Jaga Daya Beli Warga, Sekda Padangsidimpuan Pantau Harga Sembako di Dua Pasar
Jaga Daya Beli Warga, Sekda Padangsidimpuan Pantau Harga Sembako di Dua Pasar
kota
Baca Juga:
Tabagsel | Sumut24.co
Menjelang pelaksanaan Konferensi IX PWI Tabagsel Tahun 2026, sorotan terhadap kesiapan dan independensi panitia mulai mengemuka. Mantan Ketua PWI Tabagsel periode kelima dan keenam yang kini dipercaya sebagai Penasehat PWI Tabagsel, Hairul Iman Hasibuan, M.IKom., meminta seluruh panitia bekerja secara profesional dan tidak melampaui batas kewenangan.
Hairul menilai, konferensi bukan sekadar agenda pergantian kepemimpinan. Lebih dari itu, forum tersebut menjadi ruang untuk menentukan arah organisasi melalui mekanisme yang demokratis dan sesuai aturan.
Karena itu, menurutnya, setiap tahapan harus dijalankan secara tertib. Termasuk dalam persoalan pencalonan Ketua PWI Tabagsel yang dinilai tidak boleh diputuskan secara sepihak sebelum konferensi berlangsung.
Hairul menegaskan, panitia memiliki posisi strategis dalam mempersiapkan dan menyukseskan pelaksanaan konferensi. Namun, posisi tersebut tidak otomatis memberikan kewenangan kepada panitia untuk menentukan siapa yang sah menjadi calon Ketua PWI Tabagsel.
Ia menjelaskan, persyaratan calon memang telah diatur dalam PD/PRT PWI. Akan tetapi, pemenuhan persyaratan dan pengesahan seseorang sebagai calon tetap harus mengikuti mekanisme persidangan konferensi.
"Persyaratan memang diatur dalam PD/PRT PWI, tetapi penetapan siapa yang memenuhi syarat sebagai calon secara sah dilakukan dalam forum konferensi, bukan sebelum konferensi," ujar Hairul Iman.
Menurutnya, hal tersebut penting diperjelas sejak awal agar tidak muncul kesan bahwa hasil konferensi telah ditentukan sebelum peserta memasuki ruang persidangan.
Hairul juga mengingatkan para bakal calon agar tidak terlalu dini membangun klaim mengenai siapa yang akan menjadi Ketua maupun susunan kepengurusan.
Ia menilai, pernyataan yang seolah-olah memastikan hasil konferensi sebelum pemilihan justru dapat memunculkan persepsi negatif dan mengganggu suasana demokratis organisasi.
"Tidak tepat jika sebelum konferensi sudah ada pihak yang menyatakan, 'hanya saya dan dia yang memenuhi syarat, saya jadi ketua dan dia jadi sekretaris, selesai'. Menurut saya, itu terlalu percaya diri," katanya.
Dengan nada santai namun tegas, Hairul mengingatkan bahwa keputusan akhir tidak berada di tangan kandidat maupun kelompok tertentu.
"Yang menentukan bukan klaim pribadi, tetapi forum konferensi dan suara peserta. Iya kalau ada yang memilih, kalau tidak ada bagaimana?" ujarnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa dukungan politik organisasi sebelum konferensi belum dapat dipandang sebagai keputusan final.
Hairul menjelaskan, proses menuju pemilihan Ketua PWI Tabagsel tidak berhenti pada pendaftaran bakal calon.
Dalam mekanisme konferensi, peserta akan terlebih dahulu mengikuti rangkaian persidangan, termasuk pembahasan program kerja organisasi melalui sidang komisi. Setelah tahapan tersebut, proses kemudian berlanjut pada pencalonan Ketua.
Para bakal calon harus memenuhi ketentuan yang berlaku, termasuk memperoleh dukungan minimal lima suara dari anggota biasa sebagaimana mekanisme yang disebutkan dalam aturan organisasi.
Namun, pemenuhan persyaratan tersebut tetap harus diuji dan diputuskan melalui forum persidangan.
Dengan demikian, seseorang baru dapat dinyatakan sebagai calon setelah mekanisme konferensi menyatakan yang bersangkutan memenuhi seluruh ketentuan.
"Jadi, jangan mendahului keputusan forum," tegas Hairul.
Menurut Hairul, keberadaan panitia sangat penting karena menjadi bagian dari persiapan teknis pelaksanaan konferensi.
Panitia bertugas menyiapkan berbagai kebutuhan, mulai dari administrasi, teknis kegiatan, tempat pelaksanaan, hingga aspek seremonial.
Sementara itu, persoalan yang menyangkut kebijakan organisasi perlu dikoordinasikan oleh Ketua PWI Tabagsel dan jajaran pengurus dengan struktur organisasi di atasnya.
"Panitia pada prinsipnya bertugas menyiapkan dan melaksanakan aspek teknis serta seremonial konferensi. Panitia bukan pihak yang menetapkan atau mengesahkan siapa yang memenuhi syarat menjadi calon Ketua," jelasnya.
Hairul berharap batas antara tugas teknis panitia dan kewenangan organisasi benar-benar dijaga. Sebab, menurut dia, tumpang tindih kewenangan justru berpotensi melahirkan polemik baru menjelang konferensi.
Sebagai Penasehat PWI Tabagsel, Hairul menyatakan mendukung pelaksanaan konferensi yang terbuka, objektif dan demokratis.
Namun, ia memberikan catatan penting: transparansi tidak boleh ditafsirkan sebagai kebebasan untuk mengambil keputusan di luar kewenangan.
