Pemutaran Perdana Film “Mbok dan Bung”, Cerita di Balik Nama Gedung Sarinah

Jakarta I Sumut24.CO

Hari ini film pendek berjudul “Mbok dan Bung” resmi ditayangkan untuk pertama kalinya di Djakarta Theater XXI. Film ini merupakan bagian dari rangkaian Peresmian Transformasi Sarinah pasca-pemugaran. Sarinah bersama Rekata Studio merilis film pendek yang terinspirasi dari kisah Bung Karno dengan Sarinah.

Film “Mbok dan Bung” yang berdurasi 15 menit ini bercerita tentang sosok Sarinah, pengasuh Kusno (panggilan Bung Karno semasa kecil) yang mengajarkan cinta kasih pada sesama manusia dan peduli pada rakyat kecil. Nilai-nilai kehidupan yang diajarkan Sarinah memiliki pengaruh kuat pada Kusno. Membuatnya tumbuh menjadi seorang yang humanis dan menjadi dasar perjuangan Bung Karno dalam membangun Indonesia.

“Mbok Sarinah merupakan sosok yang menemani masa kecil Bapak Sukarno dan beliau telah memberikan banyak pelajaran untuk menghargai serta mencintai rakyat. Oleh karena itu, beliau memutuskan untuk mengabadikan sang pengasuh melalui nama gedung pencakar langit dan pusat perbelanjaan modern pertama di Indonesia,” ujar Rakesh Kumar Ashok Adwani, Direktur Perdagangan PT Sarinah.

Pemutaran perdana film pendek “Mbok dan Bung” dihadiri oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara Indonesia, Erick Thohir dan putra Presiden Sukarno, Guruh Sukarnoputra. Selain itu, Marissa Anita, aktris Pemenang Piala Citra FFI 2021, yang memerankan peran utama Mbok Sarinah, dan aktor cilik Kenichi Virendra pemeran Kusno juga turut hadir dalam acara ini.

“Satu hal penting yang Bapak ceritakan, Mbok Sarinah itulah yang mengajarkan Bapak untuk mencintai semua ciptaan Tuhan, mencintai sesama manusia, menghargai dan rendah hati. Di dalam kehidupan saya pun juga memiliki pengasuh seperti Mbok Sarinah, yang saya bayangkan persis seperti Mbok Sarinah, namanya Nek Joyo. Ketika Bapak bercerita tentang Mbok Sarinah, saya juga merasakan hal yang sama dari Nek Joyo. Nek Joyo juga memberi nasihat kepada saya untuk terus sabar dan harus menghargai semua orang,” tutur Guruh Sukarnoputra.

Wregas Bhanuteja, produser film “Mbok dan Bung” mengajak sutradara muda Ninndi Raras dalam memproduksi film yang memiliki cerita, karakter dan pesan yang kuat. Film ini mengambil situasi Mojokerto tahun 1907 sebagai latar belakang cerita. Mereka melakukan riset situasi Mojokerto di waktu itu dan perkembangan masyarakat di sana. Menurut Ninndi, seorang perempuan yang bernama Sarinah ini, memiliki karakter dan cara bagaimana ia bersikap, cukup  luar biasa pada zaman itu.

“Mbok Sarinah adalah sosok yang banyak menyampaikan pelajaran pada Kusno tentang bagaimana kita hidup menjadi manusia yang harus selalu mengasihi sesama manusia lain dan membantu manusia yang kesusahan dan berkekurangan. Pelajaran tentang kasih sayang tersebut tidak selalu harus dari keluarga maupun orang yang memiliki hubungan darah, melainkan bisa datang dari siapapun. Seperti Sarinah yang mengasuh Kusno, kami pun memiliki harapan agar semangat untuk manusia menebarkan cinta kasih pun semakin berlipat ganda, sehingga kita bisa hidup bersama-sama di muka bumi ini dengan penuh kedamaian. Itulah mengapa kami memutuskan untuk membuat film ini. Dengan menjadi sosok yang mau mengingatkan, mau berbagi, maupun mau menolong, kita pun turut memberi sumbangan pada kedamaian manusia.” ujar Wregas Bhanuteja.

Film pendek “Mbok dan Bung” dapat disaksikan di akun resmi  YouTube Sarinah.(red-1)