Wisuda USU 2026, Prof Muryanto Amin Dorong Alumni Berkontribusi untuk Masyarakat
MEDAN Rektor Universitas Sumatera Utara, Prof. Dr. Muryanto Amin, S.Sos., M.Si., mengukuhkan sebanyak 1.586 wisudawan pada Wisuda Period
News
Baca Juga:
Oleh: M. Zubir, S.H., M.H.
Advokat Pembela Pers
Setiap peringatan Hari Pers Dunia, publik biasanya disuguhi pidato besar tentang pentingnya kebebasan pers, independensi media, dan demokrasi. Kata-kata itu terdengar indah. Heroik. Seolah pers masih berdiri kokoh sebagai pilar keempat demokrasi.
Namun di daerah, kenyataannya jauh lebih pahit.
Pers lokal hari ini tidak sedang membicarakan kejayaan. Tidak pula sibuk merancang ekspansi bisnis atau inovasi digital besar-besaran. Yang terjadi justru sebaliknya: bertahan hidup.
Ya, bertahan hidup.
Di banyak kabupaten dan kota, media daerah kini seperti pasien yang dipaksa tetap bernapas dengan tabung oksigen seadanya. Pendapatan iklan swasta hampir lumpuh. Media cetak semakin ditinggalkan. Platform digital global menguasai pasar iklan. Sementara masyarakat ingin semua informasi gratis tanpa pernah berpikir bagaimana perusahaan pers membiayai wartawannya.
Akibatnya, banyak media daerah hari ini hidup dalam kondisi memprihatinkan. Kantor sederhana. Wartawan dengan honor minim. Operasional serba pas-pasan. Bahkan tidak sedikit pemilik media harus nombok uang pribadi hanya demi memastikan medianya tetap hidup.
Mari bicara jujur, tanpa kepura-puraan.
Di tengah runtuhnya model bisnis media, sebagian besar pers daerah bertahan hidup hanya dari satu sumber: kerja sama publikasi pemerintah melalui APBD.
Mungkin kalimat ini terasa kasar. Tetapi inilah realitas yang tidak bisa disangkal.
Belanja advertorial, publikasi pembangunan, sosialisasi kebijakan, penyebarluasan informasi pemerintah, hingga diseminasi program daerah telah menjadi denyut nadi terakhir media lokal.
Tanpa itu?
Banyak media mungkin sudah lama mati.
Banyak wartawan sudah kehilangan pekerjaan.
Dan banyak daerah kehilangan ruang informasi yang dekat dengan denyut rakyatnya.
Karena itu, ketika muncul perkara hukum yang menyeret Kadri Amin di Pulau Simeulue dalam kasus dugaan korupsi kerja sama publikasi media pemerintah, kegelisahan mulai merambat di kalangan insan pers.
Tentu, harus ditegaskan sejak awal: penegakan hukum wajib dihormati. Bila terdapat dugaan pelanggaran hukum, penyimpangan tata kelola, atau penyalahgunaan anggaran negara, proses hukum harus berjalan secara adil, terbuka, dan objektif.
Tetapi di balik ruang sidang, muncul pertanyaan yang jauh lebih besar dan menakutkan:
Apakah kerja sama publikasi media kini sedang bergerak menuju wilayah yang membuat pers daerah ketakutan?
Pertanyaan ini tidak lahir dari sikap anti-hukum.
Sebaliknya, pertanyaan ini lahir dari rasa cemas terhadap masa depan industri pers daerah yang sejak lama sudah megap-megap mempertahankan hidup.
Kasus Kadri Amin, bagi banyak pengelola media, tidak lagi sekadar dipandang sebagai perkara individual. Ia mulai dibaca sebagai sinyal.
Sebagai alarm.
Bahkan bagi sebagian pelaku industri pers, alarm itu terdengar sangat keras.
Karena jika pola kerja sama publikasi yang selama ini menjadi "oksigen terakhir" media daerah mulai dianggap sebagai wilayah berisiko tinggi, maka efeknya bisa jauh lebih mengerikan daripada sekadar satu perkara pidana.
Bayangkan apa yang mungkin terjadi.
Pejabat pemerintah daerah menjadi takut bekerja sama dengan media.
Dinas memilih menghindari publikasi karena khawatir terseret persoalan hukum.
Anggaran media dipangkas.
Kontrak kerja sama dihentikan.
Lalu media kehilangan sumber pembiayaan terakhirnya.
Apa akibatnya?
Tidak sulit ditebak.
Satu demi satu media lokal mati perlahan.
Kantor redaksi tutup.
Wartawan kehilangan pekerjaan.
Kontrol sosial melemah.
Suara rakyat kecil perlahan menghilang.
Dan yang paling menyeramkan: daerah kehilangan pengawas.
Siapa nanti yang mengawasi proyek mangkrak?
Siapa yang menyorot jalan rusak, pelayanan publik buruk, sekolah ambruk, penyalahgunaan anggaran, atau praktik kekuasaan yang merugikan masyarakat?
Media nasional tidak akan hadir setiap hari di desa, kecamatan, pulau terpencil, atau pelosok Aceh.
Yang selama ini ada adalah pers daerah.
Pers lokal.
