Kebakaran Dini Hari di Medan Selayang, Empat Bangunan Hangus, Kerugian Ratusan Juta Rupiah
Kebakaran Dini Hari di Medan Selayang, Empat Bangunan Hangus, Kerugian Ratusan Juta Rupiah
kota
Baca Juga:
Kedaulatan ekonomi bangsa sejatinya hanya dapat terwujud apabila ada keadilan struktural yang nyata di tengah masyarakat. Artinya, sistem ekonomi nasional harus dibangun di atas fondasi pemerataan akses dan penguasaan sumber-sumber produksi, terutama tanah sebagai basis kehidupan mayoritas rakyat Indonesia.
Sebagaimana diketahui, Reformasi Agraria (Land Reform) seharusnya menjadi titik sentral pembangunan ekonomi yang berkeadilan. Sebab, lebih dari 80 persen kehidupan rakyat Indonesia, khususnya di pedesaan, bertumpu pada sektor pertanian — sektor yang sangat erat kaitannya dengan penguasaan dan pemanfaatan tanah.
Namun, ironi besar masih terjadi. Para petani yang menjadi tulang punggung ketahanan pangan nasional justru hidup dalam kesulitan. Martabat mereka belum terangkat, bahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya (basic needs) pun masih jauh dari layak.
Fenomena inilah yang disebut "Paradoks Agraria" — sebuah kenyataan pahit di mana Indonesia, negeri yang kaya raya akan sumber daya tanah, justru masih menyisakan kemiskinan di tengah rakyatnya.
Pertanyaannya, mengapa hal ini bisa terus terjadi?
Jawaban sederhananya terletak pada lemahnya implementasi kebijakan dan minimnya keberpihakan nyata dari para pemegang kekuasaan. Pembangunan sering hanya berhenti pada tataran retorika, bukan tindakan nyata yang berpihak kepada rakyat kecil.
Dari Bicara ke Tindakan Nyata
Seorang pemimpin sejati tidak cukup hanya pandai berbicara — ia harus bertindak nyata.
Seperti dikatakan Syahrir Nasution, "Action (tindakan) lebih berarti daripada talking (berbicara), buktikan."
Dalam konteks kepemimpinan, ucapan dan perbuatan harus berjalan berbanding lurus (ceteris paribus). Apalagi bagi seorang pemimpin formal yang menjadi panutan masyarakat luas, keselarasan antara kata dan tindakan adalah sumber utama kepercayaan (trust) dari rakyat.
Ketika pemimpin berbicara tentang keadilan, namun perilakunya menunjukkan ketimpangan; ketika pemimpin menyerukan reformasi, namun dirinya tak berubah — maka kepercayaan rakyat akan terkikis sedikit demi sedikit.
Dan dalam situasi seperti ini, hilangnya empati rakyat terhadap pemimpinnya adalah hal yang sangat wajar.
Dalam ajaran Islam, hal semacam itu bahkan digolongkan pada sifat "munafik", yakni seseorang yang berkata tidak sesuai dengan perbuatannya.
Oleh karena itu, jika bangsa ini ingin benar-benar berdaulat secara ekonomi, maka pemimpinnya harus terlebih dahulu berdaulat secara moral dan integritas — menegakkan keadilan bukan sekadar dalam kata, melainkan dalam perbuatan nyata.
Penutup
Kedaulatan ekonomi bukanlah cita-cita kosong yang bisa dicapai dengan wacana. Ia harus dibangun dengan keberanian melakukan reformasi agraria sejati, keadilan struktural, dan keteladanan moral dari para pemimpin bangsa.
Tanpa itu, paradoks agraria akan terus berulang — dan rakyat akan tetap menunggu pemimpin yang bicara sesuai tindakan, bukan sebaliknya.***
Kebakaran Dini Hari di Medan Selayang, Empat Bangunan Hangus, Kerugian Ratusan Juta Rupiah
kota
Bupati Saipullah Libatkan Tokoh Masyarakat dalam TP2D, Fokus Percepatan Pembangunan Madina
kota
PMII PALUTA Cup I 2026 Diserbu Penonton, Polisi Lakukan Pengamanan Berlapis di Padang Bolak
kota
Dari Pengawalan hingga Sterilisasi, Ini Strategi Polres Tapsel Amankan Kunjungan Mendagri
kota
Semangati Atlet! Ketua DPRD Padangsidimpuan Srifitrah Munawaroh dan Ketua Umum Shokaido Sumut Turun Langsung di Pembukaan Kejurda Shokaido
kota
Bakopam Sumut Gelar Halal Bi Halal Idul Fitri 1447 H, Ibnu Hajar Bangkitkan Semangat Kekeluargaan
kota
Hingga H6 Idulfitri 1447H/2026, Jasa Marga Catat Lebih dari 3,2 Juta Kendaraan Melintas di Ruas Tol Regional Nusantara
kota
Penuh Haru, Marlina Eliyanti Rayakan Ulang Tahun dengan Santunan Anak Yatim
kota
Polres Padangsidimpuan Berhasil Ungkap Kasus Pencabulan Anak, Pria 56 Tahun Diamankan
kota
Gerak Cepat! Mendagri Tito Karnavian Serahkan 120 Huntap untuk Korban Bencana di Tapanuli Selatan
kota