Tinjau Pasar dan Terminal Aksara, Bupati Minta Rencana Pengembangan Dikaji Matang
Tinjau Pasar dan Terminal Aksara, Bupati Minta Rencana Pengembangan Dikaji Matang
kota
Baca Juga:
- Gubernur Bobby Nasution dan DPRD Sumut Sepakati Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2025, Jadi Dasar Penyusunan APBD 2027
- Sutrisno Pangaribuan Nilai DPRD Sumut Diduga Abaikan Tata Tertib Demi Bobby Nasution, Soroti Keabsahan Rapat Paripurna
- HUT Kab.Pakpak Bharat Ke 23 Tahun,DPRD Menggelar Sidang Istimewa
Dalam perbincangan hangat di tengah masyarakat, muncul satu suara yang mewakili kegelisahan publik. Adalah H. Syahrir Nasution, tokoh masyarakat Binjai yang dikenal kritis dan vokal, menyuarakan kekecewaannya terhadap kondisi kota pasca dilantiknya Wali Kota dan Wakil Wali Kota yang baru.
> "Binjai sekarang gelap. Bukan hanya karena lampunya, tapi karena hilangnya arah dan semangat kepemimpinan. Tidak ada prestasi yang bisa dibanggakan. Padahal kota ini punya potensi besar," ujar Syahrir saat ditemui di kediamannya di kawasan Binjai Barat.
Menurut Syahrir, sejak pergantian kepemimpinan, banyak nilai-nilai luhur yang seharusnya dijaga justru ditinggalkan. Ia menilai pemimpin sekarang lebih mengedepankan ego, bahkan dendam masa lalu, dibanding kepentingan rakyat.
Gagal Menjawab Harapan
Di awal masa kampanye, pasangan Wali Kota dan Wakilnya sempat menjanjikan visi besar: membangun masyarakat yang maju, berbudaya dan religius. Visi ini bahkan diiringi jargon spiritual "SPIRIT atau TONDI" yang menggugah masyarakat Mandailing dan Melayu yang sudah lama bermukim di Binjai. Namun kini, semua itu tinggal kenangan.
Alih-alih membawa perubahan, Binjai justru terperosok ke dalam sejumlah masalah akut:
1. Status Kota Kecil yang Stagnan
Tidak ada terobosan berarti untuk mendorong pertumbuhan skala kota. Binjai masih jalan di tempat.
2. Pendapatan Asli Daerah (PAD) Tidak Capai Target
Pendapatan yang menjadi indikator kinerja fiskal daerah tak pernah memenuhi ekspektasi. Ini menandakan lemahnya inovasi dalam menggali potensi daerah.
3. Defisit dan Utang Daerah
Beban fiskal makin berat. Pemerintah kota terjebak dalam pola pengeluaran yang tidak seimbang dengan pemasukan. Ditambah lagi, utang yang membengkak menambah tekanan anggaran.
4. Insentif Fiskal yang Tidak Jelas
Transparansi dalam pengelolaan insentif fiskal menjadi pertanyaan. Masyarakat dan pengamat keuangan publik menilai pengelolaan APBD kurang akuntabel.
5. Minimnya Penciptaan Lapangan Kerja
Di tengah gelombang pengangguran pasca-pandemi, tidak ada program konkret yang mampu membuka lapangan kerja baru. Pemuda dan lulusan baru banyak yang memilih merantau keluar daerah.
6. Ketua DPRD Belum Ada
Ironisnya, hingga kini Binjai belum memiliki Ketua DPRD definitif. Situasi ini membuat proses legislasi dan pengawasan terhadap eksekutif berjalan pincang. Menurut pengamat, Binjai mungkin satu-satunya kota di Indonesia yang mengalami kekosongan seperti ini.
Warga Merindukan Binjai yang Dulu
Suasana pesimistis mulai menyelimuti warga. Banyak yang merasa rindu akan suasana Binjai yang dulu: kota kecil yang hangat, penuh semangat gotong royong, dan harmonis.
> "Dulu kita kalau ke pasar ketemu Wali Kota bisa ngobrol. Sekarang jangankan ngobrol, wajahnya pun sulit kita lihat. Pemerintah makin jauh dari rakyat," ujar Pak Umar, pedagang sayur di Pasar Tavip.
Keresahan ini juga dirasakan kalangan muda. Anak-anak muda kreatif yang dulu aktif mengisi ruang seni dan budaya kini kehilangan wadah. Banyak komunitas mulai vakum karena minim dukungan dari pemerintah.
Harapan Masih Ada, Tapi...
Kondisi ini memunculkan pertanyaan penting: mau dibawa ke mana kota ini?
Apakah Binjai akan dibiarkan tenggelam dalam kegelapan? Atau masih ada nyala harapan untuk bangkit?
Syahrir Nasution menekankan pentingnya kepemimpinan yang profesional, terbuka, dan memiliki hati untuk rakyat.
> "Pemimpin itu bukan cuma soal jabatan. Harus punya hati, punya visi, dan bisa merangkul. Kalau yang dipikirkan cuma balas dendam politik, habislah kita," tegasnya.
Ia berharap para pemimpin daerah bisa membuka mata dan telinga terhadap kritik masyarakat, bukan justru memusuhi suara-suara yang berbeda.
Binjai hari ini memang sedang gelap—bukan karena listrik padam, tetapi karena arah yang tak jelas, prestasi yang mandek, dan kepemimpinan yang kehilangan ruh. Namun seperti malam yang selalu berakhir dengan fajar, kota ini masih mungkin bangkit—asalkan ada kemauan dari para pemimpinnya untuk berubah.
Rakyat masih menanti:
Kapan cahaya itu kembali menerangi Binjai?
Tinjau Pasar dan Terminal Aksara, Bupati Minta Rencana Pengembangan Dikaji Matang
kota
Gubernur Andra Soni Logo Baru Bank Banten Lambangkan Kepercayaan, Semangat dan Harapan
kota
Paviliun Deli Serdang Raih Terbaik I PRSU ke50
kota
sumut24.co Delisetdang, Paviliun Pemerintah Kabupaten Deliserdang meraih penghargaan Paviliun Terbaik I Pilihan Penyelenggara pada Pekan Ra
News
sumut24.co Deliserdang, Bupati Deliserdang, dr H Asri Ludin Tambunan, bersama Wakil Bupati Lom Lom Suwondo SS, meninjau Pasar Tradisional A
News
sumut24.co ASAHAN, Sorotan tajam kembali mengarah pada tata kelola keuangan Dewan Pengurus Korps Pegawai Republik Indonesia (DPK KORPRI) Ka
News
sumut24.co ASAHAN, Suara pekikan Merdeka! Merdeka! Merdeka! menggema keras di sepanjang jalan menuju kawasan Wisata Mangrove, Desa Silo B
News
Jaringan Narkoba Terungkap di THM Helen&039s Night MartPolrestabes Medan Sita Sejumlah Narkoba dan Ringkus Pengedar
kota
MENJAGA GENERASI, MENOLAK PERSEKUSI
kota
MEDAN Sumut24.coPresidium Lingkaran Transparansi Kebijakan Publik (LTKP), Ir. Syafaruddin Sikumbang, mendesak Kepala Dinas Perumahan, Kawa
Hukum