Kapolres Tebing Tinggi Silaturahmi ke Sekretariat DPC Pendawa, Erwan Ma’ruf Siap Dukung Perang Melawan Narkoba
Kapolres Tebing Tinggi Silaturahmi ke Sekretariat DPC Pendawa, Erwan Ma&rsquoruf Siap Dukung Perang Melawan Narkoba
News
Baca Juga:
Mereka turun ke jalan dengan satu tujuan jelas: memprotes kebijakan yang dinilai sangat merugikan mereka, yaitu kebijakan yang dikeluarkan oleh mantan Bupati Tapsel Dolly Putra Parlindungan Pasaribu. Kebijakan ini dituangkan dalam Surat Keputusan Nomor: 800.1.10.6/836/Tahun 2025 yang dengan jelas memperlihatkan ketidakpedulian terhadap nasib tenaga honorer di sektor Kesehatan, Pada Senin, 24 Februari 2025.
Bagi mereka, sektor kesehatan merupakan bagian yang sangat vital dalam pelayanan publik, dan tidak bisa diperlakukan dengan sembarangan.
Reaksi keras datang dari aktivis dan advokat, Ary Azi SH, yang menyebut kebijakan tersebut sebagai contoh dari maladministrasi.
Menurutnya, kebijakan ini melibatkan pemberkasan yang bermasalah, yang berpotensi merugikan tenaga honorer yang telah bekerja bertahun-tahun dengan penuh dedikasi. "Ini adalah bentuk kebijakan yang zalim," ujar Ary Azi dengan penuh penekanan.
Tidak hanya itu, kritikan keras juga datang dari Parlindungan Harahap SH, seorang aktivis yang turut menyoroti masalah ini. Bagi Harahap, tindakan ini bukan hanya soal administrasi, melainkan juga masalah hak dasar yang seharusnya diperjuangkan oleh pemerintah. "Jika honorer yang sudah bekerja bertahun-tahun diberhentikan begitu saja, siapa yang akan menggantikan mereka? Ini jelas kebijakan yang tidak manusiawi," tegasnya.
Di tengah gelombang protes tersebut, Bupati Tapanuli Selatan yang baru, H. Gus Irawan Pasaribu, berada di bawah sorotan tajam. Para tenaga honorer mendesak agar kebijakan yang dikeluarkan oleh mantan bupati sebelumnya segera dievaluasi. "Kami berharap Bapak Bupati Gus Irawan Pasaribu bisa mendengar suara kami dan mengambil tindakan yang tepat," ujar Rizky Hariati, salah satu perwakilan honorer yang terkena dampak kebijakan tersebut.
Para honorer juga menuntut agar kontrak mereka diperpanjang, terutama bagi mereka yang telah bekerja kurang dari dua tahun. Mereka menginginkan pengakuan atas masa kerja mereka dan tetap menerima gaji seperti biasa. "Harapan kami besar, agar kebijakan yang ada bisa lebih memihak kepada kami, dan kami bisa terus bekerja untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat," tambah Rizky.
Harapan kini digantungkan pada Bupati yang baru saja dilantik Gus Irawan Pasaribu yang saat ini mengikuti retret di magelang agar kiranya dapat melakukan perubahan. Tidak hanya di tingkat kabupaten, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Kabupaten Tapanuli Selatan juga diminta untuk segera mengadakan Rapat Dengar Pendapat (RDP) untuk mendengarkan dan memperjuangkan nasib tenaga honorer. "Kami berharap DPR Tapanuli Selatan tidak hanya duduk diam, tetapi segera bertindak untuk memfasilitasi penyelesaian masalah ini," tegas Rizky.
Tidak hanya masalah administratif, para honorer juga mengkritisi Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Tapanuli Selatan yang dianggap tidak profesional dalam menangani administrasi honorer. Mereka mendesak agar pejabat tersebut segera dicopot karena dinilai gagal dalam menjalankan tugasnya.
Kebijakan yang diambil oleh pemerintah daerah ini memunculkan pertanyaan besar bagi para honorer. Apakah nasib mereka akan lebih baik ke depan? Atau apakah mereka harus mencari nafkah di luar profesi mereka yang telah mereka tekuni bertahun-tahun?
Kondisi ini, tentunya, tidak hanya akan merugikan para tenaga kesehatan honorer, tetapi juga masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan yang maksimal.
Aksi demonstrasi yang digelar oleh ratusan honorer ini bukan hanya sekadar bentuk protes, tetapi juga seruan untuk keadilan yang harus didengarkan oleh pihak-pihak terkait.
Tapanuli Selatan membutuhkan kebijakan yang lebih adil dan humanis bagi tenaga honorer di sektor kesehatan. Harapan mereka kini terletak pada keputusan yang akan diambil oleh Bupati Gus Irawan Pasaribu.
Keputusan yang diambil oleh Bupati Gus Irawan Pasaribu menjadi sangat krusial. Sebagai pihak yang kini memegang tampuk kepemimpinan, Bupati memiliki kesempatan untuk memperbaiki kebijakan yang telah ditetapkan oleh bupati sebelumnya.
Akan tetapi, apakah beliau akan mampu mendengar aspirasi masyarakat dan membuat keputusan yang tepat? Atau kebijakan ini akan menjadi bagian dari sejarah panjang ketidakadilan terhadap tenaga honorer di Indonesia?
Bagi para tenaga kesehatan honorer, masa depan mereka kini terombang-ambing, dan harapan mereka tergantung pada keadilan yang harus segera ditegakkan.zal
Kapolres Tebing Tinggi Silaturahmi ke Sekretariat DPC Pendawa, Erwan Ma&rsquoruf Siap Dukung Perang Melawan Narkoba
News
Polres Padang Lawas Gaspol Patroli Blue Light, Curat, Curas dan Begal Jadi Target Utama
News
Bikin Salut! Di Operasi Patuh Toba 2026, Kapolres Paluta Apresiasi Pengendara Disiplin
News
Bertemu PHDI Sumut, Kapolda Sonny Irawan Tebarkan Kebaikan dan Permudah Urusan Masyarakat
News
Silaturahmi dengan MITSU, Kapolda Sumut Bawa Pesan Persatuan dan Keamanan untuk Masyarakat
News
Medan sumut24.co Sikap kuasa hukum Bank Mandiri yang memilih bungkam dan meninggalkan awak media usai persidangan gugatan PT Toba Surimi I
Hukum
PDI Perjuangan Sumut Desak Langkah Konkret Atasi Banjir dan Lindungi Petani di Lau Solu
News
Kapolresta dan Wakapolresta Deli Serdang Turun ke Sekolah, Sampaikan Pesan Kamtibmas Melalui Program Polidik
News
Khairul Muslim Ambil Formulir Pendaftaran Calon Ketua DKP PWI Sumut
News
Polda Sumut Catat 7.264 Penindakan dan Teguran, Edukasi Lalu Lintas Terus Dikedepankan
News