MEDAN|SUMUT24
Baca Juga:
Meski Pilgubsu di DKI Jakarta sudah usai, namun semangatnya dikatakan akan tetap terbawa dalam Pemilihan Gubernur Sumatara Utara (Pilgubsu) yang akan berlangsung pada 2018 mendatang. Bahkan dikatakan, beberapa pekan kedepan, hal ini akan menjadi serius. Pasalnya, para tokoh di Ibukota saat ini mulai mencari data faktual di masing masing Kab/Kota dan Provinsai yang akan mengikuti Pilkada serentak. Dan keseriusan itu akan semakin nyata, pasca bulan Syawal (lebaran) mendatang.
Kepada SUMUT24, Senin (24/4), Pengamat Sosial dan Politik Shohibul Anshor Siregar mengatakan, bahwa sebagai petahana Gubernur Sumut Ir H Tengku Erry Nurady MSi besar kemungkinan tidak menggunakan perahu partai Nasdem sebagai pengusungnya dalam pilgubsu mendatang. Hal ini dikarenakan, partai tersebut kemungkinan besar akan digunakan sebagai perahu Prananda Surya Paloh untuk mencalonkan sebagai Wagubsu.
“Kalau memang Nasdem memberikan dukunganya kepada Prananda, sekarang pertanyannya partai mana pak Erry sebagai petahana,†ujarnya.
Menurutnya, seluruh partai melihat popularity maupun elektibility Erry Nurady sebagai Gubenur Sumut mencapai 15 sampai 20 persen. Disinggung, apakah ada kemungkinan petahanan menggunakan partai Demokrat sebagai perahu dalam Pilgubsu mendatang. Menanggapi hal ini, Shohibul mengaku kalau dirinya tidak tahu, apakah hal itu serius atau tidak. Karena, Sekjen Demokrat Hinca Panjaitan SH menurutnya sepertinya diberikan otoritas untuk melakukan sesuatu di Sumut saat ini. “Jangan-jangan dia (Hinca) juga mau maju,†sebutnya.
Kalau nanti benar benar maju dan syaratnya harus bergandengan tangan dengan petahana, berarti hanya tinggal mencari tambahan kursi, siapa yang mau ke kubu dia.
Soal adanya kemungkinan Nasdem yang tidak mau memberikan dukungan kepada petahana, menurut Shohibul, ada dua hal yang menyebabkan hal itu. Pertama, lebih mengedepankan Prananda sebagai ‘Putra Mahkota’ partai Nasdem untuk maju. Dan yang kedua adalah kemungkinan belum selesai luka-luka lama yang terkait dengan polemik polemik di Sumut.
Shohibul juga menuturkan, bahwa H Soekirman yang saat ini menjabat sebagai Bupati Serdang Bedagai, kemungkinan besar tidak menjadi pilihan petahana menjadi Wakilnya. Kalau jatah PAN dihitung sebagi Wakil, katanya, bukan Soekirman orangnya, tapi Muslim Simbolon. Dikarenakan, nama Muslim Simbolon, hidup diseluruh wilayah Sumut.
Soal munculnya nama Pangkostrad Letjen TNI Edy Rahmayadi dalam pilgubsu mendatang, menurut Shohibul, pak Edy mungkin melihat jembatannya adalah Pak Jokowi.
“Menurut saya, pak Edy saat ini juga sedang bingung. Apakah dirinya akan menjadi calon atau menjadi Kasad atau apa, kan begitu. Kalau Pak Jokowi mengangkatnya menjadi Kasad, mungkin berhentilah untuk Cagubsu. Apalagi kalau misalkan diangkat menjadi Panglima TNI,†terangnya.
Dalam keterangannya tersebut, Shohibul juga melihat partai Golkar sebagai partai terbesar di Sumut. Tentu harus ada calonnya yang masuk dalam pilgubsu. Kendati nama Syamsul Arifin dan Ngogesa Sitepu disebut-sebut akan ikut dalam Pilgubsu, jangan dianggap H Abdillah Ak, MBA tidak memiliki keinginan untuk itu.
