Selasa, 24 Februari 2026

Wartawan, Spiritualis, dan Pendaki: Satu Sosok Banyak Jejak

Administrator - Senin, 23 Februari 2026 23:30 WIB
Wartawan, Spiritualis, dan Pendaki: Satu Sosok Banyak Jejak
Ist
Wartawan, Spiritualis, dan Pendaki: Satu Sosok Banyak Jejak

Baca Juga:

Bagi Dar Edi Yoga, hidup bukan sekadar deretan jabatan dan aktivitas, melainkan perjalanan sunyi untuk memberi arti. "Menulis bagi saya bukan sekadar profesi, tapi cara berdialog dengan kehidupan," ucapnya pelan, Senin (23/2). Kalimat itu mencerminkan sosoknya yang tenang, reflektif, namun konsisten menapaki jalan pengabdian lebih dari 30 tahun.

Di dunia pers, ia dipercaya sebagai Wakil Ketua Dewan Pertimbangan SMSI Pusat, anggota Pokja Pendataan Dewan Pers, Wakil Sekjen Confederation of ASEAN Journalists (CAJ) dan pernah menjabat Wakil Bendahara Umum PWI Pusat. Ia juga memimpin Askara.co sebagai Pemimpin Redaksi, menjabat Ketua Umum Forum Pemred Media Siber Indonesia (2024–2029), serta Bendahara PWI Jaya (2023–2028). Pada Hari Pers Nasional 2022, ia menerima Pers Card Number One dari PWI Pusat, sebuah penghargaan yang ia maknai sebagai amanah, bukan sekadar kebanggaan.

Empat kali menghadiri World Press Freedom Day di Seoul, Korea Selatan, Dar Edi membawa semangat jurnalisme Indonesia ke forum global. Namun baginya, jurnalisme bukan soal panggung internasional. "Yang terpenting adalah tetap jujur pada hati, bahkan ketika tidak ada yang melihat," katanya.

Di luar redaksi, Dar Edi Yoga juga dikenal sebagai pembimbing spiritual. Ia adalah Master Sahaja Yoga dan praktisi hipnoterapi yang membantu banyak orang menemukan ketenangan batin. Pernah melatih tenaga dalam Rasa Jati pada 2004–2010, bahkan dipercaya melatih personel Detasemen Deteksi Paspampres dan Kolinlamil. Baginya, spiritualitas adalah tentang menghadirkan kesadaran dalam tindakan sehari-hari.

Kecintaannya pada alam tumbuh sejak muda. Ia mendirikan Elpala SMA 68 Jakarta dan aktif di komunitas Top Ranger and Mountain Pathfinder (TRAMP) sejak 1985. Ia juga menjadi manajer pendakian empat puncak tertinggi dunia yang dilakukan pendaki tunadaksa asal Solo, Sabar Gorky. "Gunung mengajarkan kita rendah hati. Di sana, kita belajar bahwa hidup adalah tentang ketekunan," ujarnya.

Di bidang sosial, ia ikut mendirikan Beranda Ruang Diskusi sebagai ruang perjumpaan lintas profesi dan gagasan. Ia juga terlibat dalam Vox Point Indonesia, FORMAS, PERWATUSI, serta kini mengemban amanah sebagai Sekretaris Yayasan Gardu 08 Indonesia. Pada 4 Desember 2025, ia menginisiasi pagelaran sendratari di Gunung Padang sebagai bentuk ikhtiar merawat budaya dan sejarah bangsa.

Sebagai seorang Katolik, ia aktif dalam pelayanan pastoral di Keuskupan untuk umat Katolik di Lingkungan TNI-Polri dan menjadi peserta SAGKI 2025. Di era 1990-an, ia turut membangun komunitas Karyawan Muda Katolik di Gereja Katedral Jakarta, dan Kelompok Meditasi Keluarga Kudus.

Di balik semua peran itu, Dar Edi Yoga tetap memandang hidup secara sederhana. "Hidup bukan tentang seberapa banyak yang kita capai, tapi seberapa dalam kita memberi," tuturnya. Bagi Dar Edi, pengabdian adalah perjalanan panjang yang dijalani dengan kesetiaan, bukan kegaduhan.rel

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Sumber
:
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Ketua Pewarta Polrestabes Medan Jenguk Istri Wartawan Sumut24 yang Dirawat di ICU
Silaturrahmi PWPM, Wakil Wali Kota Minta Wartawan Bersinergi Bangun Kota Medan
Rombongan Wartawan Orientasi Lapangan ke Jakarta di Lepas Oleh Bupati Solok
Kapolrestabes Medan Kombes Pol Jean Calvijn Ajak Wartawan Dukung Harkambtimas
Polsek Patumbak Lakukan Penyelidikan dan Penyidikan Laporan Penganiayaan Seorang Jurnalis
DPC AWI Kota Medan Kecam Dugaan Kekerasan Wartawan di Area PT UG, Busor: Usut Tuntas
komentar
beritaTerbaru