Jumat, 13 Maret 2026

Pendidik WN Asing Wajib Diawasi Ketat, Ombusman : Usut Data Akurat dan Berkelanjutan

Administrator - Jumat, 21 Oktober 2016 08:14 WIB
Pendidik WN Asing Wajib Diawasi Ketat, Ombusman : Usut Data Akurat dan Berkelanjutan

MEDAN|SUMUT24

Baca Juga:

Turut sertanya tenaga kerja asing sebagai tenaga pendidik di dunia pendidikan Indonesia, punya sisi positif dan negatif. Disatu sisi, hal tersebut sangat positif bagi pembelajaran bahasa. Karena, murid dapat belajar langsung bahasa asing seperti yang diajarkanya. Akan tetapi, negara kita adalah negara hukum, perlu untuk menjaga dari sisi keamanannya.

Hal itu dikatakan Ketua Komisi E DPRD Sumut, H Syamsul Qodri Marpaung LC kepada SUMUT24, saat diminta tangapanya soal diperiksanya para tenaga kerja asing yang bekerja di Prime One School oleh pihak Imigrasi, Disnaker Sumut dan juga Polrestabes Medan, Kamis(20/10).

Menurut politisi dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini, tenaga pendidik dari tenaga kerja asing itu, adalah murni sebagai tetnaga pengajar.

“Dalam dunia politik, dan dunia intelijen bisa saja kan adanya mata-mata asing dan kepentingan asing, yang sangat membahayakan negara. Maka untuk itu, siapapun yang bukan warga negara Indonesia, patut mendapat izin tinggal dan izin bekerja sesuai dengan peraturan dan UU yang ada,” terangnya.

Namun, lanjutnya, kita patut mewaspadai pengaruh yang disampaikan guru asing dalam memberikan pelajaran kepada warga kita. Karena, kita tidak tahu, mereka bekerja atau membawa misi yang lain. Karenanya, lanjut Syamsul, semua sekolah di Indonesia harus berada didalam pengawasan.

Meski para tenaga kerja asing yang bekerja sebagai tenaga pendidik di Prime One School mengantongi izin dan tidak menyalahi peraturan di negara kita, Syamsul menghimbau agar tiap guru disana melakukan mengajar silang pada tiap kelasnya.

“Hal ini merupakan salah satu fungsi pengawasan yang dapat dilakukan. Selain itu, hal ini juga untuk memastikan bahwa yang diajarkan oleh pendidik tenaga kerja asing itu, tidak lebih dari pelajaran bahasa saja. Dan dalam memberi pelajaran bahasa itu, tidak dititpkan nilai-nilai yang amoral, dan nilai-nilai yang mendiskreditkan dan menyerempet kepada hal-hal yang negatif,” tandasnya. Ombusman : Usut Data Akurat dan Berkelanjutan Terkait pengerebekan oleh petugas Imigrasi Klas I dan Disnaker Medan terhadap pengajar asing di Prime One School, Kepala Perwakilan Ombusman Sumut Abyadi Siregar kepada SUMUT24, Kamis malam (20/10) menyatakan, apa yang dilakukan tim sudah sangat baik.

“Namun harus ada kelanjutan dan data yang akurat nantinya. Berapa sebenarnya jumlah pengajar asing di Medan ini. Jangan sementang-mentang era MEA, lantas seenaknya masuk tanpa identitas yang jelas. Bagaimana dengan nasib guru kita sendiri,” tegas kata Abyadi Siregar menjawab Sumut24, Kamis (20/10).

Menurut Abyadi Siregar, pengawasan ketat penting dilakukan, agar pekerja-pekerja asing ini tak berserak kemana-mana. Secara administratif penting sebagai data, sementara secara hukum, mudah untuk menindak. “Jika izin tinggalnya sudah habis, pihak Imigrasi harus mengeluarkannya dari NKRI ini. Seperti yang dilakukan pihak Imigrasi Bogor yang langsung memulangkan warga negara asing yang tak punya izin tinggal,” ujarnya.

Disebut, apakah Ombusdman akan menindaklanjuti kerja dari Imigrasi ini, Abyadi menyatakan, pihaknya justru menekankan pada Imigrasi. “Agar pengawasan yang ketat terus dilakukan,” ujarnya, seraya menambahkan pihaknya pernah mendapat laporan orangtua murid perihal guru asing ini.

“Pihak orangtua menyanggupi membayar uang pembangunan Rp 8 juta per tahun, karena dijanjikan anak mereka akan langsung diajari oleh guru asing (Bahasa Inggris). Terakhir pihak sekolah ingkar janji, guru asing yang dijanjikan itu ternyata tak ada.

Sementara orangtua murid telah menyanggupi uang sekolah dinaikkan dari Rp 6 juta jadi Rp 8 juta. Hal-hal seperti inilah yang tak kita inginkan terjadi di dunia pendidikan. Sekolah elite itu menjanjikan siswanya diajar oleh guru asing, namun kenyataannya tak demikian. Atau seperti Prime One School, gurunya asingnya kebanyakan berasal dari Filipina, sementara orangtua siswa lebih suka anaknya diajar oleh orang Eropa atau Amerika.

Sekali lagi hal-hal seperti inilah yang perlu kita jembatani. Orangtua sudah mengeluarkan biaya yang sangat besar, namun kenyataannya tak sesuai dengan yang diharapkan.Kalau seperti ini kemana orangtua siswa mau mengadu,” ujar Abyadi. (W01/R05)

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
SHARE:
beritaTerkait
JAGA MARWAH: Rekonsiliasi Ala Rismon Wujud Fokus Masa Depan Keluarga Paling Utama
Wakil Bupati Asahan Apresiasikan Kodim 0208/As Sebagai Pelopor Panen Raya Padi Gogo
Wali Kota Tanjungbalai Sambut Safari Ramadhan Polda Sumut, Wakapoldasu Ajak Perkuat Silaturahmi
Wali Kota Tanjungbalai: Kolaborasi Pemko dan Baznas di Bulan Ramadhan Distribusikan ZIS kepada Ribuan Mustahik
Sekda Tanjungbalai dan Dandim 0208/AS Ikuti Rakor Nasional Bahas Pemanfaatan Lahan untuk Pembangunan Gerai KDMP
Wakil Wali Kota Tanjungbalai Hadiri Penyaluran Bingkisan Lebaran untuk 300 Anak Yatim
komentar
beritaTerbaru