Rabu, 01 Juli 2026

Pemerintah dan Pengusaha Harus Lebih Memperhatikan Kondisi Rakyat dan Pekerjanya

Administrator - Minggu, 03 Mei 2020 11:02 WIB
Pemerintah dan Pengusaha Harus Lebih Memperhatikan Kondisi Rakyat dan Pekerjanya

Pemerintah dan Pengusaha Harus Lebih Memperhatikan Kondisi Rakyat dan Pekerjanya

Baca Juga:

MEDAN | SUMUT24

Psikolog Irna Minauli Msi mengatakan, pemerintah dan para pengusaha harus lebih memperhatikan kondisi rakyat dan pekerjanya sehingga kesejahteraan dapat ditingkatkan yang pada akhirnya membuat keamanan sosial dan politik menjadi lebih terjamin.

Bila seseorang diberhentikan dari pekerjaan merupakan salah satu stres berat yang bisa dialaminya dalam kehidupannya setelah kematian pasangan (atau anak), perceraian, dipenjara dan mengalami penyakit berat, kata Irna Minauli di Medan, Sabtu (2/5) mengomentari masih mengancamnya wabah virus corona (Covid-19) mengakibatkan banyak orang yang dirumahkan bahkan ada yang terancam di PHK.

Dikatakannya, stres akibat PHK berkaitan dengan menurunnya sumber penghasilan dan berkurangnya harga diri yang pada akhirnya dapat berpengaruh buruk pada kondisi kesehatan fisik maupun psikologis seseorang.

Dikatakannya, bagi kebanyakan orang, pekerjaan bukan hanya sebagai sumber penghasilan namun juga merupakan bentuk penghargaan pada dirinya. Dengan demikian, ketika seseorang kehilangan pekerjaan maka harga dirinya pun ikut terganggu, terlebih ketika tidak ada dukungan sosial dari keluarganya. Dalam jangka panjang, stres ini dapat berpengaruh pada kesehatannya sehingga kualitas hidup mereka menurun. Selain itu, secara psikologis mereka dapat mengalami depresi.

Menurutnya, ketika seseorang memiliki kemampuan resiliensi (daya lenting) maka setelah di-PHK kemudian berupaya untuk bangkit kembali. Mereka mungkin akan menjadi pengusaha atau melakukan hal-hal lain yang lebih menghasilkan dibandingkan ketika mereka masih bekerja di tempat sebelumnya. Akan tetapi, bagi mereka yang kemudian selalu mengalami kegagalan setiap kali melamar pekerjaan atau berwirausaha, seringkali mereka kemudian mengembangkan perasaan tidak berdaya yang dipelajari (learned helplessness) yang membuat seseorang mengembangkan apatisme sehingga meskipun ada peluang, mereka tidak akan memanfaatkan peluang tersebut. Mereka seolah trauma dengan kegagalan-kegagalan yang beruntun yang dialaminya, meskipun sebelumnya ia sudah berusaha.

Dalam kondisi sempitnya lapangan pekerjaan bagi pribumi, sementara mereka membaca atau mendengar banyaknya TKA yang masuk ke Indonesia dan mengambil kesempatan kerja yang seharusnya bisa mereka isi, maka kondisi ini akan memperburuk frustrasi yang mereka rasakan. Jika tidak ditangani dengan baik maka kelompok ini bisa mudah diprovokasi untuk melakukan tindakan menentang pemerintah yang dianggap gagal memberi kesejahteraan bagi rakyatnya,katanya.

Pada kasus lain, ketika seseorang sudah tidak lagi melihat peluang mendapatkan pekerjaan yang halal, maka kemungkinan terlibat dalam kriminalitas juga semakin besar,katanya.(Dame)

 

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
SHARE:
beritaTerkait
Bazar UMKM Ramaikan APEKSI XVIII Medan, PWPM Ikut Gerakkan Ekonomi Lokal
Polda Sumut Raih Nugraha Sakanti di Hari Bhayangkara ke-80, Kapolda Terima Langsung dari Presiden
Mantan Ketua Ormas di Medan Ditangkap, Diduga Kelola Lokasi Judi Tembak Ikan
Refleksi HUT ke-436 Kota Medan 2026  Ahmad Afandi Harahap: Medan Harus Tumbuh Bukan Hanya Secara Fisik, Tapi Juga Meningkatkan Kualitas Hidup Warga
Dihadiri Wali Kota se- Indonesia, Peringatan Hari Jadi Kota Medan ke -436 Berlangsung Istimewa
Bank Sumut Gelar Pojok Sehat, Program Rutin Bagi Nasabah Pensiunan
komentar
beritaTerbaru