Sepenggal Kisah Bom Star Buck ‘Ketika Saya Berada Tak Jauh dari Para Teroris’

1153

Hari ini, Kamis 14 Januari 2016. Hari yang semestinya biasa saja bagi saya. Bangun tidur pada 07.30 WIB, selepas itu mandi dan lantas bergegas pergi melawan kemacetan dari tempat tinggal saya di Bekasi, menuju tempat bekerja di Jakarta.

Kebetulan saya berprofesi sebagai jurnalis. Pada hari Kamis yang semestinya biasa ini, saya mendapat penugasan: melakukan peliputan di Kementerian Komunikasi dan Informatika yang berada di kawasan Medan Merdeka, dekat Istana Negara.

Jarum jam di tangan tak terasa menunjukkan pukul 10.30 WIB. Seorang rekan wartawan yang sedang membaca lini masa Twitter mengatakan kalau ada kepulan asap di kawasan Sarinah. Sebuah tempat yang tak jauh dari tempat saya berada.

Awalnya, kami yang sedang meliput mengira itu hanya kebakaran biasa yang terjadi.

Dari riuhnya lini masa Twitter, beberapa saat kemudian saya baru menyadari kepulan asap itu bukan berasal dari kebakaran, melainkan berasal dari sebuah ledakan.

Saya tersentak. Sejurus kemudian berlari pergi meninggalkan acara yang seharusnya menjadi penugasan menuju ke arah kawasan Sarinah. Menyewa ojek, itu yang langsung terlintas.

– “Pak, ke Sarinah ya,” kata saya kepada tukang ojek.

– “Ada ledakan mas di sana!” jawab si tukang ojek.

Tanpa ragu, ia mengantar saya dari kantor kementerian menuju Sarinah. Mungkin ia tahu saya sedang terburu-buru, karena pacuan sepeda motornya berlari agak gegabah. Melawan arah bahkan mengangkangi trotoar.
Sampai di bawah halte Transjakarta Bank Indonesia, saya memutuskan turun dari ojek dan berjalan kaki menuju Sarinah, karena terlihat petugas kepolisian sudah menghalau lalu lintas dan menutup jalan dari perempatan Bank Bangkok hingga Thamrin.

Sambil berjalan kaki menuju Sarinah untuk mengetahui pusat ledakan, saya melihat warga berlarian dari arah Sarinah ke arah Bank Bangkok dan Kebon Sirih.

Saat itu belum terdengar suara ledakan, belum terlihat ada korban, belum terlihat asap. Saya hanya melihat wartawan televisi dan juru kameranya sedang melakukan laporan langsung di dekat Hotel Sari Pan Pasific.

Karena berpikir kondisi tidak kondusif, sesampainya di depan Hotel Sari Pan Pasific saya berjalan menuju jalan penghubung ke arah Gedung Skyline, gedung tempat Starbucks dan Djakarta Theater berada.

Sambil menyusuri jalan penghubung, saya melihat korban-korban yang tergeletak di pos polisi Sarinah yang tampak hancur berantakan dan masih mengepulkan asap putih. Rupaya dari situ sumber suara ledakan yang saya dengar dari Gedung Kominfo sebelumnya.

Saya melihat para korban masih tergeletak di jalanan seberang Gedung Sarinah dan belum diangkat oleh petugas kesehatan.

Selain korban ledakan di pos polisi Sarinah, saya melihat deretan petugas kepolisian yang sedang bersiap melakukan penyergapan ke arah Gedung Skyline. Belum terlihat kerumunan warga yang berkumpul, karena sepertinya polisi sudah menghalau warga untuk berlindung ke tempat yang lebih aman.

Karena merasa tidak akan ada lagi ledakan susulan, saya memutuskan kembali masuk ke lobi Gedung Skyline.

Dari jauh, saya melihat seorang pria ekspatriat tergeletak di depan lobi. Umurnya sekitar 50 tahun. Setengah tubuhnya berdarah dan tangannya terluka.
Kakinya seperti dipasang alat bantu darurat, tapi tidak ada seorang pun warga dan petugas kepolisian atau kesehatan yang berada di sekitarnya.

Demi kebutuhan berita, saya berusaha memotretnya sembari jalan dari kejauhan. Setelah mengecek foto, saya juga belum melihat satupun petugas berwajib yang mengurusnya.

Kaki lantas terus melangkah mencoba mendekati pria tersebut, karena saya tidak tahu menahu apa yang sedang terjadi di sekitar Gedung Skyline.

Berjarak 50 meter dari pria yang tergeletak di lobi, saya melihat dua orang pria yang sedang bersembunyi di samping mobil yang terparkir di depan Starbucks.

Masing-masing terlihat memakai topi berwarna hitam, kaus berwarha hitam dan biru serta tas ransel berwarna putih dan merah.

Saya berpikir mungkin mereka polisi preman yang tidak mengenakan seragam. Tapi saya sempat curiga, karena tidak terlihat identitas kepolisian dan tidak membawa senjata laras panjang.

Kedua pria itu hanya terlihat membawa senjata laras pendek yang terus mereka letuskan ke arah jalanan Sarinah.

Dor, dor, dor. Terdengar dua hingga tiga kali suara tembakan dari mereka yang tidak mengetahui keberadaan saya.

Tubuh saya gemetar, karena mengetahui kalau ternyata saya masih berada di tengah adu tembak antara polisi dan pelaku teror.

Beberapa langkah lagi mendekati sang pria yang tergeletak, saya mendengar suara dentuman dari arah kedua pria itu.

Suara ledakan itu lama-lama terdengar menjauh dan membuat telinga saya berdenging. Tubuh pun limbung, karena terhempas getar ledakan tersebut.

Saya tidak sempat melihat ke arah kedua pria itu lagi, karena pemandangan langsung tertutupi kabut asap berwarna putih pekat.

Seketika saya menyimpulkan pendapat: kedua pria itu ialah pelaku peledakan bom.

Sekuat tenaga saya berusaha menjauh dari lokasi ledakan untuk mengamati dari titik yang lebih aman. Kaki yang setengah lemas ini menyeret langkah untuk kembali ke arah Hotel Sari Pan Pasific.

Sambil mengumpulkan kesadaran, saya melihat petugas kepolisan sudah berkerumun dan meminta seluruh orang yang berada di dekat Gedung Skyline menjauh, karena kawanan pelaku ledakan melarikan diri ke dalam Djakarta Theater melalui lobi tempat saya berdiri tadi.

Suara berondongan tembakan kembali bergema dan perasaan saya langsung berkecamuk.

Ini bukan Kamis yang biasa saja bagi saya juga buat Jakarta. (cnni)