Ahli Pers Nurhalim Tanjung: AI Harus Jadi Asisten, Bukan Pengganti Wartawan
Ahli Pers Nurhalim Tanjung AI Harus Jadi Asisten, Bukan Pengganti Wartawan
kota
Baca Juga:
Hal itu disampaikan ahli pers Nurhalim Tanjung dalam kegiatan Media Gathering Penguatan Kapasitas Wartawan Media Siber Menghadapi Tantangan di Era AI yang digelar Forum Jurnalis Amilitan (FJM) di Pantai Citra, Desa Namo Sialang, Kabupaten Langkat, 5–6 September 2026.

Kegiatan tersebut diikuti wartawan media siber sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas dan profesionalisme jurnalis dalam menghadapi perubahan teknologi yang semakin cepat.
Menurut Nurhalim, wartawan tidak perlu menutup diri terhadap perkembangan AI. Sebaliknya, insan pers harus memahami dan memanfaatkan teknologi tersebut secara proporsional.
Namun, AI tidak boleh mengambil alih peran manusia dalam proses jurnalistik.
"AI itu kita anggap sebagai alternatif atau asisten. Bukan prioritas. Kita tetap menjadi penentunya," kata Nurhalim.
Ia menjelaskan, wartawan dapat menggunakan AI untuk membantu mengolah bahan, menyusun struktur tulisan, melakukan penyuntingan awal maupun mempercepat pekerjaan redaksi. Namun, seluruh informasi tetap harus diperiksa kembali oleh wartawan.
"Kita tidak menyerahkan 100 persen kepada AI. Kita edit lagi, kita periksa datanya, kita pastikan faktanya. Ada bahasa-bahasa yang kaku dan ada konteks yang tidak bisa begitu saja diserahkan kepada mesin," ujarnya.
Wartawan Harus Tetap Bisa Menulis
Nurhalim menilai kemampuan dasar jurnalistik justru semakin penting di tengah perkembangan AI.
Menurutnya, wartawan yang sepenuhnya bergantung kepada mesin berisiko kehilangan kemampuan berpikir dan menulis secara mandiri.
Ia mencontohkan pengalamannya ketika menjadi juri festival seni dan lomba penulisan feature bagi pelajar SMA. Dalam perlombaan tersebut, sejumlah peserta diketahui menggunakan AI untuk membuat karya.
Penggunaan AI itu dapat diketahui oleh juri karena terdapat karakter tertentu dalam tulisan yang berbeda dengan kemampuan peserta ketika mengikuti proses wawancara.
"Ketahuan. Kita yang biasa menulis bisa merasakan. Ada bagian wawancara juga. Ketika ditanya, akhirnya anak itu mengaku menggunakan AI," katanya.
Meski peserta tersebut meminta maaf, karya yang dibuat dengan bantuan AI tersebut tidak diloloskan dalam perlombaan.
Sebaliknya, terdapat peserta yang memang memiliki pengalaman mengikuti kegiatan jurnalistik atau ekstrakurikuler di sekolah dan mampu menghasilkan tulisan yang kuat.
"Yang memang biasa menulis justru bagus-bagus. Mereka punya pengalaman, punya cara melihat persoalan dan punya gaya sendiri," ujarnya.

Menurut Nurhalim, pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa teknologi tidak serta-merta dapat menggantikan kemampuan manusia.
Karya Manusia Harus Tetap Menjadi Prioritas
Dalam menghadapi era AI, Nurhalim juga menilai perlu adanya kesepakatan di kalangan media mengenai batas penggunaan teknologi tersebut.
Jika terdapat dua berita mengenai peristiwa yang sama dengan kualitas yang relatif sama, namun satu ditulis manusia dan satu lagi sangat bergantung pada AI, maka karya yang dibuat manusia semestinya mendapatkan prioritas.
"Kalau ada berita dari peristiwa yang sama, satu dibuat AI dan satu dibuat manusia, maka prioritaskan yang dibuat manusia," tegasnya.
Alasannya, wartawan memiliki tanggung jawab langsung terhadap produk jurnalistik yang diterbitkan.
"Kalau terjadi masalah, lebih mudah mempertanggungjawabkannya karena itu karya manusia. Wartawan yang melakukan wawancara, melihat langsung peristiwa dan memahami konteksnya," jelasnya.
Karena itu, menurutnya, penggunaan AI dalam jurnalistik harus ditempatkan dalam kerangka etika dan tanggung jawab profesi.
Jangan Sampai Wartawan Kehilangan Kemampuan Berpikir
Nurhalim juga menyoroti kebiasaan wartawan yang semakin bergantung pada perangkat digital.
