Tapsel | Sumut24.co
Baca Juga:
Di bawah naungan tenda darurat yang menjadi saksi bisu perjuangan, sebuah simfoni kemanusiaan sedang dimainkan. Kamis (19/02/2026), di Lingkungan I Sangkunur, Kabupaten Tapanuli Selatan, batas antara tugas militer dan kasih sayang ayah seketika lebur.
Di sanalah, prajurit-prajurit pilihan dari Satgas TMMD ke-127 Kodim 0212/TS mengukir sejarah kecil yang akan diingat selamanya oleh warga.
Lettu CKM Rudi Ardiansyah dan Praka Amir Sallim Daulay bukan sekadar menjalankan perintah atasan. Dengan tatapan mata yang teduh namun penuh ketegasan, mereka turun tangan langsung membalut luka dan meredam rasa sakit yang mendera tunas-tunas muda bangsa.
Dunia seakan berhenti sejenak saat Lettu CKM Rudi dengan jemari yang gemetar namun pasti, memeriksa Aliansyah, balita mungil berusia 3 tahun yang terbaring tak berdaya di atas velpbed (tempat tidur lapangan).
Di sisi lain, Siti Aminah (11 tahun), dengan perban yang melilit kakinya, menatap para prajurit ini seolah melihat sosok pahlawan yang turun langsung dari langit untuk menghapus air matanya.
Dansatgas TMMD ke-127 yang juga merupakan Dandim 0212/Tapsel Letkol Inf Dedi Harnoto mengungkapkan pesan heroik atas hadirnya TMMD ke-127 di Angkola Sangkunur.
"Darah yang mengalir di tubuh anak-anak Sangkunur adalah darah kami juga. Saya telah menginstruksikan seluruh personel Satgas, khususnya tim medis, untuk tidak membiarkan satu pun warga terutama anak-anak seperti Siti Aminah dan Aliansyah merasa sendirian dalam rasa sakitnya," ujarnya.
Beliau juga menambahkan bahwa misi TMMD kali ini melampaui batas fisik pembangunan infrastruktur.
"Kami membangun jembatan, tapi kami juga membangun harapan. Kami memperbaiki jalan, tapi kami juga menyembuhkan jiwa. Inilah sejatinya kemanunggalan TNI dengan rakyat; tak terpisahkan oleh jarak, tak tergoyahkan oleh rintangan," ungkap Letkol Inf Dedi dengan nada yang menggetarkan jiwa.
Bagi masyarakat Angkola Sangkunur, kehadiran kedua prajurit ini adalah jawaban dari doa-doa di tengah keterbatasan. Ini bukan sekadar ritual medis formalitas; ini adalah manifestasi nyata bahwa TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) bukan hanya soal semen dan aspal, melainkan soal detak jantung rakyat yang ingin tetap hidup sehat.
"Setiap rintihan Aliansyah adalah luka bagi kami. Setiap tetap air mata Siti Aminah adalah panggilan tugas bagi jiwa kami. Kami di sini bukan untuk dipuja, tapi untuk memastikan tak ada satu pun anak bangsa yang merasa sendirian dalam sakitnya," ungkap sebuah narasi tersirat dari dedikasi mereka yang tanpa pamrih.
Di bawah teriknya matahari Tapsel yang membakar, ketulusan mereka menjadi oase yang menyejukkan. Praka Amir Sallim Daulay dengan penuh kesabaran memberikan pendampingan, membuktikan bahwa di balik seragam loreng yang gagah perkasa, bersemayam hati selembut sutra yang siap memeluk rakyat dalam kondisi apa pun.zal
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di
Google News