Kapuskes TNI Pimpin Delegasi Kesehatan TNI Hadiri Bilateral Thainesia ke 10 tahun 2026 di Thailand
Thailand sumut24.co Kepala Pusat Kesehatan (Kapuskes) TNI Mayor Jenderal TNI dr. Hadi Juanda Sp.PD., MARS., CfrA, didampingi Kaunit Kermab
News
Baca Juga:
Catatan : ALI SATI NASUTION SIAPA sangka bahwa dr. Radjamin Nasution gelar Sutan Kumala Pontas adalah Wali Kota Surabaya pertama pasca Indonesia Mereka. Beliau juga merupa-kan salah satu anggota Komite Nasional Indonesia. Suatu posisi organisasi pejuang kememerdekaan bergengsi ketika itu.
Kelahiran 15 Agustus 1892 di Kampung Barbaran Julu, Kecamatan Panyabungan Barat, Mandailing Natal seorang yang loyal. Dedengkot Komite Nasional Indoesia (KNI) itu tidak banyak orang yang tahu bahwa beliau memiliki jabatan mentereng walikota di negeri orang. Beliau bukan berkiprah di kampung sendiri, tapi nun…! jauh di sebe-rang lautan.
Susah membayang-kan kala itu..! seorang Radjamin anak desa dari Barbaran Julu. Kampung itu, sangat terisolir, lagi pula posisinya di seberang Sungai Batang Gadis. Tembus ke Surabaya, kota terbesar kedua di nusantara. Waktu itu, hanya satu akses jalan yang dapat ditempuh yakni, menyeberang sungai Batang Gadis menempuh jalan bertambal tanah dan pasir, baru bisa sampai ke Pasar Panyabungan. Kendaraan yang ada hanya pedati.
Semua itu menurut kita, Radjamin Nasution memiliki bekal yang handal yakni intelektualitas bersadar Bisuk (bijak) yang ibarat sumur tak pernah karing.
Kenapa bisa..? Saat Jepang kalah, oleh tentara sekutu. Pada Februari 1942, tepat-nya saat Jepang menguasai Surabaya, Takashi Ichiro menjabat sebagai Wali Kota hingga 17 Agustus 1945. Ra-djamin Nasution sebagai Asisten (Kini disebut Wakil Wali Kota). Akhirnya Radjimin menjadi Wali Kota Surabaya tepat hari kemerdekaan, 17 Agustus 1945 hingga 28 Agustus 1945 atau jabatan itu diemban sekitar 11 hari.
Sebelumnya, Burgemeester Soerabaia atau Wali Kota Suraba pertama dijabat oleh Meener A Meyroos tahun 1916 hingga 1920. Mr A Meijroos merupakan warga negara Belanda. Saat itu Indonesia masih dijajah negara kincir angin itu.
Kemudian Februari tahun 1942, Belanda mening-galkan Soerabaia. Kota Pahlawan itupun dipimpin warga pribumi Indonesia pertama yang menjadi pelaksana jabatan Wali Kota Surabaya (Burge-meester Soerabaia). Ya, dr.Radjamin Nasution memimpin sejak Februari 1942 hingga September 1942.
Sewaktu itu, di Surabaya, Radjamin Nasution ter-masuk bumiputera yang berpendidikan tinggi. Na-luri dan jalan pikirannya bangkit. Apalagi ia menya-dari bahwa tinggal dan berkeluarga di tempat kela-hiran sobatnya, dr. Soetomo.
Radjamin mulai menyingsingkan lengan baju, bertarung berhadapan dengan kaum Belanda di parlemen Kota Surabaya. Karir Radjamin di parle-men makin menguat hingga terpilih menjadi wakil Jawa Timur mewakili Kota Surabaya ke Volksraad (parlemen pusat) dari Partai Parindra. Posisi Radjamin menjadi “double gardanâ€, di satu tangan menjadi anggota senior Dewan Kota Surabaya (wethouder), dan di tangan lainnya sebagai anggota Volksraad.
Dari kampung ke kampung, Radjamin Nasution melihat kondisi masyarakat dan menampung aspirasi rakyatnya. Dalam hal tertentu, Radjamin tidak segan-segan menegur dan menggertak Walikota Surabaya, Fuchter yang berkebangsaan Belanda jika ada pembangunan yang dijalankan jauh menyimpang dari kebutuhan rakyat.
Soso Radjamin galak terhadap Belanda, sebaliknya santun terhadap rakyat. Karakter yang lengkap ini juga disukai pasukan Jepang. Ketika datang pertama kali ke Surabaya, militer Jepang mengangkatnya sebagai walikota, menggantikan kedudukan Fuchter yang saat itu sibuk mengurusi soal deportasi bangsa Eropa dari Surabaya. Bahkan di masa pendudukan Jepang, Radjamin kerap bersinggungan dengan kebijakan pemerintah dari negeri sakura itu.
Saat pemerintahan Jepang menyatakan “kalah†dalam Perang Dunia II, setelah bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki, tepat pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia memprok-lamasikan kemerdekaannya, Takahashi Ichiro kemudian menyerahkan sepenuhnya kepala pemerintahan Kota Surabaya kepada wakilnya, yakn dr. Radjamin Nasution.
Ketika Jepang takluk atas sekutu, pimpinan Republik di Jakarta mengangkatnya menjadi walikota. Konon, pengangkatan Radjamin sebagai walikota incumbent itu atas penilaian Ir. Soekarno sendiri. Soekarno adalah putra daerah Surabaya (lahir dan dibesarkan di Surabaya). Ini berarti, Radjamin tidak memerlukan rekomendasi Amir Sjarifoeddin dan M. Hatta untuk penunjukannya, karena Soekarno sendiri yang merekomendasikan.
