Sonya Kadarmanik: Virus Corona Lambungkan Harga Emas Dunia

144
Branch Manager PT Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) Cabang Medan, Sonya Kadarmanik. SUMUT24/amru lubis

Medan I SUMUT24.CO

Wabah virus corona yang kini menghantui banyak negara di dunia, justru membawa pengaruh ke berbagai sektor, termasuk perdagangan berjangka komoditi. Pengaruh tersebut sebagai besar ke arah negatif (turun), namun ada juga yang positif (naik).

Branch Manager PT Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) Cabang Medan, Sonya Kadarmanik mengatakan, virus corona telah mengangkat harga emas di dunia yang tadinya sekitar 1.450 dolar AS per ons troy menjadi lebih dari 1.600 per ons troy.

“Kenaikan harga emas sekitar 200 per ons troy ini sudah sangat besar karena hanya dalam kurun waktu sekira 1 bulan. Meskipun, sempat turun 1.550 per ons troy,” ujar Sonya Kadarmanik kepada wartawan, kemarin.

Advertisement

“Artinya, virus ini membawa pengaruh, dan market kita internasional bukan nasional. Dengan kata lain, setiap indikator internasional yang mempengaruhi perekonomian dunia maka otomatis berpengaruh juga terhadap kita,” ucap Sonya Kadarmanik.

Wabah virus corona mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia, termasuk Indonesia dan juga Amerika Serikat (AS). Bahkan, saat ini sudah berkembang ke beberapa negara di Eropa seperti Australia, Perancis, Korea Selatan dan lainnya.

Oleh karena berdampak kepada negara-negara di dunia, otomatis perekonomian mulai terganggu. Hal ini tentunya juga berdampak kepada mata uang, apalagi international currency adalah dolar AS dan tentu mempengaruhi nilai mata uang tersebut sehingga turun.

“Ketika turun, maka market yang berlawanan dengan dolar (AS) yaitu emas tentu mengalami kenaikan. Contoh, di PT Rifan salah satu transaksinya gold (emas). Emas secara filosofinya berbanding terbalik dengan mata uang,” ujar Sonya Kadarmanik.

Dicontohkannya, seperti misalnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), apalagi Indeks Hang Seng (bursa saham di Hong Kong) karena berdekatan dengan Tiongkok. Pengaruhnya, ketika virus itu semakin menyebar luas maka Indeks Hang Seng turun termasuk harga-harga saham lainnya di Tiongkok dan Hong Kong.

“Virus ini (corona) mempengaruhi market global. Ketika harga saham turun, otomatis indeksnya turun. Sebab, indeks itu merupakan nilai rata-rata dari gabungan harga saham. Oleh karena itu, para investor banyak yang ‘lari’ (transaksi) ke emas lantaran mayoritas harga saham pada anjlok,” ungkap Sonya.

Ia memprediksikan, pada semester I-2020 dengan kondisi yang diawali virus tersebut dan vaksinnya belum ditemukan maka bukan tidak mungkin berdampak nantinya terhadap emas. Artinya, kemungkinan harga emas dunia akan terus bertahan naik hingga semester I-2020. Saat ini, harga emas masih stabil sekitar 1.600 per ons troy.

“Nilai dolar AS secara global melemah, begitu juga currency nasional beberapa negara dan harga saham. Dengan kondisi tersebut, maka menjadi peluang bagi nasabah-nasabah kita yang bertransaksi di emas untuk membeli karena diperdiksi harga emas cenderung bertahan naik. Namun demikian, kondisi harga emas ini masih tetap tergantung situasi global,” saran Sonya.

Dikatakan Sonya Kadarmanik, wabah virus corona ini bagi PT Rifan bukan sebuah ancaman maupun kerugian yang berarti. Alasannya, tidak ada untung dan rugi dari kondisi tersebut karena PT Rifan hanya sebagai fasilitator.

Sementara itu di tempat terpisah, Pengamat Ekonomi Sumut Gunawan Benjamin mengatakan, virus corona telah memberikan dampak negatif terhadap perekonomian global. Sejak mewabahnya virus itu, banyak negara yang mengkhawatirkan adanya kemungkinan perlambatan laju pertumbuhan ekonominya.

“Multiplier efek negatif lainnya adalah ekspektasi perlambatan harga komoditas seiring dengan perlambatan ekonomi yang terjadi. Selain di sektor rill, pasar keuangan juga mengalami pukulan seiring dengan mewabahnya virus tersebut. Hampir di semua negara mengalami penurunan kinerja sektor keuangannya, termasuk salah satunya adalah pasar keuangan domestik seperti pasar saham. Hingga hari ini (kemarin, red) IHSG saham mengalami pelemahan yang ditutup di level Rp 5.913. Padahal, sebelum mewabah IHSG masih mampu bertahan dikisaran Rp 6.200 ke Rp 6.300,” tutur Gunawan.

Namun demikian, sambung Gunawan, kondisi berbeda justru ditunjukan oleh emas. Harga emas justru semakin menguat di tengah mewabahnya virus corona. “Saat serangan Iran, harga turun. Masuk wabah Corona . Dalam sebulan terakhir, harga emas sempat mendekati level Rp 1.600 er ons troy,” cetus Gunawan.

Gunawan menyarankan terhadap nasabah maupun trader, saat ini ditengah kondisi yang tidak pasti emas memang masih memiliki peluang naik, sehingga masih bisa dibeli. Namun untuk pasar keuangan, sebaiknya investor disarankan memilih posisi wait and see. (R03)

Loading...