PKA III BPSDM Sumut Studi Lapangan ke PT Transjakarta, Pelajari Inovasi Pelayanan Publik
Peserta PKA Angkatan III Kelompok Genap BPSDM Sumut  Studi Lapangan ke PT Transjakarta, Pelajari Inovasi Pelayanan Publik dan Kepemimpinan T
News
Baca Juga:
MEDAN — Delapan puluh satu tahun setelah peristiwa Rengasdengklok, semangat dan kegelisahan pemuda dalam perjalanan menuju Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia kembali menjadi bahan refleksi. Peristiwa yang terjadi pada 16 Agustus 1945 itu dinilai menyimpan pesan penting bahwa generasi muda memiliki peran dalam menentukan arah masa depan bangsa.
Dalam tulisan reflektif berjudul "Getaran Pemuda, 81 Tahun Kemudian", Dhafa Pohan menggambarkan bagaimana para pemuda ketika itu tidak ingin kemerdekaan Indonesia terlalu lama menunggu keputusan pihak lain.
Soekarno dan Mohammad Hatta dibawa para pemuda ke Rengasdengklok. Peristiwa tersebut kemudian dikenal sebagai salah satu rangkaian penting yang mengantarkan Indonesia menuju Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
Menurut Dhafa, tindakan para pemuda kala itu bukan sekadar bentuk keberanian, tetapi juga cerminan kegelisahan terhadap masa depan bangsa.
"Bagi mereka, kemerdekaan bukan sesuatu yang pantas diberikan oleh bangsa lain. Ia harus lahir dari keberanian bangsa sendiri," tulis Dhafa.
Delapan puluh satu tahun kemudian, situasi Indonesia tentu telah berubah. Generasi muda tidak lagi menghadapi penjajahan secara fisik. Namun, menurut Dhafa, tantangan yang dihadapi generasi muda tetap besar, mulai dari akses pendidikan, lapangan pekerjaan hingga kesempatan untuk membangun masa depan.
Ia mempertanyakan apakah semangat pemuda 1945 masih hidup dalam diri generasi muda saat ini atau justru telah berubah menjadi rutinitas perayaan kemerdekaan setiap tahun.
Pertanyaan tersebut kemudian dikaitkan dengan persoalan pendidikan dan perdebatan mengenai prioritas anggaran negara. Dhafa menilai, persoalan tersebut tidak semata-mata mengenai angka anggaran, tetapi menyangkut pilihan negara terhadap masa depan generasi berikutnya.
"Setiap kali sebuah negara menentukan prioritas, ada masa depan yang sedang dipilih," tulisnya.
Dhafa juga menggunakan istilah "pencurian masa depan" untuk menggambarkan berbagai persoalan yang secara perlahan dapat mengurangi kesempatan generasi muda, seperti mahalnya pendidikan, sulitnya mendapatkan pekerjaan, sempitnya kesempatan serta penyalahgunaan kekuasaan.
Menurutnya, pencurian semacam itu tidak selalu berlangsung secara gaduh. Dampaknya baru terasa ketika generasi muda menyadari bahwa masa mudanya telah habis untuk mengejar kesempatan yang seharusnya dapat mereka peroleh.
Refleksi tersebut kemudian diperluas dengan kondisi masyarakat di Nusa Tenggara Timur yang menghadapi bencana gempa. Jika bagi sebagian masyarakat getaran menjadi simbol kegelisahan dan semangat, bagi warga yang terdampak bencana, getaran bumi merupakan ancaman nyata terhadap keselamatan dan tempat tinggal mereka.
Dari situ muncul pertanyaan yang lebih luas mengenai makna kemerdekaan. Apakah kemerdekaan cukup dimaknai melalui upacara, pengibaran bendera dan perayaan tahunan, atau harus diwujudkan melalui kepedulian terhadap persoalan rakyat?
Dhafa berpandangan bahwa generasi saat ini tidak perlu mengulangi tindakan para pemuda Rengasdengklok. Namun, keberanian, kepedulian dan kegelisahan terhadap persoalan bangsa harus kembali dihidupkan.
"Bukan dengan kekerasan. Bukan dengan kebencian. Tetapi dengan belajar, bertanya, mengkritik, bekerja, dan berani mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak semestinya dibiarkan," tulisnya.
Ia menilai kemerdekaan pada dasarnya merupakan pekerjaan yang tidak pernah selesai. Jika generasi 1945 memiliki tugas merebut kemerdekaan dari penjajahan, maka generasi sekarang memiliki tugas memastikan kemerdekaan memberikan kesempatan yang adil bagi seluruh rakyat.
Pendidikan, pekerjaan, kesejahteraan dan pemerintahan yang bertanggung jawab menjadi bagian dari perjuangan mengisi kemerdekaan.
"Merah putih akhirnya bukan hanya kain yang berkibar di tiang. Ia adalah pengingat bahwa pernah ada pemuda yang tidak tahan melihat masa depan bangsanya terlalu lama menunggu," demikian refleksi Dhafa.
Ia pun menutup tulisannya dengan sebuah pertanyaan: apakah dada generasi muda Indonesia masih bergetar, atau mereka hanya berdiri tegak karena sudah mengetahui kapan harus hormat dan kapan harus bergerak?
Menurutnya, ancaman terbesar bagi sebuah bangsa bukan hanya ketika tanahnya bergetar atau ketika anak mudanya gelisah, melainkan ketika semuanya sudah tidak lagi bergetar sementara ketidakadilan terus berjalan seperti biasa.
Penulis: Dhafa Pohan
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Peserta PKA Angkatan III Kelompok Genap BPSDM Sumut  Studi Lapangan ke PT Transjakarta, Pelajari Inovasi Pelayanan Publik dan Kepemimpinan T
News
Tajak 5 Sumur saat Pemulihan Pascabencana, Pertamina EP Rantau Buktikan Ketangguhan Pejuang Energi
News
BPJS Kesehatan Perluas Kerja Sama dengan Asuransi Kesehatan Tambahan
News
PKSS Perkuat Profesionalisme 7.943 Satpam Lewat Jambore dan Pendidikan Gada Pratama
News
Jalan Rp94,3 Miliar di Paluta Sudah Rusak Sebelum Tahun Anggaran Berakhir, GMPT Desak KPK Periksa Proyek Sipiongot
News
Pemprov Sumut Genjot Realisasi Pembangunan Daerah, Targetkan Tuntas Sebelum Akhir Tahun
News
Jakarta sumut24.co Media sosial sempat riuh oleh hujatan terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Video siswa yang dilarikan ke puskes
News
Kompak Perangi Bandar Narkoba! Kejaksaan Padangsidimpuan Dapat BackUp JMSI, MUI dan Masyarakat
News
Lagi lagi dan lagi, Empat Dosen Raih Jabatan Lektor Kepala, UNPAB Perkuat Kapasitas SDM untuk Pengembangan Pendidikan Tinggi
News
Resmi Pimpin Polda Sumut, Irjen Pol Sonny Irawan Disambut Ulos dan Tarian Tradisional
News