"Saya mendukung proses yang transparan dan objektif. Namun, jangan sampai panitia mengambil kewenangan yang bukan menjadi tugasnya," katanya.
Ia berharap seluruh peserta memperoleh informasi yang sama mengenai tahapan konferensi, persyaratan pencalonan, hingga mekanisme pemilihan.
Keterbukaan tersebut dinilai penting untuk mencegah munculnya kecurigaan, prasangka maupun tudingan bahwa proses konferensi telah diarahkan kepada kepentingan tertentu.
Selain persoalan pencalonan, Hairul juga menyoroti mengenai waktu pelaksanaan Konferensi IX PWI Tabagsel.
Menurutnya, terbentuknya panitia belum otomatis berarti seluruh jadwal konferensi dapat langsung ditetapkan.
Persiapan sebuah konferensi organisasi, kata dia, membutuhkan waktu dan koordinasi yang tidak singkat. Bahkan, prosesnya bisa berlangsung dua hingga tiga bulan, tergantung kesiapan teknis serta agenda organisasi pada tingkat provinsi maupun pusat.
"Apalagi PWI Sumut sendiri sedang mempersiapkan Konferensi PWI Sumut yang dijadwalkan November ini. Jadi, semua harus melalui koordinasi dan penjadwalan organisasi secara berjenjang," jelas Hairul.
Dengan kondisi tersebut, ia meminta seluruh pihak tidak terburu-buru membuat kesimpulan mengenai waktu pelaksanaan sebelum ada keputusan resmi dari struktur organisasi terkait.
Lebih lanjut, Hairul menilai, tantangan terbesar menjelang konferensi bukan hanya memastikan siapa yang akan maju sebagai kandidat, tetapi menjaga agar proses demokrasi organisasi tetap berjalan sehat.
Menurutnya, jika konferensi hanya dipandang sebagai arena perebutan kursi ketua, maka tujuan organisasi yang lebih besar berpotensi terabaikan.
Ia mengingatkan seluruh bakal calon untuk menawarkan gagasan, program dan kapasitas kepemimpinan, bukan sekadar membangun klaim kemenangan sebelum bertanding.
"Jangan membangun opini seolah-olah hasil konferensi sudah ditentukan sebelum konferensi berlangsung. Konferensi adalah forum demokrasi organisasi. Yang menentukan adalah aturan, forum persidangan dan suara peserta, bukan klaim atau pernyataan sepihak," tegasnya.
Lebih jauh, Hairul berharap Konferensi IX PWI Tabagsel dapat menjadi momentum memperbaiki sekaligus memperkuat organisasi.
Menurutnya, siapa pun yang nantinya memperoleh mandat harus mampu merangkul seluruh anggota, meningkatkan kompetensi wartawan, memperkuat solidaritas serta memperjuangkan kepentingan dan kesejahteraan anggota.
"Yang paling penting, jangan kita rusak proses konferensi hanya karena kepentingan sesaat. Berkompetisilah secara sehat, ikuti tahapan, hormati forum, dan serahkan keputusan kepada mekanisme organisasi," pungkasnya.
Pesan tersebut menjadi relevan di tengah meningkatnya dinamika menjelang konferensi. Sebab, semakin dekat sebuah kontestasi organisasi, semakin besar pula potensi munculnya manuver, klaim dukungan dan tarik-menarik kepentingan.
Karena itu, Konferensi IX PWI Tabagsel 2026 semestinya tidak hanya diuji dari siapa yang akhirnya terpilih, tetapi juga dari seberapa fair proses menuju keputusan tersebut dijalankan.
Bagi Hairul Iman, kepentingan pribadi dan kelompok tidak boleh ditempatkan di atas marwah organisasi. Kursi ketua hanya merupakan hasil akhir. Yang jauh lebih penting adalah memastikan proses konferensi berlangsung sesuai aturan, terbuka, demokratis dan dapat dipertanggungjawabkan kepada seluruh anggota.zal
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Jaga Daya Beli Warga, Sekda Padangsidimpuan Pantau Harga Sembako di Dua Pasar
kota
Setahun Pindah Gedung, RSUD Panyabungan Genjot Layanan CT Scan, Kanker hingga Jantung, Wabup Atika Rumah Sakit Harus Makin Maju
kota
Wabup Atika Kejar Tuntas Persiapan Sekolah Rakyat Madina, Seluruh Dokumen Ditarget Rampung Akhir Agustus
kota
Dukung Program Prabowo, Wabup Atika Tanam Bawang Putih di Ulupungkut Madina
kota
HUT ke81 RI di Madina, Bupati Saipullah Serukan Perjuangan Baru Melawan Kemiskinan dan Ketertinggalan
kota
Bupati Saipullah Dorong RSUD Panyabungan Jadi Rumah Sakit Rujukan Utama di Tabagsel
kota
Bupati Palas Putra Mahkota Alam Buka Konsultasi Publik RDTR Sibuhuan, Dorong Ibu Kota Kabupaten Lebih Tertata
kota
Pria 41 Tahun Tak Jerah Ditangkap Polres Padangsidimpuan di Sitamiang, Temukan 11 Bungkus Diduga Ganja
kota
Propam Polres Tapsel Tegas! Anggota Diingatkan Jauhi Judi Online dan Pinjol Ilegal
kota
Jelang Konferensi IX PWI Tabagsel, Hairul Iman "Jangan Mendahului Keputusan Forum
kota