Bravo Satresnarkoba Polres Labuhanbatu atas tangkapan 4 Kg Garam China di Bus ALS
Bravo Satresnarkoba Polres Labuhanbatu atas tangkapan 4 Kg Garam China di Bus ALS
News
MEDAN|SUmut24
Baca Juga:
Film karya anak Medan kembali hadir. Kali ini, film yang disutradarai oleh Aziz, produser Wiliam Atapary‬ dan penulis Wiwin Vamela‬, berjudul ‘Sinamot’. Film tersebut diproduksi oleh Cinema Club Film. Untuk dapat menonton film ini, bisa membelinya di toko kaset Cinema Station, Jalan Dr Mansyur Medan, dengan harga terjangkau.
Penulis skenario Film Sinamot, Wiwin Vamela‬ mengungkapkan, film ini berlatar kehidupan adat istiadat Batak. Dimana, seorang pemuda melamar sang kekasih untuk dijadikan istri adalah hal yang susah-susah gampang. Sebab, isi kantong yang harus dikeluarkan tidaklah sedikit untuk sinamot atau istilah lainnya uang mahar.
‬ Keluarga calon istri wajib menentukan besaran sinamot untuk merayakan pernikahan seorang perempuan Batak yang identik dengan kemewahan. Jika angka sinamot tidak disepakati, bisa-bisa pernikahan itu gagal.
“Ayah Maya, Guntara, memberikan waktu 6 bulan pada Niko untuk memenuhi sinamot itu. Meski berat, Niko tetap optimis. Maya yang merupakan seorang sarjana pun menunggu dengan sabar. Di sisi lain, ada seorang perempuan batak, bernama Yanti yang mencintai Niko,” ungkap Wiwin didampingi para pemeran film tersebut dalam temu persnya di Champion Cafe, Jalan Dr Mansyur Medan, Minggu (29/5) siang.
Wiwin melanjutkan, Yanti tidak menuntut sinamot besar karena ia sadar hanya tamatan SD. Baginya, sinamot tidak penting karena ia hanya ingin bersama Niko. Hingga waktunya hampir habis, Maya mengajak Niko kawin lari dengan menikah di gereja saja tanpa harus ada pesta adat. ‬Maukah Niko menerima ajakan Maya?
“Fenomena inilah yang membuat kita menyajikan sebuah film yang berjudul Sinamot. Berkisah tentang perjuangan seorang pemuda Batak bernama Niko, dalam memenuhi sinamot permintaan keluarga calon isterinya, Maya,” jelas Wiwin.
‬Menurutnya, pesan moral yang disampaikan dari film ini adalah sebuah kerendahan hati dan perjuangan. Kemudian, keegoisan yang tidak akan berujung baik serta menjunjung tinggi nilai komitmen.
“Kenapa mengangkat film ini, karena saya menganggap ada hal unik dari budaya Batak. Kita ingin menampilkan drama film yang ringan dan mudah diserap oleh masyarakat luas,” ujar Wiwin.
Dia menjelaskan, skenario film tersebut ditulis pada Juni 2014 lalu dan syutingnya dimulai Agutus 2015 hingga Oktober. Untuk lokasi pengambilan gambarnya dilakukan di dua daerah, yakni Medan dan Serdang Bedagai dengan biaya yang dikeluarkan di bawah Rp20 juta.
“Sasaran dari film ini adalah semua kalangan, tidak hanya orang Batak saja. Saat ini sudah dicetak sekitar 10 ribu keping,” sebutnya.
Wiwin menambahkan, film ini diharapkan bisa mengisi kerinduan masyarakat Medan khususnya dan Sumut pada umumnya, terhadap film produksi lokal yang menghibur dan mendidik.(W04)
Bravo Satresnarkoba Polres Labuhanbatu atas tangkapan 4 Kg Garam China di Bus ALS
News
Agus Dwi Handaya Kembali Pimpin IKAFEBUSU Periode 20262030Medansumut24.co Agus Dwi Handaya kembali dipercaya menjadi Ketua Umum Ikatan A
News
Dr. Kaswinata Terpilih sebagai Ketua IAEI Sumut Periode 20262031Medansumut24.co Dr. Kaswinata, SE., Ak., CA., MSP., terpilih sebagai Ket
News
Negara Menjemput Warganya di Semenyih
News
Ahli Pers Nurhalim Tanjung AI Harus Jadi Asisten, Bukan Pengganti Wartawan
kota
Jembatan Tak Kunjung Dibangun, Warga Keluhkan Akses Bukit LawangTangkahan Rusak dan Ancam Demo ke PU
News
Kades Sei Musam Akui Terbatas Tangani Jalan dan Jembatan Rusak Kami Sudah Berupaya
News
Kesepakatan Menjadi Salah Satu Tahapan Penting Dalam Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
News
Teater, Pembangunan, dan Sikap Kritis
News
Mahasiswa Unimed Raih Juara III LKTN Nasional 2026, Soroti Pergeseran Nilai Pernikahan Semarga Mandailing di Era Digital
News