Inovasi para Peneliti PT Hanya Skala Laboratorium

0
932

MEDAN | SUMUT24

Perguruan tinggi (PT) banyak menghasilkan produk unggulan.Sayangnya hasil inovasi para peneliti ini, sebatas labortoium saja. Hal ini terjadi lantaran tak ada dukungan pemerintah daerah dan steakholder untuk mengembangkan hasil inovasi perguruan tinggi tersebut.

“Belum lagi penyesuaian regulasi terhadap produk yang dihasilkan. Terutama terkait dengan sistem bagi untung. Untuk itulah penting dibuat konsorsium agar hasil intelektual ini dapat berguna dan dipergunakan dengan baik tanpa ada pihak yang merasa dirugikan,” tandas Direktur Sistem Inovasi Kemenristekdikti Dr Ir Ophirtus Sumule kepada wartawan usai memberi paparan pada Forum Collaboration & Innovation Network West Regional di salah satu hotel berbintang di Kota Medan, Rabu (27/4).

Collaboration and Innovation Network (Coin) lembaga yang dibentuk Higher Education Leadership and Management (HELM) yang diprakarsai USAID. Dibentuknya lembaga, lebih disebabkan munculnya kegelisahan dari para peneliti yang ada di PT. Kemana mereka akan membawa hasil penelitiannya.

“Padahal inovasi para peneliti tak kalah hebat dari hasil penelitian mereka yang sudah berkecimpung di Industri. Untuk itu dibentuk Coin yang akan mewadahi sekaligus melindungi hasil inovasi para peneliti ini,” sambung Ketua Coin Prof Dr Armin Arsyad MS.

Ditambahkan Sumule, setelah semua masuk dalam konsorsium diharapkan Dirjen Kemenristekdikti dapat menjembatani yang terlibat di dalamnya. “Jadi tidak kerja sendiri-sendiri. Harus ada hasil akhir yang mengikat, tentunya tetap dalam koridor dan niat yang sama membangun Indonesia lebiih sejahtera,” tegas Sumule.

Menurut Sumule hasil inovasi perguruan tinggi sangat banyak tapi tak dirakit. Dan berapa banyak hasil inovasi peneliti PT ini masuk ke pasar. Sumule tak dapat memprediksi berapa persennya. “Inilah yang akan kita jelaskan pada pertemuan Coin selanjutnya, agar hasil penelitian dan pengabdian masyarakat tak tersia-siakan,” pungkas Sumule.

Hadir disitu 27 mitra USAID dari Indonesia barat dan tengah diantaranya Universitas Hasanuddim, Universitas Sebelas Maret, Universitas Negeri Medan dan Universitas Tanjungpura. Pertemuan yang berlangsung dua hari tersebut 27- 28 April 2016 juga menghadirkan pembicara dari Medan Prof dr Syawal Gultom MPd. (R05)