MEDAN | SUMUT24
Baca Juga:
Belum banyak yang tahu bahwa bakteri di tubuh bisa mengalami resisten terhadap antimikroba atau antibiotik. Resistensi antibiotik merupakan masalah serius. Apalagi, jika pasien mengalami multiresisten. Infeksi bakteri menjadi tidak bisa diatasi dengan semua generasi antibiotik.
Masalah resistensi antibiotik, bukan hanya menjadi masalah individu, tetapi menjadi masalah dunia. Sejak tahun 2005, hingga saat ini sudah tidak ditemukan lagi antibiotik baru sehingga jika bakteri sudah resisten terhadap antibiotik yang ada, tidak ada antibiotik lain yang dapat menyembuhkan.
Sayangnya bahaya resistensi antibiotik dan jenis antimikroba lainnya ini belum semua dipahami dengan baik oleh tenaga kesehatan maupun masyarakat. Hal ini seperti yang ditegaskan Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba ( KPRA) Kementerian Kesehatan RI, dokter Harry Parathon dalam diskusinya bersama jurnalis yang digelar PT Pfizer Indonesia saat di Hotel Grand Aston Medan, Minggu (21/5).
“Untuk menghindari melemahnya manfaat antibiotik dan meluasnya resistensi atau kekebalan terhadap antibiotik, Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun ini mencanangkan Pekan Peduli Antibiotik Sedunia pada tanggal 16 hingga 22 November 2015. Resisten antibiotik membuat penyakitnya lama sembuhnya atau enggak sembuh-sembuh dan bisa menyebabkan kematian,” ujar dokter Harry.
Harry mengungkapkan, di Indonesia ada sekitar 135.000 kematian per tahun akibat resistensi antibiotik. Survei tahun 2013 di 6 rumah sakit di Indonesia menunjukkan, bakteri Escherichia coli dan Klebsiela pneumonia telah memproduksi enzim Extended Spectrum Beta Lactamase (ESBL) sekitar 40-60 persen.
Hal itu menunjukkan bakteri telah resisten terhadap antibiotik. Lantas, bagaimana menyembuhkan pasien yang sudah kebal dengan antibiotik?
Menurut Harry, pengobatan pasien tentu tidak akan dipaksa dengan antibiotik. Namun, pengobatan pasien akan sangat lama di rumah sakit.
“Kemarin kami memulangkan pasien resisten yang dirawat 146 hari. Selama 46 hari saja diberi antibiotik. Selebihnya kita isolasi, kita beri makan yang bagus, sampai kekebalan tubuhnya bagus. Jadi masih ada harapan,” terang Harry.
Harry mengatakan, saat ini tengah dilakukan analisis data pola penggunaan antibiotik di rumah sakit. Menurut WHO, 50 persen penyakit yang selama ini diberikan antibiotik ternyata tidak perlu antibiotik.
“Operasi amandel, cesar, tumor jinak payudara tidak perlu antibiotik, sunat juga tidak perlu. Banyak operasi dan penyakit yang tidak perlu antibiotik,” ungkap Harry.
KPRA akan bekerja sama dengan pihak terkait untuk melakukan pelatihan mengenai resistensi antibiotik di 14 rumah sakit rujukan nasional, kemudian 110 rumah sakit regional dan provinsi.
Upaya itu dilakukan untuk menekan laju resistensi antibiotik di Indonesia. Sebab, untuk membuat antibiotik baru saja butuh waktu puluhan tahun. Jika resisten antibiotik tidak segera dikendalikan, dapat menjadi pembunuh terbesar di dunia pada tahun 2050.
Sementara itu, Manager PT Pfizer Indonesia, Ninesiana Saragih mengatakan sebagai perusahaan yang menyediakan obat-obatan anti jamur terkemuka di dunia, PT Pfijer terus komit dalam mencari cara baru untuk meningkatkan portofolio obat anti infeksi.
“Kita memahami betul bahaya AMR terhadap kesehatan masyarakat, PT Pfizer tahun 2016 telah bekerjasama dengan 100 perusahaan dan 13 organisasi sekalisgus intansi pemerintah untuk mencegah masalah ini,” tutupnya. (w07)
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di
Google News