Usut Kebakaran PT Sicanang Indah

1221

MEDAN|SUMUT24

General Manager Proyek Induk Pembangkit dan Jaringan (Pikitring) PLN Sumbagut, dikatakan adalah pihak yang paling bertanggungjawab atas terbakarnya Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT), sehingga menyebabkan Kota Medan, Sumatera mengalami pemadaman aliran listrik pada Minggu (17/1) malam kemarin.

“Bila ditemukan kelalaian, kita minta Dirut PLN mencopot GM Pikittring PLN Sumbagut,”ujar anggota DPRD Sumut, Sutrisno Pangaribuan.

Selain itu, lanjutnya, BPTT Medan juga diminta untuk memeriksa kesesuaian seluruh izin yang dimiliki oleh PT Sicanang Indah dengan aktivitasnya. Kemudian, YLKI diminta untuk segera menghitung kerugian masyarakat, akibat pemadaman yang dilakukan PLN setelah SUTT terbakar.

“Dan bila dari hasil penyelidikan dan penyidikan ditemui ada pelanggaran hukum, diminta pihak yang terlibat dan pihak yang lalai harus diproses secara hukum,” nilainya.

Anggota Komisi C DPRD Sumut ini juga menyampaikan, bahwa pemadaman serentak listrik di Kota Medan, dan beberapa daerah di Sumut serta Aceh tersebut tidak dapat dianggap sebagai persoalan kecil, dengan menjelaskan bahwa penyebab pemadaman itu adalah karena putusnya kabel SUTT bertegangan 150 KV, yang disebabkan oleh terbakarnya pabrik kayu PT. Canang Indah yang letaknya berada di bawah kabel SUTT tersebut.

Sehingga, seluruh pembangkit di Belawan yang sedang beroperasi sekitar 400 MW dihentikan operasinya, akibatnya ketika beban puncak sebesar 1680 MW tidak dapat dipikul pembangkit yang operasinya tidak terganggu.

“Kita harus membedah kasusnya, sehingga kita dapat menentukan siapa pihak yang bertanggung jawab,”ujarnya.

Menurut politisi dari Partai PDI P ini, harus dilihat apakah letak pabrik kayu yang yang bahan bakunya terbakar itu berdasarkan Peraturan Menteri ESDM RI No. 18 Tahun 2015, Tentang Ruang Bebas Minimum pada SUTT, Saluran Udara Ekstra Tinggi, dan juga Saluran Udara Tegangan Tinggi Arus Searah untuk Penyaluran Tenaga Listrik.

Pada Pasal 1, lanjutnya, dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan SUTT adalah saluran tenaga listrik yang menggunakan kawat telanjang (konduktor) di udara yang bertegangan nominal diatas 35 kV sampai dengan 230 kV, sesuai dengan standard dibidang ketenagalistrikan.

Sedangkan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET), adalah saluran tenagan listrik yang menggunakan kawat telanjang (konduktor) di udara yang bertegangan nominal diatas 230 kV, sesuai dengan standard dibidang ketenagalistrikan.

Saluran Udara Tegangan Tinggi Arus Searah (SUTTAS), adalah saluran tenagan listrik yang menggunakan kawat telanjang (konduktor) di udara yang bertegangan nominal 250 kV dan 500 kV dengan polaritas positif, negatif atau kombinasi dari keduanya (dwikutub).

“Jika yang terbakar adalah Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV, maka jarak vertikal bangunan minimal 5 Meter, sedangkan jarak horizontal 10 Meter, sedangkan bila itu saluran udara tegangan tinggi arus searah (SUTTAS), maka jarak vertikal bangunan 9 Meter dan jarak horizontalnya 18 Meter,”paparnya.

Karenanya, sambung Sutrisno, kita meminta segera dilakukan penyelidikan dan penyidikan terkait kebakaran yang mengakibatkan saluran udara tegangan tinggi tersebut ikut terbakar. Kepolisian harus segera memriksa Dirut PT Canang Indah, sebagai pihak yang bertanggung jawab atas terjadinya kebakaran.

“Perlu diperiksa, apakah lokasi usaha PT Sicanang Indah itu telah memenuhi ketentuan jarak horizontal dan vertikal aktivitas pabrik dari menara SUTT,”tandasnya.

Pelayanan PLN Masih Buruk

Warga Kota Medan dan sekitarnya masih selalu mengeluhkan pemadaman listrik yang kembali terjadi. Terutama pengusaha UKM dan masyarakat kecil lainnya. Apalagi, pemadaman terjadi disaat umat muslim akan melaksanakan ibadah.

“Kenapa pelayanan PLN ini tidak pernah beres. Selalu terjadi pemadaman hingga berjam-jam, jika di telepon ke pihak PLN, alasannya selalu masalah gangguan, masalah travo meledak dan sebagainya. Apa dengan tarif kita membayar cukup mahal dan selalu naik setiap bulannya ini, tidak cukup untuk membeli mesin yang baru,” ujar warga Jalan Medan Dedi Armansyah kepada SUMUT24, Senin (18/1).

“Kita heran kenapa PLN tidak cepat antisifasi kalau ada pemadaman, sepertinya PLN mendapat keuntungan dari pemadaman tersebut,” tambahnya.

Hal senada juga dikatakan, warga Medan, Sahat. Dia menyesalkan pelayanan PLN kepada masyarakat yang tidak pernah memuaskan. “Saat ini sudah ada sistem razia dari PLN dari rumah ke rumah, yakni memeriksa arus listrik masyarakat yang mencuri arus. Jika kedapatan bisa terkena denda hingga ratusan juta rupiah. Kemarin teman saya sudah kena razia ini. Saya pikir cara ini bagus, agar tidak ada lagi yang mencuri arus,” bebernya.

