Minggu, 15 Maret 2026

Incumben Lebih Unggul, Banyak Lirik Duet Erry-Ngogesa

Administrator - Minggu, 24 September 2017 23:32 WIB
Incumben Lebih Unggul, Banyak Lirik Duet Erry-Ngogesa

MEDAN|SUMUT24

Baca Juga:

Keinginan partai politik untuk berdampingan dengan petahana dalam Pilgubsu 2018 mendatang, dikatakan adalah hal yang sah-sah saja. Manajemen pemerintahan masih dikelola petahana. Artinya, dalam peta politik incumbent itu sudah bisa dikatakan unggul.

“Partai politik juga melihat momen di 2019 mendatang. Kalau parpol itu ada di dalam dan menjadi bagian pengusung petahana, tentu dalam momen 2019, parpol akan memiliki ruang untuk bermain, atau punya ruang sebagai kontestan dan sebagai partai politik yang bisa masuk dalam kancah pemilihan Pilpres dan Pileg,” terang Direktur SUMUT Institute, Osriel Limbong kepada SUMUT24, Minggu (24/9).

Kendati demikian, Osriel mengaku kalau dirinya tidak sependapat jika parpol mendorong untuk menjadi wakil petahana. Menurutnya, hal itu merupakan pandangan yang tidak benar.

“Sejatinya, Pilkada dan Pileg adalah dua poros yang jauh berbeda dalam kancah politik. Walaupun dipengaruhi oleh parlemen trisol dan presiden trisol, hal inilah yang mempengaruhi kenapa parpol berlomba dengan incumbent. padahal itu adalah dua hal yang berbeda,” paparnya.

Pileg itu, katanya, membuat kursi yang banyak, sehingga kadernya bisa duduk di parlemen, itulah parlemen trisol. Tapi kalau dipengaruhi oleh Pilakda, parpol akan bisa masuk ke parlemen trisol.

Menurut Osriel, opini yang menyatakan parpol menggandeng untuk menjadi wakil, itu sebenarnya dapat merusak posisi incumben, dan juga menunjukkan ketidakmapanan parpol.

“Kalau parpol yang mapan kan tidak perlu seperti itu. pasti parpol itu akan mengusung kadernya,” terangnya.

 

Wakil Erry Pastinya Sehati

Siapa pun yang akan menjadi pendamping H T Erry Nuradi sebagai Wakilnya di Pilgubsu 2018 mendatang, pastinya sehati. Artinya, dalam menjalankan program di pemerintahan, tidaklah mengambil keputusan sendiri.

Demikian dikatakan, Firdaus Tanjung selaku Direktur Eksekutif Lumbung Amanat Rakyat Sumatera Utara (LARaS) kepada SUMUT24, Minggu (24/9) pada tanggapannya terkait adanya sinyalemen Partai Politik (Parpol) berlomba mencocokan pasangan Erry-Ngogesa.

Jika dilihat dari keduanya, baik Erry-Ngogesa, mereka memiliki gaya kepemimpinan tersendiri dalam membangun sistem pemerintahan.

“Kita mengetahui, Erry adalah Gubsu, sedangkan Ngogesa Bupati. Artinya, jika keduanya dipasangkan pada Pilgubsu 2018 mendatang, yang notabenenya adalah sama-sama sosok pemimpin, apakah keduanya memiliki pola pikir yang sama untuk membangun Sumut,” ucap Firdaus.

Pun begitu sambung Firdaus, ini hanya sebatas mencocokan. Karena semua keputusan, siapa dan bagaimananya adalah keputusan partai, dan penetapan KPU tentang pasangan calon, pungkasnya yang tidak mau terlalu berandai-andai terhadap pasangan calon (paslon) Pilgubsu 2018.

Berlomba Jadi Wakil Erry

Bagaimanapun elekatabilitas Tengku Erry masih tinggi dibandingkan dari Balon-balon Gubsu dan Balon Wagubsu lainnya sehingga tak sedikit yang terlihat para balon-balon Gubsu dan Wagubsu mensosialisasikan diri ditengah-tengah masyarakat agar mendapatkan elektabilitas sehingga sepertinya Partai Politik ingin menjadi Wakil Gubsu Tengku Erry Nuradi dalam Pilgubsu 2018, Ucap Pengamat Sosial Shohibul Anshor Siregar kepada SUMUT24, Minggu (24/9).

Menurutnya, Pasangan Erry-Ngogesa masih keputusan yang bisa berubah, karena semua keputusan adalah di pusat Jakarta. Memang sepertinya Parpol berlomba mencocok-cocokkan Erry dengan Partai lain, itupun keputusan di tangan Jakarta. Akan tetapi tapi kalau sudah ada keputusan KPU tentang pasangan calon barulah sah dan kalau mundur bisa kita denda, Ucapnya. Sebetulnya waktu masih cukup panjang. Meski begitu progress seperti yang dicapai Erry dan Ngogesa patut dicatat. Mungkin ini salah satu kelebihan ada incumbent dalam pasangan ini.