“Kalau nama Syamsul disebut sebut, kenapa tidak disebutkan nama Abdillah. Kalau opini umum secara sederhana mengatakan, dari nama yang lama itu hanya Syamsul. Abdillah juga ada disitu, dan dia pasti juga melihat peluang,†terangnya.
Shohibul juga menyampaikan, kalau Ngogesa Sitepu harus mencari wakilnya dan menurut Shohibul Wakilnya itu seperti Muslim Simbolon lah.
“Kalau kalibernya Ngogesa sudah nomor satu, tapi ada kelemahannya yakni sosialibility. Sehingga, kalau dipasangakan dengan Muslim Simbolon, hal itu akan tertutupi, apalagi Muslim ini berkecimpung dalam organisasi yang besar,†katanya.
Sedangkan bagi partai Gerindra dan PKS, lanjutnya, kesulitannya adalah siapa yang akan dicalonkan. Apakah Gus Irawan atau H Raden Muhammad Syafii SH. Kemudian dari PKS adalah Tifatul Sembiring.
“Siapa yang nomor satu dan nomor dua. Karena, keduanya memiliki alasan yang kuat menjadi nomor satu di Sumut. Tifatul Sembiring adalah mantan seorang menteri. gak mungkin jadi Wakil. Kemudian, Gus Irawan adalah Cagubsu kemarin, walaupun dengan beberapa kesalahan tekhnis dia kalah, gak mungkin juga Cagubsu menjadi calon Wagubsu,” sebutnya.
Kalau siapa calon Wagubsu yang cocok dari luar partai politik, menurut Shohibul, dari sisi ethnik merupakan sosok yang yang akan tetap diperhitungkan. “Tetap dihitung, tapi tidak terlalu mutlaklah,” terangnya.
Menurut Shohibul, dalam mengikuti pertarungan Pilgubsu mendatang, PDI Perjuangan tidak akan memandang dengan sederhana. PDI Perjuangan dalam last minute akan menentukan siapa calonnya.
“Setelah membawa peta persaingan yang sudah hampir terbentuk, PDI Perjuangan akan masuk mengusung calonnya sendiri,†ujarnya.
Diluar dari nama-nama yang disebutkan diatas, Shohibul menyakini akan ada nama-nama lain yang masuk dalam pilgubsu mendatang.
Melihat keadaan sekarang ini, lanjutnya, Shohibul menegaskan kalau dirinya ingin mendestroy fikiran-fikiran yang sangat menohok, yaitu selalu mengesankan kalau Sumut dicap sebagai daerah terkorup se Indonesia.
“Saya tidak percaya itu. Dan saya menolaknya, siapapun yang mengatakan itu,†tegasnya.
Kita menjadi sulit berkembang, karena kita dikenal sebagai daerah korupsi. Padahal, sambung Sohibul, uang kita ada Rp8,6 miliar waktu terjadi prahara, berapa yang bisa dikorupsi dari uang sebesar itu. Karena, dari uang sebesar itu, 60 persennya sudah menjadi biaya untuk alokasi struktural belanja-belanja di didalam bukan publik, tentu tak mungkin dikorupsi.
Kemudian, lanjutnya, kedepan harus ada perhatian yang fokus terhadap infrastruktur, dan hal hal yang terkait dengan keberpihakan kepada rakyat bawah.
“Jika nanti waktu Pilkada, tentunya petahana akan berhenti atau cuti. Karena itu, sangat penting peran Sekda. Siapapun yang menjadi Sekda menggantikan Hasban Ritonga, “kita ingin agar Sekda itu tidak menyumbang kesulitan terhadap Sumut lagi. Kalau ditanya siapa Sekda paling baik, adalah sekda yang tidak akan menyumbang permasalahan buat Sumut,†tandasnya mengakhiri. (W01)
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di
Google News