Atasi Persoalan Sampah Bandung, Kemnaker Gelar Green Jobs Class
Kota Bandung Kota Bandung menghasilkan sekitar 1.500 ton sampah pe r hari, dengan 44,51 persen di antaranya merupakan sampah organik sep
Info
Baca Juga:
Pernyataan itu disampaikan di hadapan ratusan pimpinan perguruan tinggi dalam Executive Workshop SEVIMA bertajuk "Lead The Future: Memimpin Orkestrasi Kampus Berdampak dengan Artificial Intelligence (AI) dan Kurikulum Outcome Based Education (OBE)." Bagi Prof. Rhenald Kasali, ini adalah wake-up call (panggilan) bagi kampus untuk segera berubah.
"Sekarang, dosen bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan. GenZ sudah punya orang cerdas kepercayaan di sini. Dia lebih percaya yang disini. AI bisa menjelaskan lintas disiplin. Jadi kalau kita tidak melakukan apapun, AI sudah siap menghancurkan monopoli pengetahuan dari dosen," ujar Rhenald dalam Executive Workshop SEVIMA, Rabu (18/2/2026) di Rumah Perubahan, Jakarta.
Untuk berubah, pendidikan yang dulunya adalah proses menyalurkan ilmu dari dosen kepada mahasiswa, harus diubah. Yaitu untuk mengonstruksi manusia, membentuk dan mengembangkan potensi individu sesuai dengan keunikan masing-masing.
Untuk mendiskusikan problematika ini, hadir Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah III Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi Dr. Henri Togar H. T., M.A., Guru Besar Universitas Indonesia dan penggagas Rumah Perubahan Prof. Rhenald Kasali, Ph.D., serta para pakar sebagai narasumber. Acara ini juga dibuka secara hybrid oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Gubernur DKI Jakarta, Menteri Agama, dan berbagai pejabat tinggi lainnya diikuti oleh ratusan rektor dari seluruh Indonesia.
Berikut tiga tips bagi perguruan tinggi untuk segera berubah di era perkembangan AI:
1. Petakan Dulu Masalah Dasar Pendidikan
CEO SEVIMA Sugianto Halim, M.M.T. mengatakan pendidikan tinggi di Indonesia membutuhkan transformasi mendesak. Sebagai catatan, data yang menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan yakni Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi Indonesia stagnan di angka 32,89 persen selama hampir delapan tahun. Artinya hanya 32 dari 100 anak usia kuliah yang mengenyam pendidikan tinggi.
Padahal target RPJPN menuju Indonesia Emas 2045 mematok 60 persen, sebuah lompatan yang menuntut pertumbuhan eksponensial. Kesenjangan antar wilayah memperparah situasi, dimana APK Yogyakarta di 74 persen dan Papua Pegunungan hanya 13 persen, sementara 9,9 juta anak muda berstatus NEET (tidak kuliah, tidak bekerja, tidak mengikuti pelatihan).
Namun, ada juga peluang. Berdasarkan survei yang dilakukan SEVIMA terhadap lebih dari 300+ pimpinan dan civitas perguruan tinggi di Indonesia, ditemukan fakta bahwa 68,1 persen institusi berencana memprioritas teknologi generative AI ke dalam sistem mereka dalam tiga tahun ke depan. Ini bukan angka kecil. Ini adalah sinyal kuat bahwa arah transformasi digital di dunia pendidikan tinggi sudah mulai bergeser dari digitalisasi administratif menuju pemanfaatan teknologi cerdas berbasis AI.
Kepala LLDIKTI Wilayah III Dr. Henri Togar H. T., M.A. menegaskan OBE sebagai instrumen strategis agar AI tidak sekadar menjadi gimmick. Menurutnya teknologi harus mendukung pencapaian kompetensi lulusan melalui tiga tahap, yakni perencanaan (memetakan capaian pembelajaran), pelaksanaan (pembelajaran interaktif-adaptif), dan evaluasi (penilaian objektif berbasis bukti).
Urgensinya, kebutuhan tenaga kerja sektor Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) diperkirakan 2 juta orang saat ini dan diproyeksikan melonjak hingga 9 juta pada 2030 dengan permintaan kuat di bidang AI.
Sementara dari 244 PTS di bawah binaannya, prodi yang secara eksplisit fokus pada kecerdasan buatan baru ada di 2 kampus dan belum menghasilkan lulusan. Tantangan implementasi pun tidak ringan, perkembangan AI yang bergerak dalam hitungan hari berbenturan dengan proses kurikulum yang memakan waktu panjang, kesiapan dosen yang harus melampaui teori ke penerapan nyata, serta ancaman terhadap integritas akademik di era mahasiswa yang terbiasa menggunakan AI untuk mengerjakan tugas.
