Tolak Konversi Teh ke Sawit, Warga Stop Aktivitas Alat Berat, Jawaban PTPN IV Mengambang

Simalungun l Sumut24.co

Ratusan masyarakat Kecamatan Sidamanik, Kabupaten Simalungun yang tergabung dalam Persatuan Parsidamanik Seindonesia menggelar aksi unjuk rasa di PTPN IV Unit Kebun Teh Sidamanik, tepat nya di Kantor Bah Butong, Selasa (28/6/22).

Dalam aksi unjuk rasa itu, masyarakat beramai-ramai melakukan penghentian dan pengusiran alat berat dari lahan kebun teh, yang akan dikonversi menjadi tanaman sawit, tampak 3 alat berat dihentikan masyarakat dan mengambil kunci dari alat berat tersebut.

Koordinator aksi Bungaran Nainggolan kepada wartawan mengatakan, bahwa mereka sudah melakukan unjuk rasa ke dua kali nya.

Aksi tersebut berlangsung Pagi Hingga Sore hari karena masih beropeasinya alat berat di Bah Butong atau dilahan yang informasinya akan dikonversi.

“Ini adalah aksi yang ke dua, yang kami lakukan bersama masyarakat sidamanik, kami meminta pihak kebun teh sidamanik menghentikan semua kegiatan yang berhubungan dengan konversi teh ke sawit” tegas Bungaran Nainggolan yang merupkan Sekretaris Jendral Persatuan Parsidamanik Seindonesia.

Dikatakannya, tidak ada lagi negosiasi dengan pihak Kebun Teh Sidamanik, yang dimana pihak perkebunan tidak mendengar tuntutan mereka beberapa hari yang lalu.

“tidak ada lagi negoisasi, semua alat berat harus berhenti, dan keluar dari lokasi ini” tegas nya.

Kordinator aksi mengatakan, pihaknya akan turun ke Kantor PTPN IV yang ada di Medan, jika operasi atau kegiatan konversi ke teh masih dilanjutkan.

Soal kerugian yang diutarakan pihak perkebunan Teh Sidamanik, massa meminta data rill jika memang benar perusahaan merugi selama puluhan tahun.

Massa menganggap bahwa isu kerugian hanya bualan belaka pihak perkebunan, yang dimana aktifitas karyawan, pabrik hingga bonus petinggi PTPN IV Sidamanik masih keluar.

“Kalau memang merugi, kenapa masih ada kegiatan, kenapa masih ada pabrik, kenapa masih ada karyawan, kenapa bonus mereka keluar” ucap Bungaran.

Massa juga mengancam, Jika aktifitas konversi tetap dijalankan, akan ada korban “korban nya bukan manusian, alat berat akan kami bakar” ancam Bungaran.

Dasar penolakan konversi teh ke sawit juga diterangkan Bungaran, menurut nya, Daerah Sidamanik tidak pantas ditanami sawit, karena geografis daerah tersebut adalah daerah dingin, yang dimana tidak ada sejarahnya di daerah dingin ditanami sawit.

“Tidak ada sejarah nya di daerah dingin itu ditanami sawit, karena kadar minyak nya itu berkurang, tidak maksimal” ucapnya.

Dia kembali menegaskan, masyarakat Kecamatan Sidamanik, Pematang Sidmanik, menolak tanaman sawit di tanam di Perkebunan Teh Sidamanik. “Jika mereka tidak bisa lagi mengelolah teh, kembalikan lahan itu kepada masyarakat” pinta nya.

Kemudian, setelah menemui pihak PTPN IV Kebun Teh Sidamanik dalam diskusi kecil, Bungaran mengatakan, pihak PTPN IV Kebun Teh Sidamanik tidak berani membuat surat perjanjian, penghentian alat berat untuk tidak bekerja lagi.

“Tidak ada realisasi dari pihak kebun, jadi kita akan bertahan, dan besok kita akan kembali turun ke sini” ucapnya.

Sementara itu, SDM atau Humas Kebun Teh Sidamanik Ravi akan menyampaikan seluruh tuntutan kepada Direksi PTPN IV.

Dikatakan Ravi, pihak nya tidak bisa memberikan keputusan, sehingga harus menyampaikan semuanya kepada Pimpinan.(LP)