Waduh..! Jual Ubas, Kakek 56 Tahun Diboyong Satresnarkoba Polresta Deli Serdang
Waduh..! Jual Ubas, Kakek 56 Tahun Diboyong Satresnarkoba Polresta Deli Serdang
kota
Baca Juga:
- Pengabdian Kepada Masyarakat, Lapas Narkotika Langkat Memperbaiki Fasilitas Umum dari Dukungan Inkopasindo
- Di Bawah Langit Langkat, Komnas PA Anugerahkan Penghargaan Prestisius, Kapolres David Triyo Prasojo Dinobatkan Sebagai Pelindung Anak Teladan
- Ultimatum Bobby Nasution: Blue Night Langkat Segera Ditutup Paksa
STABAT - Kasto Wahyudi kini bisa merasa lega melihat hamparan hutan mangrove kembali rimbun. Perjuangannya selama belasan tahun dalam pelestarian mangrove mulai berbuah manis. Kini, ia mengawal perekonomian masyarakat agar tumbuh selaras dengan napas alam di pesisir Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.
Namun, rimbunnya dedaunan hijau di desa itu menyimpan cerita kelam.
"Saya sudah 15 tahun fokus menanam mangrove. Ini cara saya menebus dosa. Dulu tangan ini yang menebang dan merusak akar-akar itu. Akibatnya, laut jadi hitam, dan warga menjerit karena tangkapan kosong," ujarnya dengan tatapan nanar.
Kerusakan kawasan hutan mangrove akibat pembalakan di masa lalu berdampak buruk terhadap perekonomian warga. Akar penahan abrasi hilang, air laut berubah menjadi hitam pekat. Akibatnya, nelayan harus melaut jauh ke tengah hanya untuk mencari kepiting dan udang yang dulu berserakan di pekarangan pesisir.
Hantaman ekonomi dan rasa bersalah itulah yang menjadi titik balik Kasto. Setiap hari, ia memunguti bibit mangrove dan menanamnya kembali secara otodidak di dekat rumahnya. Berjalan sendirian tentu melelahkan. Lalu, ia mengajak sesama mantan pelaku bisnis arang bakau untuk bertobat dan memperbaiki ekosistem mangrove.
Selanjutnya, pada 2011, ia bersama rekan-rekannya membentuk Kelompok Tani Penghijauan Maju Bersama untuk berpatroli dan secara konsisten menanam bakau setiap pekan.
"Mulanya, saya perhatikan kalau hujan air laut tetap menjadi berlumpur. Tetapi ketika pohon mangrove yang kami tanam mulai besar, warna airnya kembali jernih. Ikan semakin banyak. Udang dan kepiting tidak lagi sulit dicari," kenang Kasto.
Konsistensi menanam selama bertahun-tahun membawa mereka pada langkah legalitas. Kelompok ini resmi mengantongi izin kemitraan perhutanan sosial seluas 178 hektar dari Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah I Stabat.
Kawan Sepadan di Jalan Konservasi
Kelompok Tani Penghijauan Maju Bersama kini memiliki tabungan dari hasil penjualan bibit mangrove yang dikelola secara mandiri untuk operasional merawat hutan.
Perjuangan panjang warga Pasar Rawa ini akhirnya menarik perhatian Pertamina EP (PEP) Pangkalan Susu Field, bagian dari Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 1. Kehadiran perusahaan bukan untuk mengambil alih inisiatif, melainkan melipatgandakan dampak positif yang telah dibangun Kasto. Melalui program pemberdayaan, PEP memfasilitasi pengembangan area konservasi tersebut menjadi Edu-Ekowisata Mangrove terpadu.
Menurut Kasto, dukungan dari PEP Pangkalan Susu Field memberikan loncatan besar terhadap kehidupan ekonomi masyarakat sekitar. Kini, warga tidak hanya menjadi nelayan, tetapi merangkap sebagai pengelola desa wisata, perajin UMKM Baronang Crispy, hingga penyedia jasa homestay.
"Belasan tahun kami merintis ini dengan peluh sendiri. Ketika Pertamina masuk membawa dukungan—mulai dari pembangunan jalur susur sampai fasilitas homestay—rasanya perjuangan kami akhirnya dihargai. Kami tak lagi merasa berjalan sendirian menjaga pesisir ini," kata Kasto penuh haru.
"Dulu penghasilan warga dari merusak alam (usaha arang) Rp 50 ribu per hari saja sudah hebat. Kalau sekarang warga bisa peroleh Rp 200 ribu per hari dari pembibitan mangrove yang menjaga alam. Belum lagi dari mencari ikan, udang dan kepiting di kawasan hutan," ujarnya.
Sementara itu, Manager Community Involvement and Development (CID) Pertamina Hulu Rokan (PHR) Regional 1, Iwan Ridwan Faizal menjelaskan, bahwa kisah Kasto Wahyudi adalah alasan kuat mengapa PHR Zona 1 hadir di Pasar Rawa.
"Pak Kasto adalah bukti nyata bahwa seburuk apa pun masa lalu, manusia bisa berubah dan menyembuhkan alam. Peran kami di Pertamina sebatas mengamplifikasi niat mulia tersebut agar dampaknya meluas menjadi kemandirian ekonomi desa," katanya.
"Ketika ekosistem laut pulih, jalan menuju kesejahteraan akan terbuka dengan sendirinya. Kami berharap edu-ekowisata ini bisa menjadi contoh sukses harmonisasi antara pelestarian lingkungan dan pertumbuhan ekonomi akar rumput," ungkap Iwan menutup perbincangan.
(*)
Waduh..! Jual Ubas, Kakek 56 Tahun Diboyong Satresnarkoba Polresta Deli Serdang
kota
sumut24.co MedanWali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas mengajak para peserta BMX Drag Bike Piala Wali Kota Medan Tahun 2026 untuk menjun
kota
sumut24.co MedanPT Bank Sumut menggelar acara Akad Massal KPR Sejahtera Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perum
Umum
SMP dan SMA AlAmjad Masuk Jajaran Sekolah Berprestasi Nasional Versi PuspresnasMedansumut24.co SMP AlAmjad dan SMA AlAmjad mencatatkan p
News
Otsus Papua Harus Jadi Instrumen Perlindungan OAP, Bukan Sekadar Transfer Anggaran
kota
Ketum PP PNPI Sinergitas Pemuda dan Pemerintah Kunci Mewujudkan Amanat Pasal 33 UUD 1945
kota
Wabup Madina Ikut Penerbangan Pertama Wings Air Rute KNOJHN
kota
MAS TPI Medan Siapkan Lulusan Siap Kerja, Siswa Dibekali Empat Program Keterampilan dan PKL di Dunia Industri
kota
Tak Berkutik! Puluhan Minuman Beralkohol Disita Saat Polisi Razia Kafe di Padang Lawas
kota
Diduga Kumpul Kebo, 39 Penghuni Rumah Kos di Padangsidimpuan Dibawa ke Mapolres
kota