Pemerintah Pusat Diminta Adil, Segera Mekarkan Provinsi Papua Utara
WAROPEN Pemekaran di Tanah Papua bukan sematamata sebagai kebijakan administratif. Tetapi harus dipahami dengan baik bahwa pemekaran meru
News
Oleh : Dr. Hj. Nur Aisyah, SE,MM
Baca Juga:
- Lima Hari Berjibaku Di Alam Bulusaraung, TNI AD Temukan Black Box ATR 42-500
- Hingga Hari H Libur Panjang Isra Mikraj 2026, Lalu Lintas di Empat Ruas Tol Regional Nusantara Alami Peningkatan*
- Siapa Bermain? Dugaan Jual Beli Lahan Konsesi PT Agincourt Resources Menguat, LIPPSU: Negara Diminta Tanggung Jawab Usut Aktor dan Pemberi Izin
Setiap 17 Agustus, bangsa Indonesia merayakan kemerdekaan dengan penuh semangat. Bendera dikibarkan, lomba digelar, dan doa dipanjatkan sebagai wujud rasa syukur atas perjuangan para pahlawan. Namun, yang lebih penting dari sekadar perayaan adalah bagaimana kita mengisi kemerdekaan itu setelah hari raya usai.
Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas dari penjajahan, tetapi juga tentang kebebasan untuk hidup layak, mendapatkan pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan rasa aman. Tugas kita hari ini adalah melanjutkan perjuangan para pahlawan dengan cara yang relevan di zaman modern: bekerja dengan integritas, berkarya dengan kualitas, serta peduli pada sesama.
Pasca 17 Agustus, kita diingatkan bahwa nasionalisme tidak berhenti pada upacara bendera. Nasionalisme hadir dalam hal-hal sederhana: disiplin bekerja, menghargai perbedaan, menjaga persatuan, hingga membantu mereka yang masih tertinggal.
Jika dulu para pahlawan berjuang dengan bambu runcing, kini perjuangan kita adalah melawan kemiskinan, kebodohan, korupsi, dan ketidakadilan. Semangat gotong royong yang diwariskan pendiri bangsa harus tetap menjadi pegangan agar Indonesia benar-benar merdeka dalam arti yang sesungguhnya.
Kemerdekaan sejati adalah ketika setiap warga negara merasakan keadilan sosial, sesuai amanat Pancasila. Maka, mari jadikan semangat 17 Agustus bukan hanya euforia sesaat, tetapi energi untuk terus bergerak maju demi Indonesia yang lebih sejahtera dan berkeadilan.
Pasca 17 Agustus: Menghidupkan Semangat Kemerdekaan dalam Kehidupan Sehari-hari
Makna Agustusan bagi Perempuan Indonesia
Setiap bulan Agustus, seluruh rakyat Indonesia bersuka cita merayakan Hari Kemerdekaan. Bendera merah putih berkibar di setiap sudut, perlombaan rakyat digelar dengan meriah, dan semangat nasionalisme terasa begitu kuat. Namun di balik euforia itu, ada satu pertanyaan penting: apa makna Agustusan bagi perempuan Indonesia?
Sejarah bangsa ini mencatat bahwa perempuan tidak hanya menjadi penonton dalam perjuangan kemerdekaan. Dari Cut Nyak Dhien, Kartini, Martha Christina Tiahahu, hingga Dewi Sartika—mereka semua menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam memperjuangkan bangsa. Karena itu, setiap kali memperingati 17 Agustus, perempuan Indonesia seharusnya melihatnya sebagai momentum untuk meneruskan perjuangan para pahlawan perempuan dengan cara yang relevan pada zamannya.
Bagi perempuan masa kini, kemerdekaan berarti kesempatan untuk berkarya, berpendidikan, dan berperan aktif dalam segala bidang kehidupan. Kemerdekaan memberikan ruang bagi perempuan untuk tidak lagi terkungkung oleh stereotip lama yang membatasi. Kini, perempuan bisa menjadi pemimpin, pengusaha, akademisi, aktivis, sekaligus tetap menjalankan peran dalam keluarga.
Makna Agustusan bagi perempuan Indonesia juga terletak pada kesadaran bahwa perjuangan belum selesai. Jika dulu perjuangan melawan penjajahan, kini perjuangan perempuan adalah melawan diskriminasi, ketidaksetaraan, dan kekerasan berbasis gender. Masih banyak perempuan yang kesulitan mengakses pendidikan, pekerjaan layak, atau bahkan perlindungan hukum. Momentum 17 Agustus harus menjadi pengingat bahwa kemerdekaan sejati baru akan tercapai jika semua warga negara, termasuk perempuan, merasakan keadilan sosial yang dijanjikan dalam Pancasila.
Selain itu, Agustusan juga menjadi ruang kebersamaan. Lomba-lomba sederhana seperti balap karung, tarik tambang, atau memasak nasi tumpeng sering menjadi ajang perempuan menunjukkan kreativitas dan solidaritas. Dari sana terlihat bahwa semangat kebersamaan, gotong royong, dan keceriaan adalah bagian dari kekuatan perempuan dalam membangun bangsa.
Di era digital saat ini, perempuan juga memiliki peran besar dalam menjaga persatuan bangsa. Perempuan sebagai pendidik generasi di rumah tangga dapat menanamkan nilai nasionalisme sejak dini. Perempuan sebagai pengguna media sosial juga bisa menjadi agen perdamaian dengan menyebarkan konten positif dan menolak hoaks serta ujaran kebencian.
Agustusan bagi perempuan Indonesia adalah refleksi bahwa perjuangan tidak selalu dengan angkat senjata, melainkan dengan mengisi kemerdekaan melalui karya, pendidikan, kepedulian sosial, dan keteguhan menjaga persatuan.