Apalagi, lanjutnya, arus listrik rumah tangga sudah beralih ke model terbaru, yakni listrik prabayar atau biasa di sebut juga dengan listrik voucher (KWH meter token), yang kabarnya arus listriknya tidak bisa dicuri lagi. Jika terkena denda, maka meteran lama diganti ke model KWH meter token ini, dengan alasan PLN, sudah tidak ada lagi stok meteran lama.

“Tapi kenapa pelayanan PLN masih parah juga ya?,” ujarnya.

Kedepannya PLN harus berbenah diri dengan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, karena pemadaman sangat berdampak bagi masyarakat seperti, tindakan kriminalitas, kebakaran dan suasana ketidak kondusifan lainnya.

Lima Unit Pembangkit Listrik Rusak

Warga Sumatera Utara (Sumut) dan Aceh kembali akan mengalami pemadaman bergilir hingga beberapa hari kedepan dengan durasi berkisar satu hingga dua jam. Pasalnya, putusnya kabel akibat kebakaran yang terjadi Minggu (17/1) malam membuat lima unit pembangkit rusak.

Seperti diketahui akibat kebakaran yang terjadi pada PT Canang Indah yang berada di antara tower 3 dan 4 membuat kabel saluran udara tegangan tinggi (SUTT) Belawan-Binjai putus. Namun hal tersebut justru menimbulkan kerusakan pada lima unit pembangkit karena menerima beban besar secara tiba-tiba.

“Kabel pada jaringan itu putus yang otomatis beban secara tiba-tiba kembali ke pembangkit namun itu justru menimbulkan dampak kerusakan lain. Akibatnya sekarang Sumut dan Aceh justru mengalami defisit,” kata Deputi Manajer Hukum dan Humas PLN Wilayah Sumut, Mustafrizal kepada wartawan di Medan.

Defisit tersebut, lanjut dia, tidak hanya terjadi di wilayah Sumut tetapi juga Aceh. Rinciannya sebanyak 148 MW di Sumut dan 25 MW di Aceh. Dengan defisit sebesar itu, pihaknya memperkirakan pemadaman hanya akan terjadi satu atau dua jam.

“Kalau di bawah 200 MW (defisitnya), kami perkirakan padam hanya satu jam atau paling lama dua jam. Diupayakan penyelesaiannya cepat hanya dua hari jadi pemadaman bergilir tidak akan berkepanjangan,” ucapnya.

Dikatakannya, kerusakan cukup parah terjadi pada PLTU Unit 3 dan 4 yang ada di Belawan. Pada dua unit itu terjadi kebocoran boiler sehingga butuh waktu cukup lama untuk memperbaikinya. Selain itu, GT 2.1 dan 2.2 Blok 2 Belawan, PLTG Lot 3 Belawan, PLTU 1 dan 2 Pangkalan Susu, PLTU Unit 1 dan 2 Nagan Raya serta PLTA Sipan dan Renun juga mengalami kerusakan yang sedang proses pemulihan.

“Kerusakan pada empat unit pembangkit itu sebenarnya tidak terlalu parah dan sejak tadi malam (Minggu) sudah mulai pemulihan yang diharapkan daya listriknya bisa segera masuk sistem kembali. Yang parah hanya pada PLTU Unit 3 dan 4 karena sampai sekarang masih terus dicari apa masalah utamanya. Setelah diketahui apa masalahnya baru kemudian bisa diperbaiki,” paparnya.

Ketika ditanyakan apakah Sumut tidak mendapat suplai dari pembangkit lain? Mustaf menjawab ada dua pembangkit yang membantu pasokan listrik saat ini yakni dari PT Inalum sebesar 90 MW. Selain itu juga ada suplai listrik dari Palembang sebesar 75 MW.

“Suplai dari kedua pembangkit itu membuat defisit kita hanya 148 MW untuk Sumut dan 25 MW saat ini,” jelasnya.

Sementara itu Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumut, Johan Brien mengatakan, dengan matinya listrik secara tiba-tiba dan dengan kurun waktu yang berjam-jam memberikan dampak negatif kepada para pengusaha.

Dikatakannya, para pengusaha mengalami kerugian yang sangat besar. Jika ditabulasi secara keseluruhan di Sumut, bahkan beberapa daerah di Aceh, Johan Brien mengatakan kerugian bisa sampai puluhan miliar rupiah.

“Dampak mati listrik ini sangat berpengaruh. Pastinya perusahaan merugi. Apalagi ini kan matinya tiba-tiba. Mesin bisa rusak, produktifitas terhambat, bahkan bahan yang sedang diproses produksinya bisa rusak. Kalau dihitung-hitung kerugian ini besar, kalau semua dihitung bisa sampai puluhan miliar rupiah,”ujarnya.

Dikatakannya, matinya listrik ini seharusnya bisa diantisipasi dengan cepat oleh PLN. Seharusnya PLN bisa memutus mata rantai yang mengalami kerusakan.

“Seharusnya cepat diantisipasi, mereka kan ada cadangan. Harusnya mereka memutus mata rantai kerusakan itu, tidaklah harus sampai mati listrik semua daerah. Ini kan kabel yang menghubungkan Belawan-Binjai, kenapa semua mati,”katanya.

Menurut Johan Brien, ketika kabel yang putus, seharusnya perbaikannya cepat. Daerah yang lain pun tidak perlu mengalami pemadaman. Seharusnya PLN lebih transparan dan lebih sigap dalam mengatasi kondisi seperti ini.

“Heran kita, kabel Belawan Binjai putus kok jadi mati semua? Beda kalau mesinnya yang meledak. Ini kan kabelnya yang putus, bisa cepat itu diatasi. Kalau mesin pembangkit meledak okelah, ini kan tidak,”terangnya. (dd/ism/ns)