Patroli Malam Polres Palas Sasar Pusat Sibuhuan, Remaja yang Nongkrong Larut Diimbau Pulang
Patroli Malam Polres Palas Sasar Pusat Sibuhuan, Remaja yang Nongkrong Larut Diimbau Pulang
News
Baca Juga:
- Tinjau Museum Simalungun, Bupati Simalungun: Pelestarian Sejarah dan Budaya sebagai Fondasi Utama Pembangunan Daerah
- Perkuat Sinergi dan Budaya Keselamatan, Direksi Inalum Tinjau Operasional Smelter Kuala Tanjung
- Kenakan Busana Adat Melayu, Wali Kota Tanjungbalai Semarakkan Karnaval Budaya Nusantara APEKSI XVIII
Oleh: H Syahrir Nasution
Di negeri ini muncul istilah baru: "Pembohong Nasional." Entah siapa yang pertama kali menciptakan istilah ini, namun seolah menjadi cermin bagi kondisi moral bangsa hari ini. Kebohongan bukan lagi dianggap aib, melainkan telah menjadi bagian dari strategi dan bahkan kebiasaan dalam kehidupan sosial, politik, dan kekuasaan.
Dalam ajaran Islam, Nabi Muhammad SAW pernah berpesan kepada seorang pemuda, "La Takdzib" — jangan berdusta. Satu pesan singkat, namun memiliki makna yang sangat dalam. Sebab, kebohongan adalah pintu pertama dari segala kejahatan. Ketika seseorang berani berbohong, maka ia sedang membuka jalan bagi dosa-dosa berikutnya: pengkhianatan, penipuan, korupsi, dan segala bentuk kemungkaran lainnya.
Pepatah mengatakan, "Satu kebohongan yang terpelihara akan melahirkan kebohongan baru." Begitulah rantai kebohongan bekerja. Ia tumbuh, beranak-pinak, dan pada akhirnya menciptakan sistem yang terbiasa hidup di dalam dusta. Kita pun menjadi bangsa yang terbiasa menutup mata terhadap kebenaran dan memaafkan kebohongan, terutama jika pelakunya memiliki kekuasaan.
Indonesia sering disebut sebagai negeri yang gemah ripah loh jinawi — tanahnya subur dan sumber daya alamnya melimpah. Namun di balik itu, rakyatnya masih jauh dari sejahtera. Salah satu penyebabnya adalah karena kebohongan terus dipelihara. Rakyat terus dijejali janji manis tanpa realisasi, dan setiap pemimpin datang dengan harapan baru yang seringkali berujung pada kekecewaan lama.
Lebih menyedihkan lagi, bangsa ini tampak memiliki "hikayat tentang rakyat yang senang ditipu." Kita mudah melupakan penipuan masa lalu, terutama bila pelakunya memiliki kekuasaan atau popularitas. Mereka yang menipu bangsanya seolah mendapat balas jasa, bukan hukuman. Dan bahkan hingga akhir hayatnya, mereka tidak pernah menyesali kebohongan yang telah dilakukan berulang kali.
Kebohongan bukan sekadar masalah moral pribadi, tapi sudah menjadi penyakit sosial. Ia merusak kepercayaan, menghancurkan tatanan nilai, dan menjauhkan bangsa ini dari keadilan serta kebenaran. Bila kita terus membiarkan kebohongan hidup di sekitar kita, maka sesungguhnya kita sedang menggali kubur bagi moralitas bangsa sendiri.
Sudah saatnya kita kembali kepada pesan Nabi: "La Takdzib." Jangan berdusta — sekecil apa pun. Sebab dari kejujuranlah lahir keadilan, dan dari keadilanlah tumbuh kesejahteraan yang hakiki.
Patroli Malam Polres Palas Sasar Pusat Sibuhuan, Remaja yang Nongkrong Larut Diimbau Pulang
News
Dana Bencana Padangsidimpuan dan Tapsel Jadi Sorotan, Ratusan Miliar Dipertanyakan Berapa yang BenarBenar Diterima Korban?
News
Cegah Penyelewengan BBM Subsidi, Polres Padang Lawas Ingatkan Pengelola SPBU
News
Ketua TP PKK Yupri Astuti Saipullah Salurkan Bantuan ke SLBN Madina, Pemda Didorong Perhatikan Asrama dan Transportasi Siswa
News
Polres Padangsidimpuan Gerak Nyata Dukung Ketahanan Pangan, 1,9 Ton Jagung Diserap Bulog
News
Mahasiswa Unhan RI, Dorong Semangat Belajar Siswa Sekolah Rakyat Menuju Indonesia Emas 2045
News
Kabupaten Solok Masuki Masa Transisi Pemulihan Pascabencana Selama Enam Bulan
News
Wali Kota Sawahlunto Serahkan Bantuan Rp100 Juta untuk Korban Banjir Bandang Arosuka
News
Polresta Deli Serdang dan BNNK Gerebek Dugaan Sarang Narkoba di Beringin, Empat Pria Diamankan
News
sumut24.co ASAHAN, Seorang wanita berinisial WH (30), warga Kelurahan Siumbut Baru, Kecamatan Kisaran Timur, Kabupaten Asahan, meninggal du
News