Padahal, kegiatan sederhana seperti mencatat poin-poin hasil wawancara tetap memiliki fungsi penting dalam melatih daya ingat dan kemampuan berpikir.
"Kenapa kita tetap disuruh menulis? Karena itu melatih otak. Saya sendiri masih membuat notes dan bullet point. Poin-poin itu kita tulis, kemudian kita ingat kembali," katanya.
Menurut dia, proses mencatat, mengingat, mengolah informasi dan kemudian menyusunnya menjadi berita merupakan bagian penting dari kerja jurnalistik.
Karena itu, wartawan tidak boleh hanya menjadi operator teknologi.
"Kita yang menentukan. AI hanya alat bantu," katanya.
Industri Media Tidak Bisa Menghindari AI
Meski menekankan pentingnya kemampuan manusia, Nurhalim mengakui bahwa industri media tidak mungkin menghindari perkembangan AI.
Tekanan produksi berita yang semakin tinggi membuat sejumlah ruang redaksi mulai menggunakan AI untuk membantu pekerjaan editor.
Jika sebelumnya seorang editor hanya mampu menyunting sekitar 20–30 berita dalam sehari, teknologi AI dapat membantu mempercepat proses tersebut hingga puluhan bahkan sekitar 50–100 berita, tentunya dengan tetap membutuhkan pemeriksaan manusia.
"Ini tuntutan zaman. Editor juga banyak yang menggunakan AI. Tapi tetap harus ada manusia yang mengedit dan memutuskan," ujarnya.
Karena itu, persoalannya bukan lagi menggunakan atau tidak menggunakan AI, tetapi bagaimana teknologi tersebut digunakan secara bertanggung jawab.
Perlu Kesepakatan Bersama Media
Nurhalim menilai organisasi wartawan dan perusahaan media perlu membangun kesepakatan yang jelas mengenai penggunaan AI dalam proses jurnalistik.
Kesepakatan itu penting agar perkembangan teknologi tidak justru menggerus standar profesionalisme dan kredibilitas pers.
"Kalau kita mau memikirkan masa depan media dan profesi kita, harus ada kesepakatan yang tegas. Tidak bisa hanya satu media yang sepakat, sementara media lain menggunakan AI tanpa batas," katanya.
Kegiatan Media Gathering Penguatan Kapasitas Wartawan Media Siber Menghadapi Tantangan di Era AI yang digelar FJM tersebut menjadi salah satu ruang untuk mendiskusikan perubahan tersebut.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Forum Jurnalis Amilitan (FJM) dan mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, PDAM Tirtanadi Sumatera Utara, Bank Sumut, Telkomsel dan Indosat.
Melalui forum tersebut, wartawan didorong tidak hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga memperkuat kembali fondasi utama jurnalistik: kemampuan berpikir, kemampuan menulis, verifikasi fakta, independensi dan tanggung jawab terhadap publik.
Sebab, di tengah semakin canggihnya mesin menghasilkan tulisan, nilai seorang wartawan justru semakin ditentukan oleh kemampuannya menemukan fakta, memahami persoalan dan memberikan konteks yang tidak dapat digantikan hanya dengan perintah kepada mesin.red
Ahli Pers Nurhalim Tanjung AI Harus Jadi Asisten, Bukan Pengganti Wartawan
kota
Jembatan Tak Kunjung Dibangun, Warga Keluhkan Akses Bukit LawangTangkahan Rusak dan Ancam Demo ke PU
News
Kades Sei Musam Akui Terbatas Tangani Jalan dan Jembatan Rusak Kami Sudah Berupaya
News
Kesepakatan Menjadi Salah Satu Tahapan Penting Dalam Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
News
Teater, Pembangunan, dan Sikap Kritis
News
Mahasiswa Unimed Raih Juara III LKTN Nasional 2026, Soroti Pergeseran Nilai Pernikahan Semarga Mandailing di Era Digital
News
sumut24.co MEDAN, Wali Kota Medan, Rico Waas, secara resmi melantik Antonius Devolis Tumanggor sebagai Ketua Lembaga Pembinaan dan Pengemba
kota
sumut24.co ASAHAN, Pemerintah Kabupaten Asahan secara resmi melepas kontingen sepak bola yang akan berlaga dalam ajang Piala Soeratin tingk
kota
sumut24.co BATUBARA, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) memberikan respons kemanusiaan untuk masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Te
News
Bukan Sekadar MoU, UNPAB Perkuat Langkah Menuju Kampus Berdampak Bersama KLH/BPLH RI
News