Baca Juga:
Padangsidimpuan | Sumut24.co
Praktisi konservasi alam dan pertanian berkelanjutan, Rasyid Assaf Dongoran, mengajak masyarakat Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) untuk mengubah pola pikir dalam membangun sektor pertanian. Menurutnya, kemajuan daerah tidak akan terwujud jika hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah ataupun pihak lain, tetapi harus lahir dari semangat bekerja, memanfaatkan potensi yang dimiliki, serta menjaga kelestarian alam.
Seruan tersebut disampaikan Rasyid setelah lebih dari dua dekade atau sekitar 25 tahun berkecimpung dalam upaya konservasi lingkungan dan pengembangan pertanian berkelanjutan di kawasan Tabagsel. Ia menilai, daerah yang memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah ini memiliki peluang besar menjadi salah satu pusat pertanian unggulan di Sumatera Utara apabila dikelola secara mandiri dan berkelanjutan.
Dalam pernyataan tertulis yang diterima media, Selasa (4/8/2026), Rasyid menegaskan bahwa pembangunan pertanian tidak boleh hanya bergantung pada program bantuan, melainkan harus dimulai dari kesadaran masyarakat untuk mengolah lahan dan mengembangkan potensi yang dimiliki.
"Pembangunan pertanian berbasis komoditas utama masa depan harus dibangun oleh keringat dan pengorbanan kita sendiri. Jangan menunggu, jangan menutup mata pada potensi diri, dan jangan hanya menuntut negara," tegas Rasyid.
Menurutnya, keberhasilan sektor pertanian sangat ditentukan oleh kesungguhan masyarakat dalam bekerja dan merawat alam. Ia menyebut hukum alam selalu berlaku, di mana setiap usaha yang dilakukan hari ini akan menentukan hasil yang dinikmati pada masa mendatang.
"Apa yang kita tanam dan perbuat hari ini, termasuk cara kita memperlakukan tanah, itulah yang akan kita tuai kelak. Jika kita hanya menunggu orang lain bergerak, maka yang hilang adalah waktu. Sebaliknya, ikhtiar yang baik dan kepedulian terhadap alam akan menghasilkan manfaat yang berkelanjutan," ujarnya.
Rasyid menilai kawasan Tabagsel memiliki modal alam yang sangat kuat untuk mengembangkan sektor pertanian. Kawasan hutan dan pegunungan seperti Batangtoru, Angkola, Siondop hingga Barumun merupakan ekosistem penting yang tidak hanya menjadi sumber air dan penyangga kehidupan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi apabila dikelola secara bijaksana.
Karena itu, ia mengingatkan agar pembangunan pertanian tidak dilakukan dengan cara yang merusak lingkungan. Sebaliknya, konsep green agriculture atau pertanian ramah lingkungan harus menjadi arah pembangunan sektor pertanian di masa depan.
Konsep tersebut, kata Rasyid, dapat diterapkan melalui penggunaan pupuk organik, pestisida nabati, sistem agroforestri, konservasi tanah dan air, serta pengelolaan limbah pertanian yang ramah lingkungan agar produktivitas lahan tetap terjaga hingga generasi berikutnya.
Dalam pandangannya, terdapat sedikitnya lima komoditas strategis yang berpotensi menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat apabila dikembangkan secara berkelanjutan.
Komoditas pertama adalah kopi Arabika dan Robusta yang ditanam menggunakan sistem naungan alami di bawah tegakan pohon. Pola ini dinilai mampu menjaga keanekaragaman hayati sekaligus menghasilkan kopi berkualitas tinggi.
Selanjutnya adalah vanili, yang disebutnya sebagai "emas hijau" karena memiliki nilai ekonomi tinggi. Tanaman ini dapat dibudidayakan secara organik di lahan pekarangan maupun kawasan yang teduh tanpa merusak struktur tanah.
Komoditas ketiga ialah kakao, yang menurut Rasyid sangat ideal dikembangkan melalui sistem agroforestri dengan tanaman pelindung serta didukung kelembagaan petani yang berorientasi pada pelestarian lingkungan.
Ia juga menilai durian varietas unggul memiliki prospek besar sebagai investasi jangka panjang apabila dibudidayakan menggunakan pemupukan organik dan pengelolaan tanah yang baik.
Sementara itu, sektor hortikultura seperti cabai, tomat, dan berbagai sayuran dataran tinggi juga dinilai memiliki peluang besar. Namun, pengembangannya harus mengedepankan pengendalian hama secara alami guna menghasilkan pangan yang sehat sekaligus menjaga kesuburan lahan.
Rasyid optimistis Tabagsel mampu menjadi salah satu sentra pertanian berdaya saing apabila masyarakat menggabungkan semangat kerja mandiri dengan komitmen menjaga kelestarian lingkungan.
Menurutnya, pertanian bukan hanya menjadi sumber penghasilan, tetapi juga merupakan investasi jangka panjang untuk menjaga warisan alam sekaligus meningkatkan kesejahteraan generasi mendatang.
Ia berharap masyarakat semakin percaya pada potensi daerah sendiri dan tidak hanya menunggu bantuan sebagai satu-satunya jalan menuju kemajuan.
"Jika masyarakat mampu membangun pertanian dengan kerja keras, inovasi, dan kepedulian terhadap alam, maka Tabagsel memiliki peluang besar menjadi kawasan pertanian yang mandiri, berkelanjutan, serta mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakatnya," pungkasnya.zal
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di
Google News