Mereka mungkin kecil, kadang berisik, sering dikritik, tetapi merekalah yang setiap hari menjaga denyut informasi di daerah.
Karena itu, ancaman terhadap pers hari ini tidak lagi hanya soal intimidasi wartawan atau kekerasan fisik.
Ancaman paling mengerikan justru datang dalam bentuk yang lebih sunyi: kematian ekosistem ekonomi media.
Media yang lapar tidak akan sehat.
Media yang terus hidup dalam ketakutan tidak akan kuat.
Media yang kehilangan ruang hidup akan perlahan kehilangan independensinya—atau mati sebelum sempat melawan.
Namun ada satu kenyataan pahit lain yang juga layak dibicarakan secara jujur di Hari Pers Dunia.
Kadang ancaman terhadap pers tidak hanya datang dari luar.
Ia juga datang dari dalam rumah pers itu sendiri.
Di tengah industri yang sedang sakit, solidaritas antarinsan pers justru terlihat semakin rapuh.
Fenomena iri hati, kompetisi tidak sehat, saling menjatuhkan, bahkan diam-diam menikmati kesulitan sesama mulai menjadi bisik-bisik yang tidak asing lagi.
Ada ungkapan yang kini terdengar sinis di sebagian kalangan:
"Senang melihat teman susah, susah melihat teman senang."
Kalimat itu memang pahit, tetapi terasa nyata.
Ketika satu media mendapat kerja sama, muncul rasa iri.
Ketika satu wartawan terkena masalah, ada yang diam menyaksikan.
Ketika satu pengelola media tersandung perkara, alih-alih solidaritas, justru muncul bisik-bisik sinis.
Jika ini benar terjadi, maka pers daerah sesungguhnya sedang menghadapi dua ancaman sekaligus:
tekanan dari luar dan keretakan dari dalam.
Padahal sejarah mengajarkan satu hal penting: pers tidak pernah kuat ketika pelakunya saling melemahkan.
Industri media daerah saat ini sudah terlalu rapuh untuk dipenuhi dengki.
Sudah terlalu sakit untuk saling menjatuhkan.
Karena ketika satu media tumbang hari ini, belum tentu media lain akan selamat besok.
Kasus Kadri Amin—apa pun putusan akhirnya—setidaknya telah membuka satu ruang refleksi besar di Hari Pers Dunia.
Bahwa industri pers daerah sedang berada di persimpangan jalan yang menakutkan.
Di satu sisi, mereka dituntut profesional, independen, dan kuat secara ekonomi.
Di sisi lain, mereka hidup dalam situasi bisnis yang semakin sesak, bergantung pada pola kerja sama yang kini mulai menghadirkan rasa takut.
Lalu pertanyaannya sederhana:
Jika pers daerah benar-benar mati, siapa yang akan menjaga demokrasi lokal?
Sebab ketika media lokal runtuh, yang hilang bukan hanya perusahaan pers.
Yang hilang adalah suara masyarakat kecil.
Yang hilang adalah kontrol terhadap kekuasaan.
Yang hilang adalah keberanian menyampaikan fakta.
Dan ketika itu terjadi, demokrasi tidak langsung mati.
Ia hanya menjadi sunyi.
Sunyi karena tidak ada lagi yang berani bicara.
Sunyi karena tidak ada lagi yang mampu bertahan.
Dan mungkin, itu jauh lebih menyeramkan daripada apa pun yang kita bayangkan di Hari Pers Dunia ini. Rel
MEDAN Rektor Universitas Sumatera Utara, Prof. Dr. Muryanto Amin, S.Sos., M.Si., mengukuhkan sebanyak 1.586 wisudawan pada Wisuda Period
News
MEDAN Universitas Sumatera Utara resmi melantik Dekan dan Wakil Dekan Fakultas, serta Direktur dan Wakil Direktur Sekolah Pascasarjana d
News
MEDAN, Minggu 10 Mei 2026 Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, terus memastikan kesiapan fasilitas pendukung jelang pelaksanaan Pial
News
Garut Kementerian Ketenagakerjaan (Kementerian Ketenagakerjaan) menyiapkan pelatihan agroforestry terintegrasi bagi 500 warga Desa Karam
News
Hari Pers Dunia Kasus Kadri Amin dan Ancaman Ekosistem Pers Oleh M. Zubir, S.H., M.H.Advokat Pembela Pers Setiap peringatan Hari Pers Duni
News
MEDAN MPW Pemuda Pancasila Sumatera Utara akan melaksanakan kegiatan penyembelihan hewan qurban pada Hari Raya Idul Adha 1447 H/2026 M d
News
MEDAN PT Media Indonesia Raya Abadi (MIRA) hadir sebagai salah satu afiliasi Gerindra Sumut bersama mitra strategis lainnya dengan memba
News
Wali Kota Padangsidimpuan Tinjau Langsung Lokasi Banjir, Perbaikan Jembatan dan Masjid Dikebut
kota
Dibuka Sekda Madina, PMII Cup II 2026 Jadi Wadah Positif Anak Muda Tabagsel
kota
Andar Amin Harahap dan KPU RI Perkuat Demokrasi di Paluta Lewat Pendidikan Pemilih, Generasi Muda Diajak Lawan Politik Uang
kota