Polda Sumut Tangkap Robby Meyer DPO 4 Tahun Kasus Dugaan Pemalsuan Surat Tanah

54
MEDAN | SUMUT24.co
Terkait kasus dugaan penguasaan lahan di kawasan Polonia, Robby Meyer tersangka yang sudah 4 (empat) tahun DPO diamankan Tim Subdit II Harda Bangtah Ditkrimum Polda Sumut.
Dalam paparannya, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sumatera Utara Kombes Pol Andi Rian SIK didampingi Kasubdit ll/Harda Bangtah AKBP Edison Sitepu dan Kasubdit lll/Jahtanras Poldasu AKBP Maringan Simanjuntak  menceritakan, kalau yang bersangkutan sudah lama terbit daftar DPO nya, tepatnya pada Januari 2015 kemudian tersangka ditangkap pada, Selasa (10/9/2019).
“Jadi, kurang lebih 4 (empat) tahun 3 (tiga) bulan dia (Robby Meyer-red)
¬†jadi DPO,” ujar Kombes Pol Andi dalam paparannya kepada wartawan, Rabu (11/9/2019).
Diceritakan Kombes Pol Andi, proses penangkapan berawal dari informasi dan pada, Selasa (10/9/2019) sekitar pukul 23.00 WIB, dan teman-teman langsung merespon ke rumah, Robby Meyer yang berada di Jalan Karya I, No 12, Komplek Pemda, Kelurahan Karang Berombak, Kecamatan Medan Barat.
“Kita sempat menunggu 7 jam dari jam 11 malam sampai jam 6 pagi. Kita gedor pintu rumahnya tidak dibuka akhirnya kita menunggu,” terangnya.
Dikatakan pria yang mengenakan kemeja putih ini menyatakan kasus yang melibatkan, Robby Meyer ini awalnya dilaporkan di Polrestabes Medan (dulu Polresta Medan) pada tahun 2010.
“Ia terkait dengan dugaan pemalsuan surat, menggunakan surat palsu dan memanfaatkan keterangan palsu dalam fakta autentik,” ungkapnya sembari membeberkan, alas hak seolah-olah bahasa Belanda yang menyatakan Uittreksel De Afdelingshef Van Del 1949.
“Tapi kita sudah tanyakan kepada ahli seperti BPN maupun ahli lainnya bahwa itu bukan merupakan alas hak,” terangnya Kombes Pol Andi Rian dengan menyatakan untuk satu objek lahan didaerah Polonia yang luasnya sekarang kurang lebih 5 hektar kalau dihitung sekarang nilai asetnya mencapai Rp 100 miliar. “Itu kalau dua juta kita hitung permeter berarti kurang lebih Rp 100 miliar nilai asetnya sekarang,” akunya.
Lanjutnya, ada tahun 2011, aku Rian, LP ini sempat dihentikan kemudian oleh korban (pelapor) yang diketahui bernama Arsyad Lis dari PT Anugrah Dirgantara Perkasa kemudian dilakukan gugatan praperadilan dan kemudian gugatan ini dikabulkan oleh pengadilan dan memerintahkan penyidik untuk membuka kembali kasus ini.
“Termasuk juga sudah melakukan gelar perkara di Mabes Polri di Wasidik Kabareskrim dan juga menyampaikan hal yang sama yaitu membuka dan menindaklanjuti perkara tersebut,” terangnya.
Kemudian saat itu, sambungnya, penyidik Poltabes pada saat itu menerbitkan SPDP (Surat Perintah Dasar Penyidikan) kembali pada tahun 2014.
Menindaklanjuti SPDP baru itu, akunya, tersangka dipanggil beberapa kali tidak hadir sehingga masuk DPO pada 27 Januari 2015. “Berarti kalau dihitung sampai ditangkap sekarang kurang lebih tiga bulan 4 tahun,” katanya.
Masih dikatakan Andi Rian, awalnya Arsyad ini mendapat izin lokasi dan pembangunan ada 47 hektar secara keseluruhan. Namun, pada tahun 2005 sebanyak 42 hektar sudah dialihkan ke SHM.
“Nah yang 5 hektar lagi, masuklah sipelaku Robby ini. Sementara hak izin lokasi dan pemanfaatan lahan itu milik satu perusahaan. Dan sekarang tanahnya tidak bisa diapa-apakan,” akunya.
Kombes Pol Andi Rian menegaskan, semua proses pemeriksaan kepada yang bersangkutan akan dilakukan. “Semua orang yang masuk dalam dokumen akan kita periksa,” katanya.
Ia menyatakan tujuh berkas asli yang ditanda tangani lurah Polonia, salinan akte ditandatangani notaris atas nama Ratnawati Siregar. Kemudian surat keterangan yang dikeluarkan oleh lurah Polonia.
“Ada yang sempat dijual, dan dijual kepada Mario Meyer yang merupakan keluarga si Robby dan akan kita ungkap,” akunya.
Mengenai lahan yang sudah dijual, pihaknya akan faktakan dulu karena lahan ini milik ahli waris Alm Tju Tam Soon.(W05)
Loading...