Agly, bagaimana caranya agar bisa tembus untuk pemasangan iklan kepada perusahan, namun diketahui bahwa legalitas perusahan tersebut masih berupa yayasan bukan PT.

Rianto mengatakan suatu iklan bisa tembus dikarenakan dua hal. Yakni pedekatan (lobi) kepada instansi dan keseriusan media itu (kualitasnya).

“Jika memang perusahan pers tersebut masih berbentuk yayasan, diperlukan kedekatan emosional, karena dengan kedekatan emosional tujuan kita terhadap instansi atau perusahan tersebut bisa tembus, dengan kata lain kedekatan emosional yang paling utama,” ujar Rianto.

Sebelum acara lokakarya ditutup, dua pembicara yakni Asmono Wikan dan Ndang Sutisna, membuat dan membagi peserta menjadi lima kelompok. Tujuannya, membuat simulasi dengan memberikan ide kreatif untuk pencerahan demi majunya perusahaan media cetak tersebut. Dan dipenghujunng acara mewakili masing-masing kelompok tampil menerima piagam penghargaan yang diserahkan langsung Sekretaris SPS Sumatera Utara, Rianto Ahgly SH, dua pembicara Asmono Wikan dan Ndang Sutisna, serta ditutup dengan foto bersama dengan semua peserta lokakarya. (C03/R)

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
SHARE:
beritaTerkait
Bupati Bersama Kapolres Pakpak Bharat Menanam Jagung Di Lahan Masyarakat
Kepala KPPN Sidikalang Menyerahkan Piagam Penghargaan Dari Kementerian Keuangan RI Kepada Bupati Pakpak Bharat
Board of Peace: Diplomasi Realistis Indonesia dalam Mendorong Perdamaian Global
Polres Sergai Bagikan 300 Takjil Ramadhan, Wakapolres Himbau Masyarakat Utamakan Keselamatan Berkendara
Jelang Idul Fitri 1447 H, SPPG Desa Suka Jadi Salurkan Ribuan Paket Istimewa MBG untuk Ribuan Penerima
SPS Aceh Gelar Buka Puasa Bersama dan Santuni Anak Yatim
komentar
beritaTerbaru