Oleh karena itu, setiap 17 Agustus harus menjadi momentum bagi perempuan Indonesia untuk semakin percaya diri melangkah, memperjuangkan hak, dan berkontribusi nyata. Karena bangsa yang besar bukan hanya lahir dari perjuangan para lelaki, tetapi juga dari keberanian dan keteguhan perempuan yang ikut menopang perjuangan.
Merdeka bagi perempuan Indonesia berarti bebas berkarya, bebas bersuara, dan bebas menentukan masa depan. Dan itulah makna Agustusan yang harus kita rayakan bersama.
Agustusan dengan Karya Perempuan
Setiap Agustusan, kita merayakan kemerdekaan dengan semarak. Ada upacara, perlombaan, hingga berbagai kegiatan kebersamaan di tengah masyarakat. Namun, di balik semua itu, peringatan 17 Agustus sesungguhnya adalah momentum refleksi: bagaimana kita mengisi kemerdekaan dengan karya. Bagi perempuan Indonesia, pertanyaan ini menjadi semakin relevan—bagaimana perayaan kemerdekaan dapat diterjemahkan dalam kontribusi nyata melalui karya-karya mereka.
Sejarah telah mencatat betapa besar peran perempuan dalam perjuangan bangsa. Cut Nyak Dhien, Kartini, Martha Christina Tiahahu, hingga Rasuna Said adalah simbol bahwa perempuan tidak hanya mendukung dari belakang, tetapi juga berdiri di garis depan perjuangan. Kini, setelah kemerdekaan diraih, estafet perjuangan itu dilanjutkan bukan lagi dengan bambu runcing, melainkan dengan karya nyata di berbagai bidang kehidupan.
Perempuan Indonesia hari ini telah hadir dalam beragam peran. Mereka menjadi guru yang mencerdaskan generasi, tenaga kesehatan yang merawat masyarakat, pengusaha yang membuka lapangan kerja, akademisi yang menghasilkan penelitian, hingga pemimpin yang membuat kebijakan publik. Semua karya ini adalah bentuk pengabdian sekaligus kontribusi untuk mengisi kemerdekaan.
Penutup :
Agustusan dengan karya perempuan juga terlihat dalam lingkup keluarga dan komunitas. Perempuan sebagai ibu, kakak, atau pemimpin komunitas memainkan peran penting dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan, gotong royong, dan toleransi. Dari tangan perempuan, lahirlah generasi yang berkarakter, cinta tanah air, dan siap melanjutkan cita-cita bangsa.
Di era digital, karya perempuan semakin luas jangkauannya. Banyak perempuan yang menjadi kreator konten edukatif, pebisnis daring, maupun aktivis sosial yang memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan inspirasi dan gerakan positif. Kreativitas ini adalah bentuk baru dari pengisian kemerdekaan—membawa suara perempuan ke ruang publik yang lebih luas.
Namun, perlu diingat bahwa jalan perempuan masih penuh tantangan. Masih ada kesenjangan akses pendidikan, diskriminasi, serta hambatan kultural yang membatasi ruang gerak mereka. Karena itu, setiap Agustusan juga menjadi pengingat bahwa perjuangan belum selesai. Kemerdekaan sejati akan tercapai bila perempuan Indonesia benar-benar merasakan kesetaraan dan kebebasan untuk berkarya sesuai potensinya.
Agustusan dengan karya perempuan berarti menjadikan perayaan kemerdekaan bukan sekadar euforia lomba atau pesta rakyat, melainkan momentum untuk menghargai, mendukung, dan memberi ruang lebih besar bagi karya perempuan. Karena karya-karya merekalah yang akan menguatkan fondasi bangsa, memperkaya budaya, dan memperluas peluang masa depan Indonesia.
Merdeka bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga tentang menciptakan masa depan. Dan masa depan Indonesia akan semakin cerah bila perempuan diberi ruang untuk terus berkarya tanpa batas.
Dr. Hj. Nur Aisyah, SE,MM
Kepala Pusat Kajian Magister Manajemen Pascasarjana Universitas Medan Area
Pemerhati Pendidikan dan pegiat literasi
WAROPEN Pemekaran di Tanah Papua bukan sematamata sebagai kebijakan administratif. Tetapi harus dipahami dengan baik bahwa pemekaran meru
News
sumut24.co MedanKomisaris dan Direksi PT Bank Sumut (Perseroda) kompak bicara tentang transformasi perusahaan yang diharapkan dapat menduk
Ekbis
sumut24.co TANJUNGBALAI, Wali Kota Tanjungbalai, Mahyaruddin Salim memimpin Rapat Koordinasi Pemerintahan (Rakorpem) di Aula Kantor Camat T
News
sumut24.co TANJUNGBALAI, Wali Kota Tanjungbalai, Mahyaruddin Salim membahas program perumahan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) b
News
Brimob Polda Sumut Pastikan Keamanan Pembangunan Hunian bagi Korban Banjir dan Longsor Sipirok
kota
Momentum HPN ke80 Tahun 2026, AKBP Wira Prayatna bersama Jurnalis Kompak Jaga Kamtibmas di Mako Polres Padangsidimpuan
kota
Bupati Putra Mahkota Alam Pimpin Rapat Penting, Palas Ramadhan Fair 2026 Siap Digelar
kota
HPN ke80, Pemkab Palas Gelar Ramah Tamah Bersama Insan Pers Bupati PMA Tekankan Peran Pers Sehat untuk Bangsa Kuat
kota
Bupati Saipullah Resmikan Lopo Tepsun, Ekonomi Desa Padang Laru Diproyeksi Meningkat
kota
Pemkab Padang Lawas Utara Tes Urine Pejabat, Bupati Tegaskan Perang Total Lawan Narkoba
kota