Minggu, 22 Februari 2026

IOM Jangan Jadi Agen Asing Pengungsi di Kota Medan

Administrator - Rabu, 12 Oktober 2016 17:50 WIB
IOM Jangan Jadi Agen Asing Pengungsi di Kota Medan

Medan|SUMUT24 Kota Medan sebagai ibukota Propinsi Sumatera Utara, kini dalam status darurat atas keberadaan orang asing yang mencari suaka. Imbas dari adanya bantuan kehidupan dari International Organization for Migration (IOM) bertameng Konvensi Hak Azasi Manusia (HAM), Indonesia diharuskan menerima para pengungsi.

Baca Juga:

“IOM jangan menjadi agen pengungsi orang asing di Kota Medan. Keresahan masyarakat Kota Medan atas keberadaan pengungsi-pengungsi ini merupakan kegagalan IOM karena mereka (para pengungsi,red) sudah melanggar kultur dan budaya sosial dikota ini.

Hal itu ditegaskan Ketua Komisi A DPRD Medan Roby Barus, didampinggi Wakil Ketua Andi Lumbangaol, Umi Klasum dan Hj.Hamidah, Rabu (12/10) dalam rapat dengar pendapat bersama pihak Imigirasi, Aliansi Masyarakat Pribumi, Pemko Medan dan lembaga IOM.

Kehadiran para pengungsi dari berbagai negara di Kota Medan telah menimbulkan keresahan saat ini. Para pengungsi yang umumnya berasal dari Sri Lanka, Sudan, Afrika sudah membaur di tengah masyarakat.

Atas dasar ini, Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Kota Medan melalui Komisi A DPRD Kota Medan meminta sikap tegas dari lembaga tersebut. Dasarnya, DPRD Medan telah menerima pengaduan dari Aliansi Boemi Poetra yang disampaikan Rufino Barus.

Dosen Sosilogi dari Universitas Sumatera Utara, Ruffino saat itu menceritakan para pengungsi yang berasal dari Iran, Sudan, Afganistan, Srilanka, dan Myanmar telah cukup meresakan masyarakat Kota Medan saat ini.

Banyak pengungsi yang melanggar etika dan cukup merugikan masyarakat. Dicontohkannya, seorang pengungsi dari Srilanka bernama Rasyid menikahi seorang perempuan Medan dan memiliki seorang anak. Namun, setelah itu Rasyid pergi meninggalkan perempuan tersebut.

“Apakah mereka tidak diajarkan beretika di Kota Medan ini. Pihak imigrasi juga kenapa tak mencari lelaki itu.Mau menunggu berapa banyak lagi anak-anak perempuan kita yang diperlakulan seperti itu,” tegasnya.

Ruffino bahkan membuka kasus kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh tiga orang pengungsi terhadap anak tiga tahun. “Ini boru kita karena sama –sama orang Medan kita semuanya ,”katanya.

Sikap tak patuh akan peraturan dijelaskan Ruffino juga dari sisi berkendara. Pasalnya, para pengungsi yang keluar menggunakan sepeda motor tanpa menggunakan helm. Selain itu, para pengungsi juga hanya ingin berbelanja di Supermarket bukan di pasar tradisional.

Dari temuannya juga, banyak para pengungsi yang sudah mulai berpacaran dengan perempuan Kota Medan. Mereka juga sudah muali merayu-merayu gadis-gadis dengan mengaku sebagai turis.

“Ini kan kita sudah bebas sekali. Kota Medan begitu bebas. Makanya begitu ramai pengungsi yang diarahkan ke Kota Medan,”katanya.

Menurut Rufino kehadiran pengungsi menimbulkan kesenjangan sosial di masyarakat. Pengungsi mendapat fasilitas memadai dan subsidi keuangan dari Internasional Organization of Migration (IOM).

“Bayangkan saja, seorang nenek Basaria Nasution, berusia 90 tahun, harus bekerja mencari uang dengan mengendarai sepeda ontel miliknya dari pagi. Itupun hanya mendapat upah Rp15 ribu perhari. Sedangkan mereka (pengungsi, red) tinggal di tempat mewah dan diberikan uang kehidupan. Mereka memalsukan kartu pengungsi dan enak-enak nongkrong, membuka usaha hingga belanja diberbagai retail modern dan gnym,” ujarnya sambil menerangkan slide di forum.

Pemko Tolak Membantu

Pemerintah Kota Medan melalui Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Medan, Armansyah Lubis sendiri menyatakan, menolak memberikan bantuan kepada International Organization for Migration (IOM).

Kata Armansyah, warga Kota Medan menilai Pemko tidak adil dengan pemberian bantuan ke pengungsi. Pasalnya, warga Kota Medan masih membutuhkan bantuan dari pemerintah.

“Jujur saja. Karena IOM mendatangi saya dan tidak mendapatkan solusi. Mereka (IOM) menjumpai Waki Wali Kotal.Tapi saya sudah sampaikan tentang kondisi ini. Masyarakat marah kenapa pengungsi dibantu. Masyarakat tidak mau tahu akan hal ini kami akan jadi serangan nantinya ,”katanya.

