Kamis, 27 Agustus 2026

Pembohong Nasional dan Budaya Menipu yang Dipelihara

Administrator - Kamis, 09 Oktober 2025 13:21 WIB
Pembohong Nasional dan Budaya Menipu yang Dipelihara
Istimewa
Baca Juga:

Oleh: H Syahrir Nasution

Di negeri ini muncul istilah baru: "Pembohong Nasional." Entah siapa yang pertama kali menciptakan istilah ini, namun seolah menjadi cermin bagi kondisi moral bangsa hari ini. Kebohongan bukan lagi dianggap aib, melainkan telah menjadi bagian dari strategi dan bahkan kebiasaan dalam kehidupan sosial, politik, dan kekuasaan.

Dalam ajaran Islam, Nabi Muhammad SAW pernah berpesan kepada seorang pemuda, "La Takdzib" — jangan berdusta. Satu pesan singkat, namun memiliki makna yang sangat dalam. Sebab, kebohongan adalah pintu pertama dari segala kejahatan. Ketika seseorang berani berbohong, maka ia sedang membuka jalan bagi dosa-dosa berikutnya: pengkhianatan, penipuan, korupsi, dan segala bentuk kemungkaran lainnya.

Pepatah mengatakan, "Satu kebohongan yang terpelihara akan melahirkan kebohongan baru." Begitulah rantai kebohongan bekerja. Ia tumbuh, beranak-pinak, dan pada akhirnya menciptakan sistem yang terbiasa hidup di dalam dusta. Kita pun menjadi bangsa yang terbiasa menutup mata terhadap kebenaran dan memaafkan kebohongan, terutama jika pelakunya memiliki kekuasaan.

Indonesia sering disebut sebagai negeri yang gemah ripah loh jinawi — tanahnya subur dan sumber daya alamnya melimpah. Namun di balik itu, rakyatnya masih jauh dari sejahtera. Salah satu penyebabnya adalah karena kebohongan terus dipelihara. Rakyat terus dijejali janji manis tanpa realisasi, dan setiap pemimpin datang dengan harapan baru yang seringkali berujung pada kekecewaan lama.

Lebih menyedihkan lagi, bangsa ini tampak memiliki "hikayat tentang rakyat yang senang ditipu." Kita mudah melupakan penipuan masa lalu, terutama bila pelakunya memiliki kekuasaan atau popularitas. Mereka yang menipu bangsanya seolah mendapat balas jasa, bukan hukuman. Dan bahkan hingga akhir hayatnya, mereka tidak pernah menyesali kebohongan yang telah dilakukan berulang kali.

Kebohongan bukan sekadar masalah moral pribadi, tapi sudah menjadi penyakit sosial. Ia merusak kepercayaan, menghancurkan tatanan nilai, dan menjauhkan bangsa ini dari keadilan serta kebenaran. Bila kita terus membiarkan kebohongan hidup di sekitar kita, maka sesungguhnya kita sedang menggali kubur bagi moralitas bangsa sendiri.

Sudah saatnya kita kembali kepada pesan Nabi: "La Takdzib." Jangan berdusta — sekecil apa pun. Sebab dari kejujuranlah lahir keadilan, dan dari keadilanlah tumbuh kesejahteraan yang hakiki.


Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Ismail Nasution
Sumber
:
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Tinjau Museum Simalungun, Bupati Simalungun: Pelestarian Sejarah dan Budaya sebagai Fondasi Utama Pembangunan Daerah
Perkuat Sinergi dan Budaya Keselamatan, Direksi Inalum Tinjau Operasional Smelter Kuala Tanjung
Kenakan Busana Adat Melayu, Wali Kota Tanjungbalai Semarakkan Karnaval Budaya Nusantara APEKSI XVIII
Personel Berprestasi Diganjar Penghargaan, Kapolres Padangsidimpuan: Dedikasi dan Integritas Harus Jadi Budaya Kerja
Wabup Toba Tekankan Peran Adat dan Budaya dalam Mewujudkan Toba Mantap
Budayawan Purwadi Tulis Karya Macapat tentang Pengabdian Ir H Soekirman
komentar
beritaTerbaru