Anggota Komisioner Panwaslu, Aulia Andri: Bangun Peradaban Kota Medan

Medan | Sumut24

Medan, kota yang kita cintai ini semakin semrawut. Jalanan kota rusak, sampah bertebaran dimana-mana, aksi kriminal begal menjadi-jadi, serta banjir menjadi langganan. Pertanyaannya, apa yang bisa kita perbuat? Celemotan di media sosial? Atau cuma memendam rasa kecewa dalam hati.

#RembukWargaMedan adalah sebuah gerakan moral. Berangkat dari rasa keprihatinan warga Medan terhadap kondisi terkini kotanya. Gerakan ini adalah gerakan nurani yang ingin mendorong Medan menjadi kota yang lebih beradab. Keyakinannya, bahwa Medan sebagai sebuah kota, haruslah menjadi pusat peradaban yang dibangun dengan hati dan nurani. Bahwa gerakan ini ingin menunjukkan, ketika para pemegang mandat kekuasaan kehilangan nurani dan hati, masih ada warganya yang peduli.

Sebuah kutipan dari Ridwan Kamil (RK), Walikota Bandung yang menyatakan bahwa “Jika salah mengelola sebuah kota, maka hancurlah peradaban”, seperti cemeti yang membuat kita sadar, bahwa Medan bukan hanya untuk kita hari ini. Medan akan menjadi tempat berteduh anak dan cucu kita di masa mendatang. Medan hari ini akan sangat menentukan nasib Medan 20 tahun atau 40 tahun mendatang.

Hingga hari ini, kita belum melihat adanya niat untuk membangun peradaban di Kota Medan. Para pemegang mandat dari warga Medan, seolah diam dan diam. Mereka seperti Merak yang jika berjalan harus diiringi para dayang. Menunggu laporan datang. Meminta warga menghadap untuk mengadukan persoalan yang seharusnya menjadi tanggungjawab para pemegang mandat.

Suguhan seremoni demi seremoni yang terpampang, membuat warga Medan muak. Kalaupun menyelesaikan persoalan, selalu saja masih dengan gaya otoriter kekuasaan. Tak pernah mau menyelesaikan persoalan langsung di bawah. Arogansi kekuasaan selalu ditunjukkan.

Lihat juga laman-laman koran yang cuma diisi berita acara seremoni, macam; menerima audensi, jamuan makan malam, gerak jalan santai, malam ramah tamah dan hal-hal yang tak menyentuh pada cita-cita membangun peradaban. Tak pernah ada cerita bahwa dari warga Medan bahwa mereka terkesan pemimpinnya hadir bersama-sama mereka menyelesaikan persoalan. Kita seolah tak pernah menemukan sisi humanis dari seorang pemimpin kota, seorang yang diberi mandat menjadi pemimpin.

Maka jangan salahkan, individu-individu dinamis, kelompok-kelompok kreatif muncul mengkritisi. Hashtag #BukanMedanRumahKita, #MedanAutoPilot, #MedanRumahSiapa muncul menjadi tranding topik. Dari media sosial kaum muda kreatif ini bergerak. Mereka bicara apa adanya. Mereka hanya punya satu rasa: prihatin terhadap kondisi Kota Medan.

#RembukWargaMedan menjadi semacam wadah. Kumpulan kaum muda kreatif yang merasa kotanya hampir tenggelam dalam ketertinggalan. Mereka merasa terabaikan dari peradaban sebuah kota dan kini, mereka ingin bergerak. Mereka berjalan membangun peradaban lewat media sosial, karya kreatif dan kritik inovatif. Jangan pernah berharap mereka berhenti hingga perasaan prihatin mereka musnah. Jika pun mereka harus kendor karena waktu, maka waktu pun akan menggantikan wajah-wajah baru yang tak kalah kreatifnya.

Wahai para pemegang mandat, tak perlu khawatir atau sinis. Kami juga tak berminat duduk disinggasanamu. Nikmatilah waktumu, cobalah bekerjalah dengan nurani. Tapi, kami akan tetap bergerak untuk membangun peradaban di kota ini, tanpa dirimu, atau tidak! (R01)