Soekarno, Hatta dan Amir adalah tiga founding father negara Republik Indonesia. Sedangkan Amir Sjarifoeddin (Harahap) adalah adik sekampung asal sama-sama beasal dari Tapanuli Selatan.
Radjamin Nasution yang bertempat tinggal di Jalan Alun-alun Rangkah, Surabaya itu, memerintah Kota Surabaya dalam suasana perang. Saat menjadi walikota, Radjamin lebih banyak disibukkan dengan urusan perang. Ketika terjadi pertempuran sengit antara Arek-arek Suroboyo melawan Sekutu yang dikendalikan oleh tentara Inggris, banyak korban berjatuhan. Ratusan dan mungkin ribuan orang gugur di medan perang Surabaya. Patriot bangsa ini kemudian dikuburkan di berbagai tempat.
Atas gagasan Walikota Surabaya Radjamin Nasution, kemudian pemakaman para pejuang yang gugur itu dipindahkan ke lapangan “Canna†(Sekarang TMP Kusuma Bangsa). Untuk pertama kalinya dimakamkan 26 orang pejuang. Upacara pemakaman ini dipimpin langsung oleh Radjamin Nasution selaku kepala pemerintahan Kota Surabaya. Salah satu putranya ialah Irsan Radjamin, suami dari wanita pejuang Surabaya, Hj. Lukita-ningsih Irsan Radjamin yang pernah menjabat Ketua Umum Wirawati Catur Panca (Ibu-ibu Kelasyakaran Pejuang Eksponen Angkatan 45).
Ketika menjadi walikota, Radjamin bersama stafnya sibuk mengurusi pengungsian. Radjamin yang seorang dokter juga mengambil posisi sebagai Kepala Dinas Kesehatan Surabaya dan mengkoor-dinasikan save and rescue terhadap pejuang-pejuang yang terluka dari medan perang.
Radjamin berinisiatif mengumpulkan pakaian bekas dan karung goni untuk bahan pakaian para pejuang di Surabaya. Radjamin mondar mandir antara markas pemerintahan Kota Surabaya di pengung-sian (Mojokerto dan Tulungagung) dan front pertempuran di Kota Surabaya. Namun setelah pengakuan kedaulatan RI, Radjamin yang bertindak sebagai walikota di pengungsian dan belum pernah dipecat, tak dinyana haknya diambil alih alias dirampas. Radjamin lebih memilih berjuang kembali lewat parlemen untuk bisa tetap dekat dengan rakyatnya.
Sesungguhnya Radjamin Nasution bergelar Sutan Kumala Pontas jauh sebelum dinobatkan rakyat Surabaya sebagai “Arek Soerabayaâ€. Radjamin sudah menganggap Kota Surabaya sebagai kampung halamannya sendiri.
Radjamin meninggal dunia pada 10 Feb-ruari 1957 dan dimakamkan di Surabaya. Saat jenazah disema-yamkan di rumah duka ada yang mengusulkan agar almarhum dima-kamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa.
Sebab, dalam kegiatannya menjelang dan setelah Kemerdekaan RI selalu berada di garis depan perjua-ngan. Namun atas “wasiat†almarhum yang disampaikan oleh anak-anaknya, ia ingin dimakamkan di tengah-tengah warga Surabaya. Radjamin Nasution dimakam-kan di Taman Pemakaman Umum Rangkah, di Jalan Kenjeran Surabaya.
Pada diakhir hayatnya beliau sempat tidak diakui sebagai Walikota Surabaya. Bisa jadi beliau dianggap orang pendatang, tapi cucuran keringat dan detak jantung cucuran darahnya telah tumpah untuk Surabaya. Fakta dan sejarah tak pernah bohong.Orang besar adalah orang yang menghargai jasa para pahlawannya. Soekarno sendiri semasa hidupnya menghargai jasa Radjamin Nasution.***
Dikutip dari Catatan Ali Sati Nasution, rencana penerbitan buku, Klan Nasution Ibarat Bahtera Nabi Nuh, Sarat Muatan..!
Thailand sumut24.co Kepala Pusat Kesehatan (Kapuskes) TNI Mayor Jenderal TNI dr. Hadi Juanda Sp.PD., MARS., CfrA, didampingi Kaunit Kermab
News
Nias Selatan sumut24.co Program Bakti TNI untuk Rakyat yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto terus menghadirkan manfaat bagi masyaraka
News
Labuhanbatu sumut24.co Titik panas (hotspot) terdeteksi melalui aplikasi pemantauan berbasis satelit NASANOAA20 di Dusun Wonorejo 33, Des
News
Kasus Sopir Truk Kayu Berbuntut Panjang Gakkum Kehutanan Disemprot Anggota DPRD Sumu
kota
Wali Kota menerima audiensi dan silaturahmi Fakultas Agama Islam UMA Pertemuan berlangsung di ruang kerja wali kota
News
Wali Kota Menyambut hangat kehadiranRektor Universitas UHKBPN dalam rangka MOu Dengan Pemko Siantar
kota
sumut24.co ASAHANl, Semangat baru bergulir di kancah politik Kabupaten Asahan. Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Solidaritas Indonesia (PS
News
Ketika Sampah Mengapung di Surga Pahawang
News
Titian Muhibah PTM ESU&ndashMalaysia, Pingpong Jadi Jembatan Persahabatan Bangsa Serumpun
Sport
PETA KEKUATAN 8 KANDIDAT KETUM PBNU SIAPA AKAN MEMENANGKAN MUKTAMAR NU KE35?
News