Pilkada Sergai 2020, Tarung Kekuatan Potensi Popularitas dan Elektabilitas Soekirman vs Darma Wijaya

474

 

MEDAN I SUMUT24.co
Dapat dipastikan Pilkada Sergai 9 Desember 2020 bakal seru, karena yang bertarung sepertinya adalah Bupati Soekirman-Darma Wijaya dengan pasangan masing masing yang merupakan putra-putra mantan KDh dan Kdh yang masih aktif. Sehingga pada Pilkada Sergai 2020 adalah Tarung Kekuatan Potensi Popularitas dan Elektabilitas Soekirman vs Darma Wijaya, Tegas Pemerhati Sosial Politik Sumatera Utara Shohibul Anshor Siregar kepada Wartawan, Jumat (3/7). Menurutnya, Peluang kedua pasangan Soekirman- Ryan Novandi dan Darma Wijaya-Adlin ini sebetulnya dapat dibaca melalui banyak hal, di antaranya faktor potensi resistensi sosial rakyat.

Resistensi itu sendiri akan muncul dari persepsi dan gambaran politik dinasti yang membuat rakyat tidak begitu bergembira menerimanya.

Dinasti politik hanyalah sebuah epiphenomenon, yakni fenomena yang dihasilkan oleh oligarki politik partai yang terbentuk selaras dengan sistem yang dibangun secara nasional pasca reformasi, ucapnya.

Lebihlanjut Dosen Fisipol UMSU itu, Umumnya resistensi itu menjadi alasan kuat bagi rendahnya partisipasi pemilih.

Rakyat seolah merasa tidak ada urusan dengan pilkada kecuali bagi mereka yang secara langsung terlibat dalam proses dan konstituen “berbayar” serta kerabat dan keluarga. Bagi mereka pilkada bukan urusan rakyat, karena lebih mengedepankan kentingan oligarki dan elit.

Saya khawatir tidak tentu ada resep untuk merangsang keterlibatan semua pihak untuk memperbaiki demokrasi politik yang tak memihak pada argumen maslahat rakyat.

Berpisah

Tarung kekuatan potensi popularitas dan elektabilitas Soekirman vs Darma Wijaya hanyalah salah satu.faktor dalam analisis untuk pilkada Sergai hari ini. Tentu karena percaya dengan kalkulasi sendiri maka Darma Wijaya berani berpisah dengan Soekirman meski sudah pernah secara bersama mendaftar ke partai-partai dan bermuhibah kian kemari.

Jika keduanya memiliki kadar chemistry kuat selama ini, keduanya tidak akan mau berpisah sebagaimana Soekirman setia mendampingi HT Erry Nuradi selama 2 periode pada masa lalu.

Jadi faktor pengaruh kekuatan politik dan budaya yang masuk melalui jalur calon wakil kepada Soekirman dan Darma Wijaya tidak akan mempan jika kedua orang ini akur selama ini dan jika Darma Wijaya merasa dirinya tak mampu menyaingi Soekirman di lapangan.

Dua figur dari kalangan elit yang masuk melalui jalur wakil di dalam peta perpolitikan Sergai ini masih jauh di bawah fenomena kontestasi Pilkada Padangsidempuan dahulu yang menghadapkan putera Bupati Paluta dengan putera Walikota Medan untuk perebutan jabatan Walikota.

Artinya para calon wakil ini hanyalah orang yang ingin menguji keberuntungan melalui jalur potensi kepetahanaan dua figur terkuat dengan sebuah perhitungan bahwa pada saatnya nanti juga akan tiba giliran beroleh kekuasaan penuh sebagai Bupati di Sergai.

Ditambahkan Direktur Nbasis tersebut, Hal lain yang mesti dihitung tentu soal sumberdaya yang menopang rivalitas. Dalam pilkada Indonesia tidak ada peluang mengandalkan idealisme dan gagasan besar kerakyatan, karena bahasa politik sudah dirubah menurut standar transaksi rupiah.

Saya tidak tahu apakah etis bertanya “berapa rupiah yang dibawa oleh kedua anak muda itu untuk diterima sebagai calon wakil” yang berarti tak ubahnya seperti uang sekolah untuk merancang masa depan masing-masing.(W03)

Loading...