"Teknologi seharusnya membantu manusia berkembang, bukan menggantikan peran manusia secara mentah," tegas Henri.
2. Adaptif dan Kejar Kemampuan AI Seperti Gen Z
Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hj. Himmatul Aliyah, M.Si. menyoroti bahwa kekhawatiran terhadap AI bukan hanya terjadi di Indonesia saja. Ia mengingatkan bahwa ketakutan serupa pernah muncul saat kalkulator hadir dan guru khawatir kehilangan kemampuan mengajar analitik.
Namun Himmatul menegaskan tantangan terbesar ada di sisi kompetensi pendidik, dosen dan guru dinilai secara platform dan kompetensi AI masih kurang, sementara mahasiswa Generasi Z yang sudah terbiasa dengan ChatGPT sejak bangku SD justru minim pemahaman etika. "Ini lembah yang sangat dalam, dan di situlah peran SEVIMA maupun swasta lainnya, termasuk pemerintah, harus hadir," tegasnya.
3. Integrasikan AI dalam pembelajaran
Sejalan dengan yang disampaikan Prof Rhenald Kasali agar AI diposisikan sebagai instrumen dan agen aktif dalam pembelajaran, bukan hanya sekadar alat bantu, SEVIMA meluncurkan Edlink Dosen Pro AI, sistem berbasis kecerdasan buatan hasil hilirisasi riset yang didanai Hibah Riset Prioritas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui skema Ajakan Industri.
Produk ini mampu mengkonversi presentasi PowerPoint atau bahan ajar menjadi video pembelajaran secara otomatis, menyusun draft RPS terstruktur sesuai framework OBE, serta menghasilkan bank soal yang terpetakan ke taksonomi Bloom dan selaras dengan CPL.
Fitur ini dirancang meringankan beban administratif dosen sekaligus mengakselerasi implementasi kurikulum OBE di level institusi. Pada kesempatan yang sama turut diluncurkan ekosistem AI SEVIMA yang mencakup AI Kurikulum OBE, AI Prediksi Kelulusan, AI Computer-Based Test, AI Content Generator, hingga Presensi berbasis AI DeepFace, rangkaian teknologi yang mendampingi perguruan tinggi dari desain kurikulum hingga evaluasi dan tata kelola.
"Kami ingin dosen tidak lagi terbebani pekerjaan administratif yang repetitif. Biarkan AI yang mengerjakan itu, sehingga dosen dapat lebih fokus pada inovasi dan pendampingan mahasiswa," tambah Halim.
Forum ini bukan yang pertama kali diselenggarakan. Sejak 2023, SEVIMA secara konsisten menggelar forum serupa di berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Bali, dan sejumlah kota lainnya, menjadikannya agenda rutin yang dinantikan pimpinan perguruan tinggi se-Indonesia. Setiap penyelenggaraan mengangkat tema yang relevan dengan tantangan terkini pendidikan tinggi, mulai dari digitalisasi kampus, Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), hingga implementasi OBE.r
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Kota Bandung Kota Bandung menghasilkan sekitar 1.500 ton sampah pe r hari, dengan 44,51 persen di antaranya merupakan sampah organik sep
Info
Jakarta Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia sekaligus Founder Rumah Perubahan Prof. Rhenald Kasali menyebut artifi
News
Medan, Maxim resmi membuka dua cabang terbarunya di Sumatera Utara, tepatnya diAir Putih dan Idanogawo. Langkah ini merupakan bagian dari ko
Ekbis
Jakarta, UNERD Footwear resmi memperkenalkan kolaborasi tiga arah bersama Garuda Indonesia dan Tahilalats dalam sebuah koleksi alas kaki
Ekbis
Andre Rosiade Resmikan Tower BTS di Nagari Garabak Data
kota
Rapat Kerja OPD, Penguatan Sinergi untuk Pelayanan Publik yang Lebih Baik
kota
Transformasi Birokrasi, Wakil Bupati Paluta Basri Harahap Tunjuk 12 Plt dengan Tanggung Jawab Besar
kota
Warga Binaan Bisa Terima Makanan Selama Ramadhan di Lapas Kelas IIB Padangsidimpuan, Ini Jadwal Resminya!
kota
Tanggul Jebol, Kodim 0212/Tapsel Turun Tangan Bersihkan Lumpur Akibat Banjir di Bandar Tarutung
kota
Di Bawah Terik Matahari, Satgas TMMD ke127 Kodim 0212/TS dan Ibu Desa Bersatu Jemur Harapan dari ButirButir Pinang
kota