Kamis, 29 Januari 2026

KEHANCURAN NEGARA DIMULAI DARI BOBROKNYA MORAL PEMIMPIN: PERINGATAN TAJAM DI MOMENTUM HARI GURU NASIONAL

Administrator - Senin, 24 November 2025 14:45 WIB
KEHANCURAN NEGARA DIMULAI DARI BOBROKNYA MORAL PEMIMPIN: PERINGATAN TAJAM DI MOMENTUM HARI GURU NASIONAL
Istimewa

MEDAN — Peringatan Hari Guru Nasional tahun ini mendapat sorotan tajam dari pemerhati sosial sekaligus tokoh masyarakat Sumatera Utara, Syahrir Nasution. Melalui pernyataannya pada Senin (24/11), ia menegaskan bahwa kehancuran sebuah negara kerap bermula dari hancurnya moral para pemimpinnya. Menurutnya, kerusakan tata kelola negara selalu berjalan beriringan dengan runtuhnya sistem pendidikan, khususnya di tingkat perguruan tinggi.

Baca Juga:

Syahrir menilai, lenyapnya sebuah negara dari peta dunia bukan semata disebabkan faktor eksternal, namun berawal dari bobroknya pengelolaan internal, melemahnya moral, dan runtuhnya integritas para penyelenggara negara. "Hancur atau lenyapnya suatu negara diawali dari rusaknya tatanan pengelolaan negara tersebut serta porak-porandanya pendidikan masyarakat, terlebih di perguruan tinggi," ujarnya.

Momentum Hari Guru Nasional, menurutnya, justru menjadi pengingat bahwa para pengelola pendidikan—baik guru maupun dosen—sedang menghadapi krisis moral yang sangat mengkhawatirkan. Syahrir menyebut, apa yang terjadi di dunia pendidikan saat ini tidak lagi sekadar persoalan teknis, melainkan masalah karakter dan integritas yang tergerus.

USU Disorot: Dugaan Intervensi Politik dalam Pemilihan Rektor

Lebih jauh, Syahrir menyinggung kondisi dunia pendidikan tinggi yang tengah menjadi sorotan publik, khususnya di Universitas Sumatera Utara (USU). Ia menyebut, proses pemilihan rektor yang belakangan ini berlangsung di USU tampak tidak steril dari intervensi eksternal.

"Sudah sama-sama kita lihat, belakangan ini USU menjadi sorotan masyarakat. Pemilihan rektornya seakan diintervensi pihak luar pendidikan yang memaksakan kehendak demi tujuan politik tertentu, untuk mendominasi dunia kampus. Kampus hendak dijadikan laboratorium politik oleh pihak yang sedang berkuasa," tegasnya.

Syahrir mengingatkan bahwa Undang-Undang Pendidikan Tinggi serta Statuta USU secara tegas melarang adanya campur tangan pihak luar yang tidak memiliki dasar legal maupun akademik dalam menentukan arah perguruan tinggi.

"UU Pendidikan Tinggi dan Statuta USU tidak membolehkan aturan-aturan di luar ketentuan pendidikan tinggi serta peraturan statuta yang mengikat dan wajib dipatuhi. Namun apa lacur yang terjadi?" ujarnya menambahkan.

Peringatan untuk Penyelenggara Pendidikan

Syahrir Nst menutup pernyataannya dengan mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk kembali kepada marwah pendidikan. Menurutnya, jika moral pendidik dan pengelola pendidikan telah rusak, maka tidak ada lagi pondasi yang dapat menjaga tegaknya sebuah bangsa.

"Moral pendidik adalah benteng terakhir sebuah peradaban. Jika itu runtuh, maka negara akan menyusul," tandasnya.

Pernyataannya menjadi refleksi keras bagi dunia pendidikan Indonesia, sekaligus alarm bahwa degradasi moral di lingkungan akademik dapat berdampak pada kehancuran bangsa secara keseluruhan.red

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Ismail Nasution
Sumber
:
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Ketua JMSI Tabagsel Ucok Rizal Nasution : Media Punya Tanggung Jawab Moral dalam Mencerdaskan Masyarakat
komentar
beritaTerbaru