Perkumpulan Raja Parhata SeDunia Resmi Dibentuk, Dorong Pelestarian Adat dan Regenerasi Budaya untuk Nusantara
Perkumpulan Raja Parhata SeDunia Resmi Dibentuk, Dorong Pelestarian Adat dan Regenerasi Budaya untuk Nusantara
kota
Baca Juga:
Padang Lawas— Pengelolaan lahan eks-perkebunan kelapa sawit seluas pm47.000 hektar yang telah disita negara di Padang Lawas kini menjadi sorotan utama. Lahan yang sebelumnya dikelola oleh Koperasi Perkebunan Kelapa Sawit (KPKS) Bukit Harapan I dan II, Kebun Patogu Janji, serta Koperasi Parsadaan Simangambat Ujung Batu bersama PT Torganda dan PT Torus Ganda, kini berada di bawah kendali BUMN PT Agrinas Palma Nusantara. Namun, proses transisi ini memicu keresahan dan pertanyaan besar di tengah masyarakat lokal.
Lahan-lahan ini disita berdasarkan Putusan Mahkamah Agung Nomor 2642 K/Pid/2006 dan diserahkan secara bertahap dari Satgas Penertiban Kawasan Hutan ke Jaksa Eksekutor, Kementerian Kehutanan, hingga akhirnya kepada Kementerian BUMN. Kini, PT Agrinas Palma Nusantara memegang mandat pengelolaan, namun dinamika di lapangan menunjukkan adanya sejumlah masalah serius.
Keresahan Masyarakat dan Proses Verifikasi yang Janggal
Sejak mandat pengelolaan beralih, masyarakat di Kecamatan Huristak, Barumun Tengah, Simangambat, dan Ujung Batu sangat antusias untuk terlibat kembali. Banyak warga telah menyerahkan fotokopi KTP dan KK sebagai tanda kesediaan untuk proses verifikasi. Sayangnya, proses ini dituding tidak transparan dan tanpa struktur resmi yang jelas.
"Banyak pihak yang mengatasnamakan 'pengurus' tanpa legitimasi hukum, ini sangat meresahkan," ujar salah satu tokoh masyarakat Kecamatan Huristak Madayan Hasibuan SH. Kecurigaan juga mencuat bahwa PT Agrinas Palma Nusantara menunjuk satu kelompok masyarakat secara eksklusif untuk melakukan verifikasi. Langkah ini dinilai tidak partisipatif dan berpotensi memicu kecemburuan sosial serta menghambat rekonsiliasi yang adil.
Para tokoh masyarakat dari empat kecamatan terdampak mendesak agar seluruh elemen masyarakat, termasuk pemerintahan desa, tokoh adat, dan koperasi lokal, dilibatkan dalam proses verifikasi yang transparan dan terbuka. Mereka menekankan bahwa BUMN seharusnya bertindak sebagai fasilitator dialog, bukan penentu mitra secara sepihak.
Tantangan Hukum: Status Lahan Masih Kawasan Hutan Negara
Di samping dinamika sosial, tantangan hukum menjadi krusial. Lahan eks-KPKS Bukit Harapan I dan II, Koperasi Parsub, dan Kebun Patogu Janji ini masih berstatus kawasan hutan negara. Menurut Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2025 tentang Penertiban Kawasan Hutan, lahan eks-perkebunan sawit yang tidak lagi berizin memang dapat dimanfaatkan untuk ketahanan pangan nasional, salah satunya melalui skema kemitraan plasma.
Namun, Madayan Hasibuan, praktisi hukum dan pemerhati agraria dari Padang Lawas Utara, menegaskan bahwa lahan berstatus kawasan hutan negara tidak dapat serta merta dijadikan objek perkebunan sawit plasma. "Sampai saat ini, berdasarkan Putusan Mahkamah Agung, lahan tersebut masih berstatus kawasan hutan negara. Jika prosedur hukum tidak ditempuh, implementasi plasma akan berisiko melanggar hukum kehutanan dan administrasi negara," tegas Madayan. Ia menekankan bahwa PT Agrinas Palma Nusantara harus menyelesaikan seluruh perizinan kehutanan dan legalisasi kawasan sesuai aturan yang berlaku sebelum memfasilitasi pembagian lahan plasma.
Data Lama Plasma Bermasalah dan Potensi Konflik Baru
Madayan juga menyoroti masalah dalam pendataan ulang masyarakat. Menurutnya, data lama plasma banyak mengandung manipulasi, seperti nama ganda, identitas fiktif, dan ketidaksesuaian subjek hukum. Selain itu, praktik jual beli hak atas kebun plasma secara informal yang telah terjadi selama ini juga menciptakan realitas sosial baru. Jika hal ini tidak ditangani dengan hati-hati, verifikasi ulang justru berpotensi memunculkan konflik horizontal di antara masyarakat.
Sebagai solusi strategis yang realistis, Madayan menyarankan agar masyarakat didorong untuk masuk ke dalam skema Perhutanan Sosial. "Skema ini memiliki dasar hukum yang kuat, bersifat partisipatif, dan memberikan kepastian bagi masyarakat," pungkasnya.
PT Agrinas Palma Nusantara kini dihadapkan pada dilema besar: di satu sisi harus memenuhi harapan masyarakat untuk bermitra, di sisi lain wajib memastikan setiap langkah sesuai dengan koridor hukum yang berlaku, terutama terkait status lahan sebagai kawasan hutan negara.rel
Perkumpulan Raja Parhata SeDunia Resmi Dibentuk, Dorong Pelestarian Adat dan Regenerasi Budaya untuk Nusantara
kota
Merasa Ditipu Janji Manis Asuransi, Mantan Pangdam Ngamuk Saldo Rp520 Juta Terjun Bebas Jadi Rp263 Juta
kota
Ibunda Almarhum Jaka Malau yang Tewas Dalam Pengeroyokan Bermohon Atensi Komisi 3 DPR RI Ungkap Keadilan
kota
Medan Wakil Wali Kota Medan Zakiyuddin Harahap menghadiri Rapat Paripurna DPRD Kota Medan terkait penyampaian pandangan umum fraksifrak
kota
sumut24.co ASAHAN , Kepolisian Resor (Polres) Asahan, Polda Sumatera Utara, menggelar siaran pers resmi pada Senin pagi pukul 10.00 WIB ter
News
MEDAN, SUMUT24.CO Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Medan, Lily MBA, menyampaikan pemandangan umum fraksi terhadap Ranperda Pertanggun
News
Likupang, Mutiara Maritim yang Tak Boleh Kehilangan Jiwa Oleh Abdullah RasyidStaf Khusus Menteri Imigrasi dan PemasyarakatanMahasiswa Dokto
News
MEDAN, SUMUT24.CO Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) DPRD Medan menyoroti pelaksanaan proyek Bus Rapid Transit (BRT) Mebidang yang saat
kota
sumut24.co MedanSemangat kebangkitan sepak bola Kota Medan menguat dalam acara pengukuhan Pengurus Mantan Pemain PSMS Medan di Stadion Keb
Sport
sumut24.co MedanTelkomsel meluncurkan Terpujilah GURU, sebuah program pelatihan dan pengembangan kompetensi bagi tenaga pendidik di Indone
Ekbis