Kepala OJK Sumut Yusuf Ansori: Hingga April 2022 Sektor Jasa Keuangan di Sumut Stabil

Parapat I Sumut24.CO

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 5 Sumbagut, Yusuf Ansori menjelaskan, berdasarkan pemantauan per April 2022, kondisi sektor jasa keuangan di Sumatera Utara yang terdiri dari 110 entitas Perbankan, 84 entitas Pasar Modal dan 188 entitas IKNB masih dalam kondisi yang stabil dan perlahan kembali bertumbuh.

“Sektor perbankan Sumatera Utara yang terdiri dari 2 bank berkantor pusat, 55 bank berkantor cabang dan 53 BPR/BPRS pada April 2022 terpantau bergerak pulih dengan pertumbuhan yang lebih tinggi dibanding periode pra pandemi Covid-19, “ungkap Yusuf Ansori pada acara Media Gathering Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) 5 Sumatera Bagian Utara, di Hotel Niagara, Parapat, Kamis siang (16/6/2022

“Total aset tercatat sebesar Rp324,33 Triliun dengan pertumbuhan double digit 12,39% yoy. DPK juga dapat bertumbuh double digit sebesar 12,45% yoy menjadi Rp304,18 Triliun. Sementara itu, penyaluran kredit/pembiayaan sudah kembali bertumbuh positif dan relatif tinggi sebesar 6,66%% yoy dengan total penyaluran Rp231,83 Triliun, “ ujar Yusuf Ansori.

Hal yang sama juga terjadi pada stabilitas sistem keuangan nasionl hingga posisi April 2022 sudah memperlihatkan perkembangan yang baik. Sehingga dapat terus berperan besar dalam mendorong pemulihan ekonomi nasional, khususnya pada kinerja intermediasi perbankan yang secara stabil bertumbuh positif.

“Hingga April 2022, total aset bank umum secara nasional dapat bertumbuh sebesar 10,79% secara yoy. Sementara untuk total penyaluran kredit dan penghimpunan DPK bertumbuh masing-masing 8,89% yoy dan 10,11% yoy, dengan rasio LDR sebesar 80,64%. Pertumbuhan tersebut disertai dengan profil risiko yang baik dengan rasio NPL gross 2,97%, ” papar Yusuf Ansori.

Sejak memasuki tahun 2021 lalu, kondisi perekonomian yang bergerak pulih, pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan I tahun 2022 tercatat bertumbuh positif sebesar 5,01%.

“Pertumbuhan ini didorong oleh sektor UMKM yang memiliki share 29,15% dari total kredit dengan pertumbuhan yang sangat baik sebesar 13,71% yoy. Kredit kepada korporasi juga terpantau kembali bertumbuh positif sebesar 1,35% yoy, setelah selama ini bertumbuh negatif sepanjang tahun 2020 dan 2021. Di saat kredit dapat didorong untuk bertumbuh, profil risiko perbankan juga tetap dapat dijaga dengan baik, tercermin dari rasio NPL gross yang turun hingga di bawah 3%, yaitu sebesar 2,50%,” “sambungnya lagi.

Sedangkan perekonomian Sumatera Utara (Sumut) juga telah mengalami pemulihan, hal itu ditandai dengan pertumbuhan PDRB Sumatera Utara yang sebesar 3,90% pada triwulan I 2022.

Secara umum, orang nomor satu di kantor OJK Sumut itu mengatakan, sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan, merupakan salahsatu ujung tombak perekonomian Sumatera Utara. Di masa pandemi, penyaluran kredit terhadap sektor ini mengalami perlambatan hingga bertumbuh negatif.

“Salahsatu sumber perlambatan utamanya adalah kredit komoditas kelapa sawit yang bertumbuh negatif sepanjang tahun pemantauan per April 2022, kredit bank umum kepada sektor pertanian di Sumatera Utara sudah mulai menunjukkan pemulihan dengan pertumbuhan sebesar 7,80% yoy. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh pertumbuhan kredit komoditas utama Sumatera Utara. Kredit perkebunan kelapa sawit sebagai komoditas dengan share terbesar, yaitu 81,26%, akhirnya dapat bertumbuh positif dan relatif baik sebesar 5,59% yoy. Kredit komoditas utama lainnya juga tercatat bertumbuh cukup signifikan seperti padi dengan pertumbuhan 49,24% yoy dan kopi yang bertumbuh 40,88% yoy. Sementara untuk karet bertumbuh 5,01% yoy, “ ujarnya.

Maka dari itu bilangnya lagi, OJK senantiasa terus melakukan upaya untuk meningkatkan akses pembiayaan perbankan kepada para petani. Salahsatunya bersama pemerintah melalui TPAKD Sumatera Utara dengan memperbanyak pembentukan klaster pertanian dengan menciptakan ekosistem di kalangan petani yang mempermudah proses pengajuan, pencairan dan penjaminan kredit, sampai pemasaran produk pertanian. (red-1)