Puasa Melatih Ketaatan Oleh : Junaidi SAg

Medan-Sumut24

Rasululullah SAW bersabda dalam hadits yang berasal dari Abu Hurairah yang artinya: “Sesungguhnya puasa itu bukan menahan dari makan dan minum saja, hanyalah puasa yang sebenarnya adalah menahan dari laghwu (ucapan sia- sia) dan rafats (ucapan kotor), maka bila seseorang mencacimu atau berbuat tindakan kebodohan kepadamu katakanlah: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa’. (hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim.

Dalam hadits di atas, Rasulullah SAW menjelaskan kepada kita bahwa ketika puasa hendaklah mampu menahan mulut dari ucapan kotor dan sia-sia. Dan seandainya ada seseorang yang mencaci dan mengajak berkelahi maka kita dianjurkan agar tidak meladeni (menanggapi) ajakan atau tantangan itu. Akan tetapi hendaklah kita jawab saja dengan ‘aku sedang berpuasa’.

Anjuran Rasulullah SAW dalam hadits di atas bukan berarti mengajarkan kita untuk menjadi orang yang pengecut, tetapi dalam rangka menjadikan kita pribadi sabar yang mampu mengontrol mulutnya dari ucapan-ucapan yang tidak berguna. Mudah-mudahan Ramadhan 1437 Hijriyah ini mampu mendidik kita menjadi orang-orang yang sabar dalam kehidupan sehari-hari.

Puasa Ramadhan yang kita kerjakan juga merupakan bagian dari aplikasi ketaatan kita kepada Allah SWT. Coba mari kita perhatikan firman Alla SWT dalam surat Ali Imran ayat 16 dan ayat 17 yang artinya: “Ada orang-orang yang mengatakan, Ya Tuhan kami, Sesungguhnya kami Telah beriman, Maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka, Jadilah orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya), dan yang memohon ampun di waktu sahur”.

Ayat di atas menjelaskan bahwa diantara cara untuk membuktikan keimanan kepada Allah dan dalam rangka untuk mendapatkan ampunan serta terbebas dari siksa api neraka, maka hendaklah menjadi orang yang selalu taat Puasa yang saat ini dilakukan oleh umat Islam merupakan cara untuk melatih ketaatan. Misalnya: Orang yang berpuasa, tidak akan mau makan dan minum, walaupun makanan itu halal dan tidak ada orang yang menyaksikannya.

Orang yang berpuasa akan menahan dirinya untuk tidak melakukan huhungan seks dengan istrinya di siang hari, walaupun istrinya itu sudah halal baginya. Kalau saja makanan yang halalpun dia tidak mau memakannya karena taat pada aturan Allah, apalagi makanan yang haram (hasil korupsi dan kecurangan lain).

Kalau saja istrinya yang halalpun tidak disentuhnya, apalagi perempuan yang tidak halal. Mudah-mudahan puasa yang kita lakukan mampu mendidik kita menjadi orang yang taat pada aturan-aturan, baik aturan Allah maupun aturan yang dibuat dalam rangka kemaslahatan.

Puasa yang kita kerjakan selama sebulan ini hendaklah mampu mengantarkan kita menjadi pribadi yang semakin sabar dan semakin taat kepada Allah SWT. Ketika setelah selesai Ramadhan ini kesabaran dan ketaatan kita meningkat, itu merupakan sebuah indikator bahwa puasa Ramadhan yang kita kerjakan sukses dan bernilai di sisi Allah SWT. Namun ketika tidak ada peningkatan atau bahkan semakin menurun, ini menunjukan bahwa ibadah puasa Ramadhan yang kita kerjakan hanya sebatas ritual yang tidak memiliki nilai yang signifikan, terutama di hadapan Allah SWT. Wallahu A’lam.
(W04)