Sastrawan Ingin Nilai Budaya Batak Dikembalikan ke Posisi Semula.

0
83

BALIGE I SUMUT24.co
Bupati Toba Poltak Sitorus, dan Wakil Bupati Toba Tonny M. Simanjuntak, menerima audiensi Saut Poltak Tambunan, Sastrawan Batak yang sudah menulis banyak buku, novel, dan juga cerita pendek, di Ruang Kerja Bupati Toba, Kamis (9/6/2022).

Dalam kunjungannya Saut Poltak Tambunan penerima anugrah Pemerintah sebagai Tokoh Sastra Pelestari bahasa daerah 2020 ini, menyerahkan sejumlah buku karyanya sendiri, untuk dibagikan kepada anak-anak di sekolah. Ia menyebutkan buku-bukunya ditulis dengan bahasa yang santun, seperti kepribadian orang Batak dahulu.

Buku berjudul Mangongkal Holi, Manggorga Ari Sogot, Mandera Na Metmet (Novel dengan 2 bahasa, Indonesia dan Batak), Sengkarut Meja Makan, Metamor Horas, Danau Toba, Sonduk Hela, termasuk pentalogi novel fenomenal si Tumoing dan buku terbaru Permainan Tradisional Anak, dan judul lainnya ditulis dengan bahasa yang santun. Misalnya kata ‘banna, benna, ibenna’ tidak digunakan, yang ada ialah “Umbahenna”.

Lebih lanjut, Saut Poltak Tambunan menuturkan, sekarang ini, anak-anak sudah tidak tahu lagi apa itu “Lasinga atau Lasiak”, yang dia tahu adalah Cabai. Dan mungkin untuk 10 tahun lagi, anak-anak kita tidak akan tahu bahasa daerah (bahasa batak).

Ia ingin Pelajaran Bahasa Daerah, dan cerita-cerita rakyat yang menginspirasi dimasukkan ke dalam kurikulum di sekolah. Agar nilai budaya Batak dapat kembali ke posisi atau nilai semula.

“Jadi apa yang kita perjuangkan ini, sungguh-sungguh, untuk mengembalikan Batak ke posisi semula, Batak Naraja,” ujar Saut Poltak Tambunan.

“Kalau bisa, anak kita itu kita suruh belajar Habatakon (budaya batak), tetapi (jangan) selalu dengan dongeng-dongeng yang ada di Indonesia. Ini bisa membuat rasa tak nyaman pada generasi muda, bahwa belajar bahasa Batak pastilah tentang zaman dahulu, hikayat, dongeng, si Mardan, terjadinya Danau Toba dan sebagainya. Mereka juga perlu belajar sastra modern dalam bahasa Batak,” tambahnya lagi

Menanggapi hal tersebut, Bupati Toba mengapresiasi kunjungan ini, yang sejalan dengan Visi Kabupaten Toba “Unggul dan Bersinar”, dengan kepribadian Batak Naraja.

“Saya ingin ini kita jawab, siapakah orang Batak itu ?. Orang Batak dahulu adalah orang yang santun, suka bergotong-royong (membangun ruma gorga), tidak seperti sekarang, membangun ruma gorga hanya dengan mengeluarkan uang dari kantong (senilai 1,5 M), Marsiadapari (mengerjakan sawah secara bergiliran), memiliki ketrampilan dan ilmu pengetahuan, dan suka bermusyawarah (melakukan tonggo raja) dalam mengambil sebuah keputusan,” sebut Bupati Poltak Sitorus.

“Kami bangga punya orang seperti bapak, menulis buku ini. Sebuah buku dapat mengubah kepribadian, dan pola pikir masyarakat, ke arah yang lebih baik,” kata Bupati Poltak Sitorus.

Menurut Bupati Toba ini, Permainan tradisional seperti Margala, dapat membentuk karakter yang tangguh, jujur, kreatif, mempunyai daya juang, dan juga memiliki tenggang rasa.

“Kami akan sebarkan ini kepada anak-anak kita, bukan hanya sekedar diketahui, tapi untuk dibudayakan,” sebut Bupati Toba menambahkan.

Bupati Toba meminta kepada Plt. Kepala Dinas Pendidikan Rikardo Hutajulu, agar Permainan tradisional seperti Margala kembali dimunculkan (digalakkan). Meskipun permainan ini mungkin adalah hal yang baru bagi mereka.(Wels)