Kutacane | SUMUT24
Baca Juga:
Banjir Bandang yang melanda Desa lawe Sigala Gala Aceh tenggara (Agara), Selasa sore kemarin, kini menyisakan duka yang mendalam bagi warga. Pasalnya, keluarga Jamin Panjaitan, warga Desa Lawe Sigala Gala, harus rela kehilangan nyawa seorang keluarganya Boru Panjaitan (68), karena hanyut dan meninggal terbawa arus deras dan baru ditemukan Rabu pagi (12/4). Kedukaan yang sama juga dialami Terang Sitanggang umur 1,5 tahun yang awalnya dikabarkan hilang terbawa arus, tapi sudah ditemukan tewas kemarin.
Kepada SUMUT24, Jamin Panjaitan juga mengaku, banjir bandang kali ini tergolong yang paling parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Akibat kejadian tersebut, kata dia, dinding rumah bagian depan yang terbuat dari batu bata dan kayu jebol diterjang derasnya arus air, serta dinding rumah bagian belakang rusak. “Genangan air di dalam rumah kami, mencapai selutut orang dewasa,” ucapnya.
Peristiwanya, begitu cepat terjadi. Akibatnya, sejumlah peralatan rumah tangga dipastikan terendam dan rusak. Bahkan, rumah warga dipenuhi lumpur,” ujar Jamin.
“Warga Desa lawe Sigala Gala dan masyarakat di Kabupaten Aceh Tenggara sangat berharap agar banjir bandang yang sering terjadi setiap tahun, bisa segera dicari solusinya. Sehingga warga tidak lagi khawatir ketika hujan lebat turun.
Menganggapi harapan warga Agara tersebut, Ketua Forum Masyarakat Peduli Aceh Tenggara (Format Peduli) Bahri menegaskan, “aparat penegak hukum secepatnya bertindak. “Tangkap segera para pembalak liar yang selama ini menggunduli hutan di Kabupaten Aceh Tenggara. Juga oknum-oknum yang terlibat ikut membeking (melindungi) pembalak liar harus dipenjarakan, karena ini menyangkut keselamatan ribuan nyawa manusia di Kabupaten Aceh Tenggara,” tegas Bahri.
Lebih lanjut dikatakan Bahri, semestinya banjir bandang seperti ini tidak perlu lagi terjadi di Kecamtan Lawe Sigala dan sekitanya. Sebab tahun 2015 lalu, Pemkab Aceh Tenggara sudah membangun Embung di atas pemukiman warga.
“Namun sangat disayangkan embung yang dibangun tersebut hanya untuk kepentingan pejabat terkait alias asal jadi dikerjakan. Disamping masih maraknya penebagan liar, sehingga menyebabkan hutan guntul dikarenakan ulah oknum yang tidak memperdulikan keselamatan nyawa manusia,” tegas Bahri lagi.
Dalam hal ini, ujar Bahri, “kita akan mememinta kepada penegak hukum agar mengusut, pembuatan embuang di Desa lawe Sigala Gala dan menyeret pelaku illegal Loging yang membuat bencana terjadi di Bumi Sepakat Segenep ini tidak pandang bulu,” tegas Bahri.
Banjir Bandang Terjang Enam Desa di Dua Kecamatan
Banjir bandang yang menerjang sejumlah desa di Kecamatan Lawe Sigala, Kabupaten Aceh Tenggara (Agara), kemarin akibat tingginya intensitas hujan dalam beberapa hari terakhir.
Risky Hidayat, Koordinator Pos Sar Kutacane Kepada SUMUT24, Rabu (12/4) mengatakan, banjir bandang yeng menerjang sejumlah Desa di Kecamatan Lawe Sigala Gala dan Kecamatan Semadam sekira pukul 18 40 Wib setelah mendapat laporan dari warga, pihaknya bersama personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, dan unsur lainnya di Agara, dan langsung melakukan penyelamatan terhadap warga yang terkena musibah.
Lebih lanjut Risky Hidayat menambahkan saat ini kita telah menurutkan alat berat guna untuk membersihakan sisa material yang menutupi jalan, seperti Puluhan batang pohon bertumbangan, dan sebagian diantaranya terbawa hanyut oleh arus air yang deras dalam peristiwa tersebut.
Jaminah (45), warga Desa Suka Makmur, Kecamatan Semadam kepada SUMUT24 mengatakan, air bah secara tiba-tiba datang dengan meluap, dan menggenangi rumah-rumah masyarakat dengan mengalir deras serta menghanyutkan benda-benda seperti kayu dari atas bukit.termasuk rumah saya sendiri habis di terjang Air bah tad malam uarnya dengan mata berkaca kaca
Sementara itu, Nur Lela Anggota DPRK dari Partai Nasdem mengatakan, “Mudah-mudahan tidak ada banjir susulan lagi. Kalau kita lihat dari banyaknya kayu gelondongan yang terbawa arus, saya menduga masih ada praktek penebangan liar di wilayah Agara ini, khususnya di Kecamatan Semadam dan Lawe Sigala gala,” tegas Nur Lela.
