Zakiyuddin Harahap Sambut Peserta APEKSI 2026, Ajak Nikmati Keramahan dan Kuliner Kota Medan
Zakiyuddin Harahap Sambut Peserta APEKSI 2026, Ajak Nikmati Keramahan dan Kuliner Kota Medan
kota
Baca Juga:
- ASN Pemkab Simalungun Melaksanakan Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026: Refleksi Memastikan Pancasila Tetap Menyala
- Oknum ASN Ikut Garap Lahan Eks HGU PT BSP di Asahan, Bupati Taufik : Siap-Siap Ditindak Tegas!
- ASN Pemprov Sumut Ditangkap Terkait Vape Narkotika, Bapeg Akui Belum Dapat Informasi Resmi
Kasus Rektor Universitas Sumatera Utara (USU), Muryanto Amin, menjadi potret telanjang bagaimana jabatan akademik bisa menjadi alat kompromi. Plagiarisme yang seharusnya mencederai integritas akademik, justru seakan dihapus begitu saja ketika "karpet merah" digelar untuk mengukuhkan posisinya. Tidak heran bila publik membaca penunjukannya sebagai rektor bukan melalui mekanisme seleksi murni, melainkan lewat "restu politik".
Kritik makin tajam ketika nama Bobby Nasution—menantu Presiden Jokowi yang juga Wali Kota Medan kala itu—disebut-sebut dalam pusaran dukungan. Dugaan adanya hubungan patronase politik memperlihatkan bagaimana universitas negeri bisa terjebak dalam lingkaran kekuasaan. Alih-alih menjadi benteng moral, kampus justru tunduk pada permainan politik praktis.
Ironisnya, hal ini telah menciptakan rasa kecewa mendalam di kalangan masyarakat Mandailing. Mereka merasa harga diri dan martabatnya tergerus oleh sikap elit politik lokal yang menggadaikan prinsip demi kedekatan dengan kekuasaan. Masyarakat yang mestinya bangga dengan capaian akademik, justru dihadapkan pada fakta bahwa rektor mereka diduga berdiri di atas fondasi plagiarisme dan kompromi politik.
Di sinilah relevansi KASN diuji. Apakah lembaga ini hanya sekadar stempel legalitas bagi proses-proses politis, atau benar-benar menjadi pengawas integritas birokrasi dan akademik? Jika KASN diam, maka publik berhak menilai bahwa lembaga ini hanya formalitas yang tak lebih dari macan kertas.
Universitas negeri bukan milik pemerintah semata, melainkan milik bangsa. Ia seharusnya menjadi mercusuar moral, bukan panggung politik transaksional. Ketika rektor terpilih dengan mengabaikan etika dan integritas, maka yang hancur bukan hanya reputasi pribadi, melainkan masa depan generasi yang belajar di dalamnya.
Moral akademik tidak bisa ditebus dengan karpet merah kekuasaan.
Zakiyuddin Harahap Sambut Peserta APEKSI 2026, Ajak Nikmati Keramahan dan Kuliner Kota Medan
kota
sumut24.co Medan, Wakil Wali Kota Medan, H. Zakiyuddin Harahap, mengucapkan selamat datang kepada seluruh tamu pemerintah kota dari berbaga
kota
Semangat &lsquoTampakna do Rantosna&rsquo, Rahudman Harahap Ajak Alumni SMAN 2 Perkuat Solidaritas Menuju Sumut Berkah
kota
Modus Checkin HotelSindikat Curanmor Sikat CRF di Parkiran
kota
GM Geopark Kaldera Toba Geopark Harus Menjadi Instrumen Pemberdayaan Masyarakat
kota
Bank Sumut Luncurkan QResto, Inovasi Digital Bersama Pemkab Deli Serdang untuk Optimalkan Pajak Daerah
kota
Sutrisno Pangaribuan Tuduhan Aksi Mahasiswa Dibayar Hanya Upaya Memecah Gerakan
kota
Strategi Komunikasi Pemerintah Menjaga Narasi, Menjaga Kepercayaan Publik
kota
Pabrik Sepatu Yumeida di Purwodadi Sunggal Terbakar
kota
Taekwondo Championship Sumut 2026 Digelar, Bidik Bibit Atlet Menuju Asian Championship dan Porprov
kota