Armansyah menjelaskan bentuk permintaan IOM yakni pengungsi meminta bantuan fasilitas tenaga kerja bahasa Inggris kepada anaknya. Lalu, meminta kerja sama mencari penampungan lagi. Akibat ini, warga yang berada di tujuh lokasi penampungan melakukan protes.

“Saya juga ingin menyampaikan kepada seluruh warga bahwa dana penampungan pengungsi bukan menggunakan dana APBD. Terkadang masyarakat berpikir kita menggunakan dana APBD Kota Medan karena mereka bisa hidup enak dikota ini ,”ujarnya.

Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Medan, Armansyah Lubis sudah berungkali meminta IOM, agar menyampaikan kepada publik bahwa pengungsi ini mendapat bantuan dari kehidupan berasal dari IOM.

Armansyah Lubis langsung menyebutkan beberapa lokasi pengungsi di kawasan Tomang Elok, Jalan Setia Budi dan lainya yang secara perlahan sudah membaur kepada masyarakat.

IOM yang diwakili Abdul Riza didesak pihak Komisi A DPRD Kota Medan untuk menyatakan kebenaranya tersebut yang awalnya merasa keberatan menyampaikan fakta yang dipapar tersebut .

“Itu hanya uang makan saja,” katanya singkat,tapi seusai rapat pertemuan saat ditanyakan wartawan hal ini tetap tidak ingin terbuka atas bantuan yang diberikan serta menyerahkan sepenuhnya penanganan kepada pihak Imigrasi.

Masyarakat Pribumi akan melakukan sweping. Karena, pihak IOM seakan melakukan pembiaran dengan ini dan menutup-nutupi kondisi yang sebenarnya.

Kepala Divisi Imigrasi Kantor Wilayah Kemenkumham Sumut, Yudi mengatakan saat ini ada 2.098 pengungsi yang beradai di Kota Medan. Dari 2098 pengungsi tersebut tersebar di tujuh lokasi pengungsian.

Yudi mengatakan jika masyarakat terasa terganggu dengab tingkah pengungsi silakan melapor ke Kantor Imigrasi. Dengan itu, Yudi berjanji akan melakukan tindakan. “ Kami juga tidak menghendaki pengungsi. Ini bukan masalah imigrasi saja. Ini masalah kita semua,”katanya.

Kata Yudi juga dari 2098 pengungsi, 318 akan diberangkatkan menuju negara tujuan ke tiga yakni Amerika Serikat.

Ketua Komisi A DPRD Medan, Roby Barus yang memimpin rapat saat itu kembali menegaskan kepada IOM untuk membangun satu lokasi penampungan. Sehingga dapat diawasi oleh pihak imigrasi dan Dinsosnaker.

“ Kami minta kepada IOM untuk menyewa satu tempat penampungan. Jangan beepencar-pencar.Selain itu, dapat juga terawasi oleh pihak Imigrasi,”katanya.

Politisi PDI Perjuangan ini pun kembali menilai IOM seakan sebagai agen untuk menampung pengungsi di Kota Medan. Pasalnya, pengawasan di Kota Medan begitu longgar.

“ Jangan-jangan kalian agen dari sana. Karena di sini begitu leluasa. Begitu bebas,”katanya.

Andi Lumbangaol, Wakil Ketua Komisi A pun kembali mengingatkan seluruh pihak agar serisu melakukan penanganan pengungsi tersebut.

“Ini harus diatasi dengan cepat. Jangan sampai masyarakat kita sendiri yang bangga menjadi pengusngi karena mendapat biaya makan dan lainya.Seluruh pihak harus melindungi masyarakat Kota Medan ,”ucapnya seraya mendukung keputusan yang diambil untuk pembangunan selter secara khusus tidak lagi berbaur dengan masyarakat.(R02)

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
SHARE:
beritaTerkait
Pertunjukan Darurat
PC IKA PMII Kota Medan Bersaksi Sahabat Fathan Subchi Adalah Ketua Umum Sah PB IKA PMII Meski PT TUN Kabulkan Banding Slamet Ariyadi
Saat Pembekalan Tim Safari Ramadhan, Wali Kota Solok Ramadhani umumkan PDAM Gratis Masjid, Prioritas BPJS dan infrastruktur.
SATU TAHUN KEPEMIMPINAN WALI KOTA SOLOK RAMADHANI KIRANA PUTRA DAN WAKIL WALI KOTA SURYADI NURDAL*
Kecelakaan Tragis! Bocah 5 Tahun Meninggal Saat Menyeberang Jalan di Dolok, Polres Tapsel Lakukan Olah TKP
Polresta Deli Serdang Gagalkan Peredaran 21 Kilogram Sabu, dua Kurir Diamankan
komentar
beritaTerbaru
Pertunjukan Darurat

Pertunjukan Darurat

Pertunjukan DaruratOleh Dahlan Iskan Minggu 22022026 (Presiden Donald Trump saat konferensi pers di Gedung Putih, Jumat, 20 Februari wakt

News