Dia juga mengecam prilaku manusia yang tidak bertanggung jawab dengan menebangi pohon, untuk kepentingan pribadi. Sehingga hutan menjadi gundul masyarakat yang tidak berdosa mendapat petakanya.
Diduga Tanggul Jebol
Jajaran TNI dan Polisi membantu evakuasi warga yang terkena dampak banjir bandang didua Kecamatan yang terkena banjir bandang Aceh Tenggara (Agara). Tenda untuk tempat penampungan korban banjir juga mulai didirikan.
Kapolres Aceh Tenggara AKBP Edi Bastari melaui Waka Polres Agara Kompol Imam Aspali kepada SUMUT24, Rabu (12/4) mengatakan, banjir bandang terjadi setelah hujan terus mengguyur, sehingga menyebabkan tanggul penahan air di atas gunung jebol. Akibatnya, rumah warga terendam air dan lumpur serta dipenuhi puing-puing kayu.
“Asrama Polsek Lawe Sigala dan rumah penduduk di sekitarnya digenangi air yang membawa sampah dari gunung dan halaman asrama tertimbun lumpur setinggi 30 sentimeter,” sebutnya.
Sejumlah personel Polres Aceh Tenggara dibantu oleh Personil Kodim Agara, dikerahkan untuk membantu warga menyelamatkan barang-barang milik mereka. Polisi juga membantu mengevakuasi masyarakat ke tempat yang lebih aman.
Selain itu, kita juga mendirikan tenda tempat penampungan korban banjir bandang dan menyiapkan dapur umum untuk korban. Koordinasi dengan pihak terkait dilakukan. pendataan terhadap rumah warga yang terkena dampak banjir bandang.
“Hingga saat ini masih dilakukan pelaksanaan evakuasi warga yang terkena musibah banjir bandang. Kerugian materi akibat banjir bandang belum dapat dihitung mengingat sebagian rumah masyarakat masih digenangi air. Sedangkan untuk korban jiwa sampai saat ini terdapat dua orang ,” jelasnya.
Informasi tersebut diperoleh SUMUT24, Rabu (12/4) dari Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA).
Sejauh ini penanggulangan yang dilakukan BPBD Kabupaten Aceh Tenggara telah mengerahkan 4 unit alat berat ke lokasi kejadian, untuk membersihkan material longsor di badan Jalan Medan-Kutacane. Selain itu bantuan logistik dan peralatan berupa tenda untuk warga dampak bencana.
Untuk Desa Suka Makmur, Kecamatan Semadam dikabarkan sudah dapat dilalui oleh kendaraan. Pantauan di lokasi, banyak warga masih menangis, salah satu marga Sitanggang. Dikatakan Sitanggang bahwa anaknya terbawa arus banjir bandang dan merenung ada juga yang sibuk membersihkan rumahnya.
Harapan tokoh masyarakat, lembaga keumatan dan lembaga pemerintahan bahkan seluruh stakeholder pemerintahan dapat bekerja sama untuk membantu karena ini persoalan kemanusiaan.
Jalan Kuta Cane-Blangkejeren Lumpuh Total
Sementara itu, di kawasan Kayu Obeh, Kampung Gumpang Pekan, Kecamatan Putri Betung, Gayo Lues, hujan turun deras dari sore hingga pagi harinya.
Banjir itu juga menurunkan material lumpur dan batu-batu besar, sehingga menutup badan jalan. Akibatnya, antrian panjang kendaraan umum dan pribadi dari berbagai tujuan tak terelakkan.
Sopir angkutan umum seperti BTN dan teksi dari Medan menuju Blangkejeren yang pertama terjebak dilokasi banjir terpaksa menunggu tibanya alat berat dari PPK 8 Projabal, untuk membersihkan material longsor tersebut.
Antrian kendaraan terjadi sejak pukul 06.00 WIB hingga 12.00 WIB, Rabu (12/4). Setelah alat berat diturunkan ke lokasi membersihkan semua material lumpur, dibantu pihak Kapolisian dari Polsek Putri Betung dan juga beberapa personil anggota Polres Gayo Lues dan Posramil.
Dari kejadian tersebut sempat juga mengganggu aktivitas ujian bagi siswa SMA Putri Betung. Sebab lokasi ujian susah dilalui. Dengan terpaksa para siswa memilih jalan dari lokasi perkebunan warga menuju kelokasi sekolah, karena lokasi longsor berdekatan dengan SMA Putri Betung.
Nasir (30) warga setempat saat di komfirmasi SUMUT24 mengatakan, “longsor terjadi diperkirakan sebelum sholat subuh, karena ada beberapa mobil masih lewat dari arah Kuta Cane menuju Blangkejeren dan sekitar jam 6 pagi, material lumpur dan batu turun ke badan jalan, karena lokasinya berdekatan dari kediaman saya,” ujarnya. (NW/jubel/daud)
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di
Google News