Apa yg terjadi saat ini hanyalah sebuah cerminan kegamangan Jakarta menatap agenda suksesi lokal dalam kaitannya dengan suksesi nasional. Di Jakarta ada partai yang kupak kapik karena dualisme. Negara, dalam hal ini Menteri Hukum dan HAM, terindikasi campur tangan. Diakui atau tidak, intervensi penguasa pun ada dalam dualisme Golkar dan meski seolah sudah berakhir namun sesungguhnya masih jauh dari normalitas sebuah partai yang seharusnya mandiri.

UU menentukan bahwa penentu pasangan untuk pilkada itu adalah eliit pertai di Jakarta. Inilah oligarki antitesa demokrasi yang dilahirkan oleh demokratisasi selama ini.

Akibat lanjutnya nanti rakyat daerah dapat menjadi korban, karena aspirasi mereka tak pernah dijadikan referensi untuk memutuskan.

Partai mungkin akan berkilah bahwa dalam penentuan calon selalu ada survey pendahuluan dan itu menyapa aspirasi rakyat. Padahal hal terpenting untuk survey berbayar ini adalah popularitas dan elektibilitas. Survey tak perlu lebih maju untum mendalami relung terdalam aspirasi rakyat.

“Meski kini Erry-Ngogesa sudah dipasangkan, tetapi pasangan ini tak luput dari tantangan besar yang sudah mulai mengemuka. Apalagi Ngogesa membuat statemen ada kuman di tubuh partai Golkar sehingga dinilai sangat berbahaya bagi dirinya sendiri dan kesolidan partai,” ujar Sohibul.

 

Gus Masih Menunggu Titah DPP

Gus Irawan yang akrab sapa ‘Bang Gus’ selaku Ketua DPD Partai Gerindra Sumatera utara ini saat ditemui acara reuni akbar SMANSA angkatan 65 di Regale International Convention Center Jalan H. Adam Malik No. 65 Medan.

“Pada prinsipnya saya siap dicalonkan menjadi Gubsu, hanya saja menyerahkan sepenuhnya kepada Partai Gerindra dalam hal ini Pak Prabowo selaku ketua umum Partai,” ujar Gus Irawan kepada SUMUT24, Sabtu (23/9).

Gus Irawan Pasaribu yang kini menjabat sebagai Ketua Komisi VII DPR RI mengaku, belum lama ini sudah ketemu dengan DPD, DPC dan anggota DPRD dari Fraksi Gerindra.

“Wakil Ketua Umum Gerinda menyampaikan bahwa keinginan DPP adalah mengusung kader sendiri yang kemudian layak dan berpotensi. Bukan sekedar berpotensi saja, namun juga layak memimpin. Dulu saya maju jadi cagubsu memang adalah karena niat. Tapi hari ini, saya sebagai Ketua Partai Gerindra, saya tentu harus tunduk, patuh, tegak lurus dengan apa yang menjadi keputusan pimpinan di DPP Gerindra,” kata Gus Irawan menerangkan.

 

Secara tegas Gus Irawan menyatakan, siapa pun kedepanya yang memimpin Sumut harus lah memperhatikan soal kemiskinan. Sebab dengan memiliki sumber daya alam yang baik rasanya tidak pantas angka-angka kemiskinan masih saja terjadi.

“Kita harus mampu mendorong ekonomi bisa tumbuh bergerak cepat disamping butuh pemerataan dan memberikan manfaat kepada masyarakat padat terutama mereka yang ada di garis kemiskinan,” sebutnya.

Disinggung tentang Tifatul Sembiring yang disebut-sebut akan berpasangan dengan dirinya, Gus Irawan mengatakan pak Tifatul sosok yang bagus. Karena beliau kan pengalaman di pemerintahan sebagai Mentri di satu periode.

“Pengalaman Pak Tifatul di periode sebelumnya sangat berharga buat saya. Jadi beliau sangat mempuni dan pantas,” sebutnya.(W01/W02/W03)

 

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
SHARE:
beritaTerkait
Wagub Sumut Surya Tegaskan Komitmen Jaga Stabilitas Daerah di Hadapan Menko Polkam
Bupati Bersama Kapolres Pakpak Bharat Menanam Jagung Di Lahan Masyarakat
Kepala KPPN Sidikalang Menyerahkan Piagam Penghargaan Dari Kementerian Keuangan RI Kepada Bupati Pakpak Bharat
Board of Peace: Diplomasi Realistis Indonesia dalam Mendorong Perdamaian Global
Polres Sergai Bagikan 300 Takjil Ramadhan, Wakapolres Himbau Masyarakat Utamakan Keselamatan Berkendara
Jelang Idul Fitri 1447 H, SPPG Desa Suka Jadi Salurkan Ribuan Paket Istimewa MBG untuk Ribuan Penerima
komentar
beritaTerbaru