Gafatar Tidak Ada di Asahan

590

KISARAN | SUMUT24

Keberadaan organisasi masyarakat (ormas) Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) kini banyak menjadi sorotan dan perbincangan masyarakat terkait ormas tersebut disebut sebut menjalankan ibadah yang melenceng dari syariat Islam dan diduga melakukan perekrutan anggota dengan kajian kajian yang sering disebut cuci otak.

Majelis Ulama Indonensia (MUI) Asahan, Salman Tanjung melalui sekretarisnya Drs Mahmuddin Lubis di ruang kerjanya, Selasa (19/1), berharap masyarakat dapat membantu dalam memberikan informasi keberadaan ormas ini guna memantau aktivitas dan kegiatan mereka.

“Kalau laporan yang diterima MUI, memang belum ada kelihatan aktifitas Gafatar di Asahan, demikian kami juga meminta kalau ada informasi dari masyarakat tolong dipantau karena banyak yang menyebutkan kajian yang mereka lakukan ini melenceng dari ajaran Islam,” jelas Mahmuddin Lubis.

Penelusuran wartawan, di Kabupaten Asahan beberapa tahun yang lalu ada beberapa orang pengurus Gafatar yang aktif melakukan pengajian- pengajian.

Hal tersebut diungkapkan Susilawati (42) warga Kelurahan Kisaran Naga. Ia mengaku pernah akan direkrut oleh HS (29) adiknya sendiri yang merupakan pengurus ormas Gafatar di Asahan. Menurut pengakuan Susi, walau diajak oleh adik kandungnya, ia secara tegas menolak mengikuti ajakan adiknya tersebut karena telah terlebih dahulu mengamati tingkah dan pola gerakan ormas tersebut yang dinilainya tidak wajar.

“Adik saya itu, (HS) sebelum menikah dia sempat bekerja selama 3 tahun di Surabaya, dan memang sepulang dari sana sebelum dan sesudah menikah dengan istrinya yang juga anggota Gafatar mereka sempat tinggal di Kisaran, dan kerap mengajak kami untuk bergabung,” aku Susi.

Kakak tertua HS ini menceritakan kembali kalau adiknya setelah menikah sempat tinggal mengontrak dekat rumahnya di Kelurahan Kisaran Naga Kecamatan Kisaran Timur selama dua tahun, namun pada bulan November 2015 lalu memboyong istri dan anaknya untuk bekerja dan pindah ke Kalimantan.

“Memang kami keluarga sempat diperkenalkan soal Gafatar itu tapi tidak ada yang berminat untuk masuk karena sebelumnya keluarga menilai perilakunya belakangan ini khususnya dalam beribadah sudah berbeda, ,“jelas Susi lagi.

Demikian, Susilawadi menambahkan masih tetap bisa berkomunikasi dengan adiknya tersebut meski mereka telah berulang kali mengingatkan perihal ormas Gafatar yang diikutinya mengingat belakangan ini ramai diperbincangkan di media.

“Dia bilang tak perlu Sholat dan puasa kalau hati tidak bersih makannya kami sekeluarga tidak begitu simpati kepadanya ketika diajak bergabung dengan perkumpulannya,” kata Susi kembali, sembari menambahkan kalau adiknya tersebut aktif mengikuti perkumpulan pengajian di Indrapura Kabupaten Batubara.(teci)

Loading...