Berastagi I SUMUT24
Baca Juga:
Infant Mortality Rate atau Angka Kematian Balita di Kabupaten Karo relatif lebih rendah bila dibandingkan Angka Kematian Balita di Provinsi Sumatera Utara maupun Nasional. Demikian pula Angka Kematian Ibu (AKI) yang baru melahirkan, Kabupaten Karo tergolong rendah secara nasional. Angka Kematian Bayi (AKB) maupun Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan indikator yang lazim digunakan untuk menentukan derajat kesehatan masyarakat, baik pada tataran kabupaten, provinsi maupun nasional.
Hal itu diungkapkan Bupati Karo, Terkelin Brahmana, SH saat membuka Lokakarya Kampanye Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir yang digelar USAID Jalin, Jumat (24/5) di Hotel Mickie Holiday Resort, Berastagi, Kabupaten Karo.
Rendahnya angka kematian ibu baru melahirkan dan bayi yang baru dilahirkan di Kabupaten Karo menjadi perhatian Kementerian Kesehatan RI. “Dari Kemenkes RI lah saya dapat informasi bahwa angka kematian ibu baru melahirkan dan bayi yang baru dilahirkan di Kabupaten Karo tergolong rendah secara nasional,†jelas Bupati.
Menurut Terkelin Brahmana, hal itu mungkin dipengaruhi bahwa setiap ibu yang baru melahirkan dan bayi yang baru dilahirkan di Kabupaten Karo masih melekat atau mewarisi tradisi-tradisi lama hingga sekarang. Yakni, setiap ibu yang baru melahirkan disembur atau dikuningi (bahasa Karo-red) dengan menggunakan bahan-bahan alami.
Nasril Lubis dan Regional Manager USAID Jalin, menjelaskan dari Data Kemenkes RI DAN Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara, tingkat kematian ibu dan bayi baru lahir di Indonesia, dan Provinsi Sumatera Utara secara khusus, masih relatif tinggi. Di Sumut setiap minggunya ada lima (5) ibu dan 18 bayi baru lahir yang meninggal dunia. Sebagian besar kematian ibu dan bayi baru lahir itu sesungguhnya dapat dicegah.
Fakta, di Indonesia, 8 bayi baru lahir dan dua ibu meninggal setiap jam. Di antara negara ASEAN, Kamboja dan Myanmar memiliki angka kematian ibu dan bayi baru lahir yang lebih baik. Program USAID bertujuan untuk berkontribusi terhadap upaya peningkatan kesehatan ibu dan bayi baru lahir di Indonesia dengan pendekatan yang berbeda.
“Beberapa hal penyebab tingginya angka kematian ibu dan bayi baru ilahirkan, masih banyak masyarakat, terutama dari kalangan menengah ke bawah yang belum mengetahui adanya zaminan persalinan dari pemerintah sehingga mereka enggan memeriksakan kehamilan dan melakukan persalinan di fasilitas kesehatan,” terang Nasril Lubis.
Toga Nainggolan dan Nasril Lubis berharap melalui diskusi ini bisa memberi solusi konkret untuk semua pihak khususnya pemerintah daerah untuk mengurangi angka kematian ibu dan bayi baru lahir. (lin)
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di
Google News