Selasa, 21 Juli 2026

Cintai Film Daerah, Yuk Nonton "Sinamot"

Administrator - Minggu, 29 Mei 2016 10:41 WIB
Cintai Film Daerah, Yuk Nonton

MEDAN|SUmut24

Baca Juga:

Film karya anak Medan kembali hadir. Kali ini, film yang disutradarai oleh Aziz, produser Wiliam Atapary‬ dan penulis Wiwin Vamela‬, berjudul ‘Sinamot’. Film tersebut diproduksi oleh Cinema Club Film. Untuk dapat menonton film ini, bisa membelinya di toko kaset Cinema Station, Jalan Dr Mansyur Medan, dengan harga terjangkau.

Penulis skenario Film Sinamot, Wiwin Vamela‬ mengungkapkan, film ini berlatar kehidupan adat istiadat Batak. Dimana, seorang pemuda melamar sang kekasih untuk dijadikan istri adalah hal yang susah-susah gampang. Sebab, isi kantong yang harus dikeluarkan tidaklah sedikit untuk sinamot atau istilah lainnya uang mahar.

‬ Keluarga calon istri wajib menentukan besaran sinamot untuk merayakan pernikahan seorang perempuan Batak yang identik dengan kemewahan. Jika angka sinamot tidak disepakati, bisa-bisa pernikahan itu gagal.

“Ayah Maya, Guntara, memberikan waktu 6 bulan pada Niko untuk memenuhi sinamot itu. Meski berat, Niko tetap optimis. Maya yang merupakan seorang sarjana pun menunggu dengan sabar. Di sisi lain, ada seorang perempuan batak, bernama Yanti yang mencintai Niko,” ungkap Wiwin didampingi para pemeran film tersebut dalam temu persnya di Champion Cafe, Jalan Dr Mansyur Medan, Minggu (29/5) siang.

Wiwin melanjutkan, Yanti tidak menuntut sinamot besar karena ia sadar hanya tamatan SD. Baginya, sinamot tidak penting karena ia hanya ingin bersama Niko. Hingga waktunya hampir habis, Maya mengajak Niko kawin lari dengan menikah di gereja saja tanpa harus ada pesta adat. ‬Maukah Niko menerima ajakan Maya?

“Fenomena inilah yang membuat kita menyajikan sebuah film yang berjudul Sinamot. Berkisah tentang perjuangan seorang pemuda Batak bernama Niko, dalam memenuhi sinamot permintaan keluarga calon isterinya, Maya,” jelas Wiwin.

‬Menurutnya, pesan moral yang disampaikan dari film ini adalah sebuah kerendahan hati dan perjuangan. Kemudian, keegoisan yang tidak akan berujung baik serta menjunjung tinggi nilai komitmen.

“Kenapa mengangkat film ini, karena saya menganggap ada hal unik dari budaya Batak. Kita ingin menampilkan drama film yang ringan dan mudah diserap oleh masyarakat luas,” ujar Wiwin.

Dia menjelaskan, skenario film tersebut ditulis pada Juni 2014 lalu dan syutingnya dimulai Agutus 2015 hingga Oktober. Untuk lokasi pengambilan gambarnya dilakukan di dua daerah, yakni Medan dan Serdang Bedagai dengan biaya yang dikeluarkan di bawah Rp20 juta.

“Sasaran dari film ini adalah semua kalangan, tidak hanya orang Batak saja. Saat ini sudah dicetak sekitar 10 ribu keping,” sebutnya.

Wiwin menambahkan, film ini diharapkan bisa mengisi kerinduan masyarakat Medan khususnya dan Sumut pada umumnya, terhadap film produksi lokal yang menghibur dan mendidik.(W04)

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
SHARE:
beritaTerkait
PM Narendra Modi Melaksanakan Kunjungan Kenegaraan ke Indonesia, Semakin Memperkuat Kemitraan Strategis Komprehensif India - Indonesia
Rianto, SH., MH Apresiasi Sikap Ketua Dewan Pers dan Ketua Umum PWI yang Mengecam Pernyataan Hotman Paris yang Dinilai Merendahkan Profesi Wartawan
Momen Peringatan Hari Jadi Kabupaten Palas ke 19, BRI Kolaborasi Dukung Program Pemerintah Untuk Pertumbuhan Ekonomi
Wagub Sumut Dengarkan Mimpi Anak-anak Nias, Dorong Revitalisasi UPTD Pelayanan Sosial Anak Gunungsitoli
Bunda Indah Ajak Ribuan Perempuan Semarakkan Hari Kebaya Nasional 2026 di Medan, Gaungkan Kebaya sebagai Identitas Bangsa*
Guru Besar Ilmu Politik Sebut Presiden Prabowo Tegak Lurus pada Konstitusi, Tidak Ada Ruang untuk Intervensi Hukum*
komentar
beritaTerbaru